First Love Never Dies

Sejauh apakah cinta pertama bisa membawa kita?

Sangat jauh, saya rasa. Itu yang saya alami.

Saya ingat, Ayah saya membelikan sebuah buku antologi puisi ketika usia saya belum menginjak lima tahun. Mata Pisau judulnya. Untungnya, saya sudah lancar membaca…, dan jatuh cintalah saya kepada Sapardi Djoko Damono, sang penulis. Kepada puisi-puisinya. Kepada kesederhanaan kata yang dipilihnya.

Sejak itu, mulailah saya mencoba mengeja makna di balik puisi. Terbata-bata.

Saya juga tidak lupa, saya sampai harus memperhatikan baik-baik bayangan saya tiap kali berjalan kaki menuju sekolah, hanya karena Sapardi bilang bahwa ia dan bayang-bayangnya tidak pernah bertengkar siapa yang harus berjalan di depan. Saya pun tidak.

Karena Sapardi pulalah saya mulai berani menangkap dan memenjarakan inspirasi di atas kertas. Padahal, biasanya saya hanya membiarkan mereka menggoda saya. Berlarian di sekeliling saya. Membuat saya sesak. Memang, tak selalu saya berhasil ‘menghukum’ inspirasi yang lewat tanpa permisi. Kadang saya tak bisa menuliskan apa pun, karena seolah-olah semua rasa telah diserap dan dituangkan Sapardi dalam puisi-puisi indahnya. Ia pencuri kata-kata. Pelukis imaji yang ulung.

Saya jatuh cinta kepada Sapardi. Kepada puisi. Di usia lima tahun, saya telah memutuskan untuk mempelajari sastra. Ketika akhirnya saya berada di fakultas sastra, saya tahu, Sang Cinta Pertama saya masih mengajar mata kuliah Puisi di Jurusan Sastra Indonesia. Susah payah saya berusaha mencocokkan jadwal kuliah untuk menjadi mahasiswa pendengar di kelasnya. Sia-sia. Tidak berhasil. Jadwalnya selalu bentrok dengan mata kuliah wajib Jurusan saya.

Pun, ketika beberapa kali berpapasan dengannya, atau sekadar melihat sosoknya melintasi koridor, saya tidak pernah punya nyali untuk mengucapkan salam—apalagi minta tanda tangan dan ‘menyatakan cinta.’ Padahal, buku antologi puisi dan cerpennya selalu setia mendekam di tas saya hingga lusuh, menunggu disentuh Sang Penulis.

Empat tahun di fakultas itu, saya hanya sanggup memandangnya dari jauh, sembari menyimpan deg-degan dan sederet kekaguman dalam-dalam. Bodoh memang. Tapi toh cinta tak ada hubungannya dengan kecerdasan.

Sampai sekarang, tak ada satu puisi pun yang bisa menyentuh saya lebih dari puisi milik Sapardi. Ia inspirasi saya. Teman baik saya melewati malam-malam panjang tanpa terpejam.

Ia telah menuntun saya ke sebuah setapak panjang.

Jadi, kalau ada ungkapan First Love Never Dies, rasanya saya setuju.

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>