Causa Prima Si Sandal Jepit

Pernah nyeker? Saya pernah. Semalam. Gara-gara Rika.

Kemarin sore, tiba-tiba saya berniat mengambil tiket Teater Koma, yang sudah sejak dua hari sebelumnya saya pesan, di TIM. Malas pergi sendiri, saya lalu menelepon si sahabat-sejiwa-teman-seperjuangan-tiap-kali-luntang-lantung-nggak-jelas. The one and only: Rika. Ketika saya telepon, dia sedang beredar di Sawo—saya sendiri sudah siap tempur di stasiun Pasar Minggu. Rika langsung bilang, “Iya deh, gue temenin,” padahal saya belum ngajak dia.

Dari awal, seharusnya saya sudah ‘ngeh kalau perjalanan ini bakal jadi another weird trip—sayang, saya suka lalai memerhatikan tanda-tanda alam. >_<

Rika langsung mengajukan usul bodoh, yang dengan bodoh pula langsung saya setujui. “Gue naek kereta dari kampus, kalo kereta gue nyampe Pasar Minggu, lo naek—trus cari gue di dalem.”

Ada yang lebih bodoh-kah?

Ada: saya, karena menyetujuinya.

Beberapa puluh menit kemudian, Rika telepon lagi.

“Kereta gue udah nyampe Tanjung Barat. Bentar lagi nyampe. Lo naek ya!”

Kali ini, saya pikir semua akan beres. Ide bodoh akan berakhir cemerlang.

Tak lama, kereta datang. Naiklah saya ke dalam, langsung menyisir seisi semestanya. Depan ke belakang. Belakang ke depan. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Empat kali. Cukup. Orang-orang mulai nyadar kalau saya bolak-balik dari tadi. Mungkin mereka menyangka saya kebelet dan lagi nyari toilet. Gawat. Kenapa Rika tak terlihat? Harusnya dia lebih mudah dicari ketimbang toilet KRL.

Ponsel berdering lagi.

“Lo di mana?”

“Yee, elo yang di mana? Gue udah nyari dari tadi. Kok lo nggak ada?”

“Jangan-jangan kereta kita beda?”

Nah, itu yang dari tadi saya pertanyakan.

Ternyata, firasat saya benar. Kereta Rika masih di belakang saya. Tertinggal dua stasiun. Ya, sudahlah…. Kebodohan pertama sudah terjadi. Saya buru-buru duduk, si om berkumis tebal di pojok sudah mulai mengamati saya. Hiiyyy….

 

Itu baru Pendahuluan.

Sampai situ, saya belum nyeker.

Ini kisah nyeker yang sesungguhnya:

Setelah akhirnya ‘bersatu kembali’ dan menertawakan kebodohan tadi—plus mengambil tiket—kami bergegas pulang. Naik kereta lagi. Kali ini berdua, dari stasiun yang sama. Ternyata, berdua di kereta tidak menjamin semuanya bakal lancar.

Sudah jam sembilan lewat. Kereta penuh banget. Sama sekali tak ada jarak. Keluarga ikan yang sedang dalam proses pengasapan, atau kawanan sate yang sedang dipanggang, bahkan berjarak lebih renggang ketimbang penumpang kereta malam itu.

Saking sempitnya, sandal jepit saya terinjak seorang bapak di depan saya. Saya sudah beberapa kali bilang ke bapak itu, “Pak, maaf, kaki saya keinjek.” Tapi tuh bapak cuek aja. Mukanya tetap datar. Bereaksi pun tidak. Entah karena otot wajahnya kram. Atau karena mengidap penyakit bolot stadium akut.

Saya kesal. Akhirnya, dengan sok emosi—padahal saya setengah maklum, mungkin si bapak nggak bisa bergeser di tengah kepadatan telapak kaki—saya tarik kaki saya keras-keras.

Ups.

Kayaknya ada yang salah.

Benar, sandal jepit kiri saya putus dengan sangat sukses.

Rika nggak bisa berhenti cekikikan ketika tahu sandal saya putus sebelah.

Saya mengambil sandal jepit kiri saya. Susah, memang, tapi berhasil. Saya juga bingung, kalau dipikir sekarang, ngapain saya ambil sandal jepit putus itu. (Ah, waktu itu, saya cuma nggak rela aja kalau sandal saya tertinggal di gerbong kereta dan berakhir menyedihkan di suatu tempat di stasiun Bogor.)

Dengan khusuk, di tengah-tengah orang asing di KRL, saya mengamati sandal jepit yang gugur di tengah perjuangan hidup itu (halaahh….). Saya memang mendengar suara cekikikan di sekeliling saya, tapi bodo amat. Belum tentu juga saya yang diketawain. (Belakangan, saya tahu dari Rika, kalau mereka emang ngetawain saya. Kenapa saya nggak ‘ngeh, ya? Bahkan, menurut Rika, ada yang sempet bilang, “Kasian, tuh mbak-nya. Sendalnya mahal banget kali ya, ampe dipegangin gitu.”). Oh…, oh…. Sayangnya, nggak ada yang nanya langsung ke saya. Padahal kalau ada yang nanya, “Buat apa megang-megang sandal, Mbak?” Pasti saya jawab, “Buat nampar, mau coba?”

Singkat cerita, kereta sampai juga di stasiun UI. Masih memegang si Kiri, dan hanya memakai yang kanan, saya ikut berdesakan bersama penumpang yang mau turun. Tepat ketika saya melompat keluar, sandal kanan saya diinjak. Rika pelakunya.

Daannn….

Yaah, apa lagi yang bisa terjadi?! Tebakan Anda benar. Tepat. Seratus persen.

Dengan tak kalah sukses, si Kanan menyusul soulmate-nya: putus.

Si Kiri masih di tangan saya. Si Kanan terkulai di peron. Dan kaki saya telanjang bulat.

Cekikikan Rika pun berubah menjadi ngakak panjang tak berkesudahan. Mirip lolongan warewolf di bawah bulan purnama. Saya duduk di bangku stasiun, menghabiskan beberapa menit ngomel-ngomel nyalahin Rika. Rika nggak mau kalah. Dengan volume sama besar, dia menolak disalahkan. Jadilah kami berisik di dunia, yang kami pikir, milik kami.

Akhirnya, saya mengambil si Kanan. Menjajarkannya dengan si Kiri. Memandangi mereka dengan penuh kasih sayang. Di sebelah saya, Rika masih cekikikan. Nyebelin. Waktu itu, saya baru ‘ngeh kalau ternyata, tak jauh dari tempat kami duduk, kami berbagi dunia dengan seorang lelaki. Dia memperhatikan kami dengan ekspresi campur-aduk: nahan ketawa, kasihan, dan bingung (mungkin dia bingung ngeliat kami yang mirip pendekar siap perang, berbalas teriakan dan siap saling memangsa di peron stasiun yang sudah sepi). Pokoknya, kalau ekspresinya bisa diperas dan dibikin minuman, namanya bakal jadi mix-blended expressino.

Di sela-sela tawanya, Rika sempet-sempetnya bilang, “Kalau mau ketawa, ketawa aja, Mas. Dia udah biasa, kok, diketawain.”

What an effective invitation. Manjur. Si Mas langsung gabung sama Rika, memamerkan giginya yang tak seberapa itu.

Lanjut!

Niat membeli sandal baru langsung padam, warung sudah pada tutup. Oh iya…, saya baru nyadar, sudah hampir jam sepuluh.

Untung, si ide brilian datang.

Saya mengambil si Pasangan Malang, membungkus mereka dengan koran yang belum sempat saya baca, dan memasukkannya ke dalam tas.

Dasar pemikiran saya sederhana: hampir tak ada orang yang mau repot-repot meneliti kaki saya. Jadi kalau saya bersikap wajar, tidak terlihat menenteng sandal putus, mereka pasti nggak bakal melirik ke bawah dan nggak bakal tahu kalau saya nyeker. Masuk akal, kan?

Perjalanan pun dimulai. (Oh, iya…, malam itu saya memang mau nginep di kosan Rika). Warung-warung boleh tutup. Tapi, bagi banyak orang, jam sepuluh masih terlalu dini untuk meninggalkan Sawo dan sekitarnya. Semoga semuanya lancar, harap saya dalam hati.

Percaya atau tidak, ide brilian saya akan jadi sesuatu yang benar-benar brilian—kalau saja Rika tidak mengacaukannya.

Belokan pertama di Sawo, sama sekali tidak ada yang ‘ngeh kalau saya nyeker—bahkan gerombolan cowok yang lagi nongkrong di depan tukang DVD bajakan langganan saya.

Sayang, Rika lalu menemukan ide yang tak kalah brilian untuk mempermalukan saya.

Setelah belokan tadi, semua orang tahu kalau saya nyeker. Pasalnya, tiap kali berpapasan dengan makhluk apa pun, dia langsung ngoceh, “Lihat, deh, Mbak/Mas/Dik/Bang…, ada yang nyeker dari stasiun!”

Pernahkah saya bilang bahwa Rika sahabat saya? Kalau pernah, lupakan saja! Saya yakin, kalau waktu itu kami berpapasan dengan Pocong atau Kuntilanak, dia nggak bakal takut—dan bakal tetep bilang, “Mbak Kunti/Mas Pocong, lihat deh, dia nyeker loohh!”

Entah sudah berapa orang ikut cekikikan dan menikmati penderitaan saya. Sampai di Margonda, oh…, no! (biar dramatis gituh!) Masih rame banget! Celinguk kanan-kiri, warung-warung di situ juga sudah tutup. Tabahlah, Nak…, tinggal setengah perjuangan lagi.

Untung, Rika sudah nggak mempromosikan ‘ke-nyeker-an’ saya. Menyeberanglah kami. Di seberang, ada seseorang yang saya kenal. Dia menyapa, dan Rika beraksi kembali.

Si Kenalan: Dari mana, Fe?

Saya: Dari stasiun.

Nenek Sihir Bernama Rika: Iya, nyeker lagi!

Mata teman saya itu langsung menghujam sepasang kaki telanjang saya.

“Kok bisa?” tanyanya.

“Daaaggg, sampai ketemuuuu….” saya langsung ngeloyor. Masak saya harus curhat soal tragedi-sandal-jepit saya, sih?!

Sepanjang Kober—ini nama jalan menuju kos Rika—saya tak peduli lagi. Rika masih cekikikan dan mengabarkan pada dunia kalau saya nyeker. Tapi saya sudah keburu larut dalam kenikmatan dan sensasi unik di telapak kaki saya.

Si Mas penjaga warnet langganan kami sempat bertanya, “Kok nyeker?”

“Iya, Mas…. Lagi refleksi,” jawab saya pendek.

“Biasa, Mas…. Terapi…, buat orang sakit jiwa,” sambung Rika.

Sampai di kamar Rika, saya kembali bersemangat menyalahkannya, “Lo sih, ngajak naek kereta. Nginjek kaki gue lagi!”

Rika, seperti biasa, masih tak mau kalah dan langsung menggelar kuliah panjang. “Pe, [sic!] segalanya tuh harus dicari Causa Prima-nya. Nah, Causa Prima dari semua ini adalah: lo ngajak gue ke TIM. Kalo lo nggak ngajak gue, mungkin lo nggak bakal pulang naek kereta. Dan gue nggak bakal nginjek sandal jepit butut lo.”

Terserahlah.

Sekarang, yang pasti, saya jadi tahu kalau aspal di Kober lebih hangat ketimbang di Margonda. Dan bebatuan di gang kosan Rika jauh lebih tajam daripada kerikil Sawo.

***

Ah….

Mungkin, kali ini Semesta hanya ingin saya menikmati tekstur hidup lewat telapak kaki saya. Menikmati bebatuan tajam dan halusnya aspal. Mungkin Semesta sedang meminta saya untuk belajar memilih setapak yang harus saya lalui. Berhati-hati. Agar tidak terluka, dan menangis—atau meringis—di tengah perjalanan. Lalu bersyukur. Karena, toh, hidup yang saya jalani rasanya tidak setajam yang harus dihadapi sandal jepit saya.

***

Epilog:
Sebelum tidur, Rika bilang, “We will remember this.”—teteeuup sambil cekikikan. Yes, Rika. That’s why I write it down—so that this moment stays forever.

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>