Sadako yang Pemalu

Punya pacar bule?
Saya tidak.
Alasan pertama, memang tak pernah terpikir buat cari pacar bule.
Alasan kedua, saya sudah terlanjur kecantol sama sang pacar yang peranakan lokal.

Teman-teman saya banyak yang punya pacar dan menikah dengan bule. Maklumlah, cinta kan bisa menyambar di mana pun, pada siapa pun, dan dengan media apa pun. Persis Rexona. Satu hal yang saya amati dari pasangan-pasangan antarbenua ini, ada sebuah kesulitan yang sebenarnya gampang-gampang susah untuk disiasati: relativitas budaya. Continue reading

Filosofi Cinta Sugeng: Pacaran Gaya Gitar

Di tengah patah hati Ipul dan kenarsisan Rika, wiken ini saya bertemu dengan sahabat saya satu lagi: Sugeng.

Saya memang belum pernah cerita tentangnya di sini–soalnya, ia memang suka ‘datang-dan-pergi-seenaknya.’ Kadang, bisa tiap wiken saya bertemu dengannya. Kali lain, bisa berbulan-bulan saya tak dengar kabarnya.
Seperti kemarin.
Tiba-tiba saja, ia muncul di rumah saya. Setelah kurang lebih tiga bulan menghilang. Continue reading

Diana Pungky di Delapan Maret Dua Ribu Tujuh

Saya ingat,
Delapan Maret Dua Ribu Tujuh.
Badan saya pegal-pegal. Lelah sekali.
Berdua dengan adik saya, tidur-tiduran di depan TV, saya memainkan remote.
Pencet sana-pencet sini.
Adik saya marah-marah, “Itu remote, bukan stick PS.”
(Huh, kalau ini stick PS, pasti dia yang sudah mencet-mencet dari tadi. Saya alergi sama mainan begituan.) Hehehe….Delapan Maret Dua Ribu Tujuh.
Akhirnya kami terdampar di Trans 7.
Kebetulan, di TV saya, channel-nya beralamat di nomor tujuh.
(Kenapa semuanya tujuh, pertandakah ini?)

Tukul sedang beraksi. Empat Mata.
Baru hendak memindahkan channel, laptop-nya Tukul bertanya pada si bintang tamu, Diana Pungky.
“Apa, sih, yang membuat kamu bangga menjadi seorang wanita?” kira-kira begitu pertanyaannya.
Saya spontan melarang jari saya memencet tombol remote.
Khusuk menunggu jawaban si jin seksi. Continue reading