Opium yang Tak Kunjung Nyata

Pasti datangkah semua yang ditunggu?

Detik-detik berjajar pada mistar yang panjang….

(Buat Ning—Sapardi Djoko Damono)

 

Beberapa mimpi lahir tanpa pernah terwujud. Saya percaya itu. Beberapa mimpi kita ciptakan, hanya untuk jadi mimpi. Bukan kenyataan.

Buat saya, Sapardi—ingat cinta pertama saya?—adalah salah satunya. Betapapun saya punya kesempatan untuk menyapanya, ‘menyentuhnya,’ mengenalnya—dengan cara atau alasan apa pun yang bisa saya cari-cari—toh, tetap saja saya tidak melakukannya. Saya cuma diam. Jalan di tempat. Membiarkannya, mengutip perkataan Iwied, tetap terlihat utuh dari jauh—walaupun saya selalu berkata, saya ingin sekali menguliti dan menyusun kepingan-kepingan nyata dirinya.

Teater Koma adalah kasus yang sama. Sungguh mati, saya memuja Pasangan Riantiarno. Nano yang genius dan Ratna yang loyal. Seumur hidup saya berjanji, saya akan bergabung dengan Teater Koma. Jadi apalah. Kalau saya tidak cukup bagus jadi pemain, dan pastinya tak mampu jadi penyanyi di pementasan-pementasannya, saya rela ngurusin apa pun. Konsumsi, kek (saya janji nggak bakal ngabisin makanannya, seperti yang biasa saya lakukan ^_^). Publikasi, kek. Dokumentasi, kek. Apalah.

Teater Koma telah saya jajarkan di barisan mimpi, tepat di sebelah Sapardi.

Nyatanya, sampai sekarang, tak sekali pun saya berstatus anggota. Meskipun saya hafal betul letak rumah Riantiarno, jadwal mereka latihan, sampai sejarah terbentuknya Teater Koma. Gaya sih, boleh, sok-sok serius mau gabung. Segala nanya-nanya Wem, teman saya yang anggota beneran, soal segala macem. Tapi alasan tak kalah banyak, sibuklah, jadwalnya nggak cocoklah, inilah-itulah. Ahh….

Saya jadi teringat kisah Alkemis-nya Paulo Coelho.

Si bocah sedang dalam perjalanan mewujudkan mimpinya, pergi ke Piramida, ketika ia bertemu seorang pedagang kristal. Sejenak si bocah singgah di kota itu, bekerja untuk sang pedagang—mengumpulkan uang untuk membeli domba dan kembali melanjutkan perjalanan.

Si bocah bercerita pada sang pedagang tentang mimpinya, lelaki itu pun lalu memberitahu si bocah: ia juga punya impian. Pergi ke Mekah dan melaksanakan ibadah Haji. Si bocah bingung dan bertanya,

Kok Bapak tidak pergi ke Mekah sekarang?

Ia bertanya karena tahu, sang pedagang punya cukup uang untuk mewujudkan mimpinya. Dan jawaban sang pedagang sempat jadi perdebatan dalam diri saya:

Justru pikiran tentang Mekah-lah yang membuatku terus hidup. Itulah yang membuatku tetap kuat menghadapi hari-hari kosong ini; yang membuatku tahan menghadapi kristal-kristal bisu di rak, dan sanggup makan siang dan makan malam di warung jelek yang itu-itu juga. Aku takut bila impianku terwujud, aku tak punya alasan lagi untuk melanjutkan hidup.
Sang pedagang menolak mewujudkan mimpinya, karena ia hidup hanya untuk bermimpi, dan bukan untuk mewujudkan mimpi itu. Memiliki impian sudah cukup untuknya. Bahkan, hanya itu yang diperlukannya untuk melanjutkan hidup.

Benarkah? Benarkah impian bisa jadi hanya sekedar opium untuk mengebaskan realitas? Hanya jadi pelarian tak nyata, dan tumpuan maya, di tengah rutinitas membosankan? Opium. Pelarian. Utopia. Tak perlu jadi nyata. Hanya sebatas itu? Akankah kita kehilangan tujuan hidup ketika impian telah tercapai?

Entah. Toh, nyatanya, saya tak berbeda dengan sang penjual kristal. Mungkin saya akan tetap menempatkan Sapardi dan Teater Koma di kotak impian saya. Tanpa pernah mencoba mengeluarkan mereka dan menjadikan mereka bagian nyata dari hidup saya.

Mungkin sang penjual kristal benar, impian tentang Sapardi dan Teater Koma-lah yang membuat saya tahan menghadapi rutinitas membosankan, membuat saya merasa punya sesuatu untuk ditunggu—punya alasan untuk merasa hidup. Hanya dengan bermimpi. Tanpa harus mewujudkannya. Mereka-lah opium saya.

Beberapa mimpi dilahirkan tanpa harus diwujudkan. Akhirnya, saya harus percaya itu.

 

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>