Ipul, Begitu Nama Panggilannya

Ipul, begitu nama panggilannya. Ia salah satu lelaki dalam hidup saya. Seorang sahabat baik. Saya mengenalnya tujuh tahun lalu. Waktu itu, kami sekelas di Interstudi. Jujur saja, saya tidak terlalu memperhatikannya kala itu. Habis, ganteng juga nggak. Pintar apalagi. Tiga kata untuk menggambarkan kesan pertama saya: gondrong, hitam, tengil. Hehehe….

Saya ingat, ia duduk di belakang saya. Hampir setiap waktu. Saya, yang demen ngobrol, memang kadang membalikkan badan untuk sekedar bercakap-cakap dengan teman-teman yang duduk di belakang saya, termasuk si Ipul. Belakangan, ia sering bilang, “Ba, lo dulu naksir gue ya? Lo kan sukanya balik ama nengok-nengok ke belakang mulu!” Huahahaha…, naksir? Sori ya, Pul. Nama lo aja gue dulu nggak inget. =D

Kami mulai akrab pada awal puasa tahun 2000 (saya sudah lupa bulan apa itu). Gara-garanya, kelas kami ngadain buka bersama di Jalan Jaksa. Pulangnya, sekitar jam 9 malam, saya berjalan ke arah Sarinah bersama Ipul dan Wida (oh, Wida…, di mana engkau sekarang?). Ipul lalu mengajak saya pulang bareng.

“Rumah lo di mana, Ba?”

(Ia satu di antara sedikit orang yang menyingkat nama saya dengan suku kata terakhir).

“Deket TMII.”

“Bareng aja ama gue. Gue pulang ke Bekasi.”

“Boleh.”

“Tapi motor gue, gue tinggalin di Sahid. Kita harus ke sana dulu.”

Pantes ngajak bareng! *merengut-mode: on* >_<

Jadilah ia mengantar saya. Malam itu, saya rasa, persahabatan kami dimulai. Ia bercerita banyak tentang dirinya. Tentang impiannya jadi dokter, pacarnya yang sangat dicintainya (inget gak, Pul? Huakakakak). Dan, saya, seperti biasa, menanggapi kisahnya a la psikiater menangani pasien. =D

Beberapa hari kemudian, kami sudah seperti amplop dan perangko, bantal dan guling, foto dan bingkai, kertas dan pena: susah dipisah. Apalagi, beberapa minggu setelahnya, saya les di lembaga bimbel yang sama dengannya. Jadi, kurang lebih, beginilah keseharian kami selama hampir setahun: pagi-pagi kami sudah bertemu di tempat les, walau nggak sekelas—saya IPS, ia IPA. Lalu siangnya, kami bersama-sama ke Interstudi, kali ini sekelas. Ia pasti duduk di sebelah, atau di belakang, atau di depan saya (yang ini khusus kalau dosennya Bindiya, India cantik favorit Ipul). Selesai kuliah, kalau teman-teman ngajak main, kami akan ikut. Kalau tidak, ya pulang, atau main berdua saja. Yang pasti, ia bakal nganterin saya sampai di depan pintu pagar.

Kadang-kadang, biar saya gampang dapet izin main, saya bilang ke Ibu, “Perginya bareng Ipul.” Kalau sudah begitu, Ibu biasanya mengizinkan. Pernah, beberapa kali, Ipul menelepon ke rumah ketika saya sedang pergi. Beginilah kira-kira percakapan yang terjadi:

Ipul : Feba-nya ada, Bu?

Ibu : Loh, pergi. Tadi katanya bareng kamu?

Ipul : Hmm, iya sih, ini ditungguin belon dateng-dateng.

Hahahaha. Abis itu, Ipul pasti menelepon saya, ngomel-ngomel, “Lo kalo jual nama gue kira-kira aja dong, kagak bilang-bilang lagi! Dasar Kepala Batu!” Hehehe….

Waktu itu saya masih jomblo, dan susah dapet pacar. Saya rasa, gebetan saya mengira saya pacaran sama Ipul. Parahnya lagi, kayaknya Ipul seneng saya nggak laku-laku.

Bahkan, waktu kumpul-kumpul, ketika ada kesempatan, saya sudah sengaja ngomong keras-keras di tengah anak-anak (gebetan saya ada di situ), “Iya nih, sialan lo, Pul. Gue nggak laku-laku gara-gara disangkain pacaran ama elo.”

Dan tahukah Anda, apa jawaban Ipul? Ia cuma bilang, “Emang kita nggak pacaran, Ba?” Ipul kampreeeettttt. Sampai di situlah riwayat gebetan saya. Harapan telah musnah. Pintu sudah tertutup. Cinta sudah mati sebelum tumbuh. Semua gara-gara Ipul. *dendam-mode: on*

Nggak. Ipul nggak naksir saya, walaupun ia kayaknya seneng saya jomblo. Ia melakukan itu atas nama kejahilan. Sama seperti ketika saya mengganggu aktivitas flirting-nya. Dulu, ada anak pindahan di kelas kami. Cantik. Namanya Bambi, kalau tak salah (kayak nama kijang ya!?). Ipul hobi banget tebar pesona. Bambi juga sepertinya menikmati ditebar pesona oleh Ipul. Dan, saya langsung bertindak. Ketika mereka sedang asyik saling menebar pesona, saya langsung jadi orang ketiga.

“Sayang, aku duduk di sini ya?” saya mengambil tempat di samping Ipul. Ipul melotot. Kening Bambi yang mulus berkerut. Saya memasang tampang polos.

“Eh, ini siapa?” saya menunjuk Bambi.

“Gue Bambi,” ia menyodorkan tangan.

“Oh, gue Feba. Calon istrinya Ipul,” saya menyambut tangannya.

“Ba…,” Ipul berusaha menyela. Saya keburu memotongnya.

“Sayang, pindah ke depan, yuk. Aku nggak keliatan nih, kalau duduk di sini.” Langsung saya ambil tasnya dan saya tarik tangannya.

Sampai di depan, Ipul misuh-misuh. Entah Bambi ‘ngeh atau nggak Ipul ngomel-ngomel. Yang pasti, mulai saat itu, ia nggak pernah deket-deket Ipul. Hehehe….

*balasdendamterlaksana*

Ipul memang doyan tebar pesona, padahal waktu itu ia punya pacar. Saya kenal pacarnya, kami sempat beberapa kali jalan bareng tanpa Ipul. Ipul bahkan pernah mengajak saya ke rumah pacarnya (Ia bilang sama ibu pacarnya, saya ini adiknya. Hehehe….). Ipul bilang, pacarnya kadang cemburu sama saya. Saya tahu kok, saya juga pasti akan cemburu kalau jadi dia. Untungnya, saya tahu banget (waktu itu) Ipul cinta mati sama si pacar. Kadang-kadang saya menelepon pacarnya itu, menceritakan beberapa curhatan Ipul, pokoknya bagian-bagian yang intinya “Oh, Feba…, gue cinta banget ama dia. Pokoknya, ntar kalo gue nikah ama dia, lo yang jadi panitianya ya.” Sip. =D

Bodohnya, beberapa waktu kemudian, Ipul malah kepincut sama teman saya. Terkutuklah saya yang mengenalkan mereka. Seumur hidup, saya tak pernah merestui hubungan mereka. Karena saya tahu Ipul punya pacar. Karena saya tahu pacarnya sangat mencintainya. Karena saya juga tahu, teman saya tak pernah benar-benar menyayanginya. Ipul bodoh!

Pernah, ketika lulus UMPTN (kami berdua lulus, hari itu, dunia rasanya ada di genggaman kami), kami memutuskan untuk merayakannya. Pergilah kami makan-makan dan nonton. Adalah The Heartbreakers yang kami pilih sebagai film kedua. (Waktu itu kami nonton dua film sekaligus, berurutan. Saya lupa film apa yang kami tonton pertama). Lima menit di depan Jennifer Love Hewitt, ponsel Ipul berbunyi.

“Halo—-hmmm———-lagi ama Feba———nonton—-ooh, kenapa?—–hmmm—–nggak kok, nggak papa—-hmmm—-iya, iya, gampang—–hmmm—–nggak, nggak papa—-ntar telepon lagi deh—iya, sebentar ya—–iya, daaggg.”

Perasaan saya langsung nggak enak. Benar saja, Ipul nyolek saya.

“Ba….”

“Hmm?”

“Kalau kita keluar gimana?”

“Keluar ke mana? Filmnya kan baru mulai!” Nada saya langsung tinggi. Saya tahu persis apa yang terjadi.

“Ya, Ba…, ya?”

“Nggak.”

“Gue janji, gue ganti deh. Besok kita nonton lagi. Lo pilih deh, mau nonton apa, di mana. Ya?”

“Kenapa sih, emangnya?”

“Itu —namadisensor— telepon gue barusan. Minta anterin ke rumah temennya.”

Persis seperti dugaan saya.

“Dia di mana?”

“Di rumahnya.”

“Jadi, dia minta lo jemput ke rumahnya, trus nganterin ke rumah temennya di Negeri Antah Berantah, trus lo harus nganterin dia pulang lagi. Gitu?”

“Iya, nggak papa ya, Ba?”

“Nggak! Gila lo, kita di Kelapa Gading, rumahnya tuh deket rumah gue—satu setengah jam dari sini. Lo gila apa?! Pake otak dong! Kalo lo mau ke sana, lo pergi aja sendiri. Gue bisa pulang sendiri.”

Adegan mulai mirip sinetron. >_<

“Mana bisa gue tinggalin lo sendiri di sini. Emang lo tau jalan pulang?”

“Ya, enggaklah!”

Akhirnya, tanpa hati (bukan setengah hati lagi), saya duduk juga di jok belakang motornya. Daripada harus pulang sendiri juga. Males banget. Sudah malam pula. Sepanjang jalan, saya mengomel. Tentang betapa bodohnya ia, betapa perempuan itu hanya memanfaatkan kebodohannya. Betapa ia tahu hal itu dan tidak mempedulikannya. Saya tidak rela. Saya benar-benar tidak rela sahabat saya dipermainkan seenaknya. Sayangnya, cinta memang buta. Dan Ipul sudah kena katarak mata.

Setelah menurunkan saya di jalan (bayangkan, saya sampai diturunkan begitu saja!), ia berbelok ke arah rumah perempuan itu. Saya marah besar. Kemarahan yang hanya bertahan tiga jam. (Tengah) malamnya, ia menelepon saya.

“Heh, Jagoan…, nyampe rumah juga lo.”

“Siapa sih, ini?” saya pura-pura tak mengenal suaranya.

“Weitss…, masak lo ampe lupa ama Pangeran Ksatria yang ganteng ini.”

Kalau dia sudah narsis begitu, saya sulit menahan tawa.

Ia lalu melanjutkan, “Aah, jangan batu gitu, Ba. Kalo lo nggak ridho, gue nggak tenang nih….”

Halaaah, dia pikir saya ibunya apa!? Sampai sekarang juga saya nggak ridho. Untung, nggak terlalu lama kemudian, mereka putus. Saya sampai sujud syukur dengernya. Hehehe, nggak segitunya sih!

Lalu, apa yang terjadi dengan pacar terdahulunya? Mereka juga putus. Si pacar malah sekarang sudah menikah dengan orang lain. Ipul sangat menyesal. Saya tahu pasti, sampai sekarang ia masih sayang mantannya itu. Beberapa bulan lalu Ipul cerita:

“Iya, Ba…. —namajugadisensor— udah nikah kemarin. Padahal dulu gue udah bilang ama dia, ‘Kalo lo nikah, nggak usah bilang-bilang gue. Nggak usah undang gue.’”

“Trus?”

“Gue nggak diundang, Ba. Tapi dia ngundang kakak gue. Kan sama aja jatohnya.”

Saya ngakak, “Trus lo nggak dateng?”

“Lo yang bener aja, Ba. Bisa pingsan gue di sana.”

Ngakak saya tambah kencang. Sukurin.

Kami ‘berpisah’ di pertengahan 2001. Setelah diploma Interstudi kami selesai—kami wisuda bareng!—saya masuk sastra UI, ia masuk kedokteran UPN. UNILA yang berhasil diraihnya lewat UMPTN, dilepaskannya. Tak ada yang bisa membuatnya mengurungkan niat menjadi dokter. Ia telah menunggu tiga tahun, bukan waktu yang singkat, untuk kuliah kedokteran.

Dipisahkan oleh dunia yang berbeda, kami tidak pernah saling melupakan. Ia selalu menelepon saya kalau ada apa-apa. Saya pernah beberapa kali mengunjungi kosannya. Kami terkadang masih jalan bareng.

Sekarang, jika diminta bercerita tentangnya, saya akan sanggup berbicara berjam-jam tanpa henti. Ipul adalah satu-satunya laki-laki yang tak pernah malu menangis di depan saya. Ia tak pernah malu menceritakan apa pun tentang hidupnya, keluarganya, kegalauannya, aibnya, obsesinya. Ah, betapa saya rindu kebersamaan kami.

Saya rindu sahabat saya itu. Ipul yang playboy tapi cengeng. Ipul yang menjuluki saya Si Kepala Batu. Ipul yang narsis, tengil, konyol. Ipul yang tiba-tiba jadi puitis dan suka bikin puisi kalau sedang patah hati. Ipul yang doyan nonton film India (kesukaannya Kuch Kuch Hottahai). Ipul yang juga vokalis band. Ipul yang suka ngajarin saya nyanyi di atas motor yang melaju lumayan kencang (coba bayangin, mana kedengeran suaranya di antara deru jalan raya?). Ipul yang bikin saya hafal jalan. Ipul yang selalu ngatain saya perempuan jorok (hanya karena saya nggak pernah bawa saputangan atau tisu). Ipul yang penuh mimpi (mengingatkan saya akan diri sendiri). Ipul selalu mencari saya ketika bermasalah (yang ini diakuinya sendiri). Ipul yang sekarang hampir jadi dokter. Ipul yang sangat saya sayangi, yang sudah saya anggap sebagai Abang. Ipul yang berzodiak sama dengan saya. Ipul yang hari ini berulang tahun.

Ah, Ipul, selamat ulangtahun…

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>