Diana Pungky di Delapan Maret Dua Ribu Tujuh

Saya ingat,
Delapan Maret Dua Ribu Tujuh.
Badan saya pegal-pegal. Lelah sekali.
Berdua dengan adik saya, tidur-tiduran di depan TV, saya memainkan remote.
Pencet sana-pencet sini.
Adik saya marah-marah, “Itu remote, bukan stick PS.”
(Huh, kalau ini stick PS, pasti dia yang sudah mencet-mencet dari tadi. Saya alergi sama mainan begituan.) Hehehe….Delapan Maret Dua Ribu Tujuh.
Akhirnya kami terdampar di Trans 7.
Kebetulan, di TV saya, channel-nya beralamat di nomor tujuh.
(Kenapa semuanya tujuh, pertandakah ini?)

Tukul sedang beraksi. Empat Mata.
Baru hendak memindahkan channel, laptop-nya Tukul bertanya pada si bintang tamu, Diana Pungky.
“Apa, sih, yang membuat kamu bangga menjadi seorang wanita?” kira-kira begitu pertanyaannya.
Saya spontan melarang jari saya memencet tombol remote.
Khusuk menunggu jawaban si jin seksi.
“Bisa pakai makeup, rok mini, high heels,” dengan mantap dan lancar, suara manja Diana Pungky mengayun.
“Terus apa lagi?” si Pembawa Acara masih menunggu lanjutannya.
“Yaaa…, itu aja, sih.”
Seperti biasa, Tukul lalu menggoda si bintang tamu.

Delapan Maret Dua Ribu Tujuh.
Hari Perempuan Sedunia.
Diana Pungky menjawab, dan saya mendadak ingin menangis.
(Kali ini bukan karena sedih atau terharu, tapi marah sampai ke ubun-ubun).

Ironis.
Si cantik itu meletakkan eksistensinya di atas makeup, rok mini, high heels, dan mungkin sejuta kedangkalan lain yang tak disebutkannya (seperti perut rata, dada besar, paha tanpa stretchmarks, dan obat pemutih kulit, Tull Jye, yang diiklankannya itu).
Saya sadar, ia bukan satu-satunya. Dan ini bukan kasus baru dalam hidup. Saya juga tidak menyalahkannya karena cantik dan bangga dengan hal itu. Apalagi berniat menuntutnya karena “Trimurti” hidupnya adalah makeup-mini skirt-high heels. Tidak sama sekali. Hanya saja, saya kecewa. Bukankah ia punya banyak hal lain yang bisa digalinya–sekadar membuat hidupnya lebih berguna untuk dirinya sendiri?
Apalah.
Asal jangan “segitiga suci” yang disebutnya itu.

Ah, Diana Pungky…, bagaimana dengan si mbak kernet bus Patas AC 48 yang saya temui kemarin malam? Ia tak punya kesempatan ber-makeup, memakai rok mini, atau high heels, dalam kesehariannya. Kalau begitu, tak pantaskah ia bangga menjadi perempuan, Diana? Benarkah keringat dan tubuh lelahnya tak berhak mendapatkan sedikit apresiasi, hanya karena wajahnya tanpa touch-up dan rambutnya tak kenal hair-dryer?

Ah…, Diana Pungky. Walau engkau bukan satu-satunya, tetap saja aku benar-benar berharap: Semoga di luar sana, tak banyak perempuan sepertimu.

Sungguh, saya marah.
Baru kali ini Diana Pungky bisa membuat saya ingin menangis.

Mbak kernet bus 48–sungguh sulit menangkap kelebatnya dengan sempurna di malam berangin itu.

 

PS: Waktu saya ceritain soal kebanggaan-Diana-Pungky-sebagai-perempuan ke Rika, ia cuma bilang, “Yaelah…, kalo cuma itu doang mah Bencong juga bisa pake.”

Iya ya, siapa tahu Diana Pungky bukan perempuan.

 

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>