Salah Sebut ala Ibu

Ibu sulit menghafal nama. Atau suka salah menyebutkan sesuatu yang agak asing di telinganya. Hal ini terkadang menimbulkan salah paham, yang lebih sering berakhir dengan tawa.

Pernah, saya bertemu seorang teman lama di angkot. Setelah ngobrol-ke-sana-kemari-basa-basi-tanya-kabar, ia bertanya soal kuliah saya. Kebetulan, waktu itu saya baru lulus kuliah. Anehnya, ia mengerutkan kening ketika saya bilang, saya lulusan sastra.

“Kenapa?” tanya saya, agak defensif. Maklum, sebagai anak sastra saya sudah kenyang dengan pandangan-pandangan ‘melecehkan.’

“Kok bisa?” teman saya melanjutkan, “soalnya minggu kemaren gue ketemu nyokap lo, pas gue tanya soal lo, nyokap lo bilang, lo freelance jadi auditor. Waktu itu nyokap lo gak bilang sih, lo kuliah di mana. Tapi, kok bisa anak sastra jadi auditor?”

Saya mati-matian menahan tawa. Berbekal ilmu teater yang tak seberapa, saya pandang teman saya dengan serius, “Lo kali yang salah denger. Gue bukan jadi auditor, tapi editor.”

“Masak sih, gue salah denger?” ia terlihat tak yakin.

“Ya iyalah, masak nyokap gue kagak tau anaknya kerja jadi apa,” imbuh saya lagi.

“Hmm, nyokap lo masih ngajar?” ia membelokkan percakapan.

Hihihi…

Sampai di rumah, inilah yang terjadi:

Saya: Bu, Ibu pernah ketemu Denny ya?

Ibu: Denny siapa?

Saya: Itu, bla..bla..bla…

[Saya harus menjelaskan panjang lebar agar Ibu sukarela me-recall memorinya. Setelah berhasil, saya langsung masuk ke poin]

Saya: Masak, katanya, Ibu bilang ke dia kalo Feba jadi auditor?

Ibu: Loh, emang kamu jadi auditor, kan?

Saya: Bukan auditor, Ibuuu…. Editor. Kan beda.

Ibu: [Setelah berpikir beberapa detik] Oh iya, ya… kalo auditor kan yang meriksa-meriksa catetan uang itu kan?!

[Cekikikan]

Atau beberapa minggu yang lalu, misalnya, ia sudah berusaha membangunkan saya dari jam lima pagi. Kesal karena saya tidak juga bangun sampai jam enam, ia berusaha menarik perhatian saya dengan berita selebritis di salah satu acara gosip yang jam tayangnya menyaingi siraman rohani dan kuliah subuh.

Ibu: [Teriak dari ruang TV] Nduuuk, bangun. Tuh di tipi ada artis yang meninggal.

Saya: [Malas-malasan. Mata masih berat, hasil begadang semalaman. Akhirnya berteriak] Siapa siihhhh??

Bapak: [Tak kalah kencang dari tempatnya melukis] Pagi-pagi jangan pada teriak-teriak.

[Saya cekikikan. Tiba-tiba Ibu sudah muncul di pintu kamar saya.]

Ibu: Yuk, bangun, yuk.

Saya: Siapa sih, Bu, yang meninggal?

Ibu: Ituu, si Olga.. Olga itu.

Saya: Hah, Olga Lydia?

[Heran, masak sih?! Kayaknya saya baru nonton dia di News dot Com dua hari sebelumnya]

Ibu: Bukan, bukan Olga Lydia. Dia mah masih dipenjara.

Saya: Ibuuuu… yang dipenjara itu Lydia Pratiwi, bukan Olga Lydia.

[Setengah tertawa. ‘Penyakit’ Ibu kambuh lagi.]

[Akhirnya, saya harus menyerah. Bukan karena tertarik gosip. Tapi karena harum nasi goreng menggelitik hidung saya. Sempoyongan, saya berjalan ke depan TV.]

TV: Artis muda, Alda Risma meninggal tadi malam di Rumah Sakit….

Saya: [Cekikikan—maaf, Alda!] Ibuuuu…, yang meninggal bukan Olga Lydia, bukan Lydia Pratiwi juga. Tapiii.. Alda Rismaa… yang nyanyi Aku Tak Biasa itu..

Ibu: [Muka polos. Tanpa rasa bersalah] Iya, yang putih, cantik, itu kan?

[Huuh, kalo ngomongin cantik & putih, mah, hampir semua selebritis perempuan ciri-cirinya begitu. Lagian nyasarnya jauh banget. Alda, kok, jadi Olga.]

Ibu: Kasian ya, masih muda gitu.

[Saya cuma ngangguk-ngangguk. Insiden pagi itu bikin saya tambah lapar.]

Ah, Ibu memang unik. Dan unik itu indah, bukan?

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>