Mind the Brand, You Brand Minded!

(Peringatan: Saya hanya ingin meracau, jadi jangan berharap menemukan esai cerdas tentang kapitalisme di tulisan ini) ^_^

barang palsu? ^_^

 

Di Indonesia banyak banget barang palsu dijual. Semua orang juga tahu. Tapi, pernah nggak, merhatiin barang-barang tiruan itu? Ada yang dibuat benar-benar mirip aslinya, biasanya sih disebut ‘second best’–halah, tiruan mah, tiruan aja. ^_^ Ada juga yang memang cuma dimirip-miripin. Bukan cuma barangnya, tapi juga merk-nya.

Saya pernah melihat tas dengan merk Esprite (tiruan Esprit yang kelebihan ‘e’), lalu Channel—dengan dua ‘n.’ (Kalau tidak salah sih, merk Chanel-nya Coco Chanel cuma pakai satu ‘n’). Terakhir, di toko tas dekat rumah saya, ada yang merk-nya Kliping (bener loh, tiruan Kipling ya, kalau tidak salah). Saya sendiri punya jeans bermerk Vogve—dengan huruf ‘v’ kedua dibuat mirip ‘u’ (jadi, kalau dari jauh kelihatan seperti Vogue). ‘Kreatif’ banget. Saya baru menyadarinya ketika ada seorang teman yang bilang, “Tumben lo mau buang-buang uang buat beli merk.” Hihihi… ^_^

vogve–nggak jauh beda sama Vogue! (tulisannya!)

 

Ada juga penjual makanan yang ‘menyamarkan’ produknya. Di dekat rumah saya, ada home industry yang memproduksi donat dengan merk Don King Donuts. Hihihi.. mungkin sebentar lagi bakal ada yang merk-nya Je.Co. ^_^ Di daerah Puncak—pasti pada tahu deh, pasti ke sana kan, tiap inisiasi?!—di sebelah kiri, kalau nggak salah pas keluar tol Ciawi (benarkah?!), ada penjual ayam goreng kakilima mengusung nama KFC—Kentucku Fried Chiken. Gerobaknya pun mirip KFC, bergaris merahputih. Entah Kentucku ada artinya, atau hanya plesetan tanpa maksud.

Tadinya, saya berencana untuk mengikuti tren ini, suatu hari nanti. Rencananya sih, saya mau bikin fastfood dengan nama Mang Donald. Lengkap dengan badut bernama Ronal (tanpa ‘d’). Dipikir-pikir lagi, kalo badut mah kurang mantep, pake ondel-ondel aja kali ya!? Biar lebih mirip saya. (loh?!) hehehe….

Akhirnya, niat tadi terpaksa saya batalkan. Mengingat fastfood yang mematikan. Juga pecel dan gado-gado yang makin terlupakan. Walaupun begitu, saya tetap tidak mengizinkan ide Mang Donald saya dipakai sembarangan. Awas, saya akan benar-benar bikin copyright untuk ide ini. Setidaknya, jika suatu hari nanti saya menemukan restoran dengan nama itu, saya tahu bahwa si pemilik mencuri ide saya. Huh, nggak kreatif! ^_^

 

 

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>