Filosofi Cinta Sugeng: Pacaran Gaya Gitar

Di tengah patah hati Ipul dan kenarsisan Rika, wiken ini saya bertemu dengan sahabat saya satu lagi: Sugeng.

Saya memang belum pernah cerita tentangnya di sini–soalnya, ia memang suka ‘datang-dan-pergi-seenaknya.’ Kadang, bisa tiap wiken saya bertemu dengannya. Kali lain, bisa berbulan-bulan saya tak dengar kabarnya.
Seperti kemarin.
Tiba-tiba saja, ia muncul di rumah saya. Setelah kurang lebih tiga bulan menghilang.

Persahabatan saya dengan Sugeng memang agak beda dengan yang lain. Bisa dibilang, kami menjalani semacam love-and-hate relationship. Saya sudah mengenalnya sejak kelas empat SD. Dan resmilah ia jadi musuh saya. Benar-benar musuh. Ia adalah orang yang saya kejar-kejar sampai kehabisan napas tiap jam istirahat. ‘Sasaran tembak’ utama. Saya hobi sekali menonjok atau menendang ‘daerah rawan’-nya. Ia sampai pernah bilang, kalau nantinya ia mandul, itu adalah kesalahan saya. Hehehe….

Dari SD sampai SMA, kami satu sekolah. (Lumayan) sering sekelas pula. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya. Kayak kucing sama anjing. (Saya kucingnya, ya! Hehehe….). Kayak Tom dan Jerry. Rasanya, semua orang tahu kalau saya musuhan sekaligus temenan sama Sugeng.

Waktu kami SD, di samping sekolah tumbuh semacam perdu berbiji. Bijinya berbulu, jadi bisa menempel di baju atau rambut. Entah apa namanya, saya tidak pernah tahu. Nah, si Sugeng ini doyan banget ngumpulin bebijian berbulu ini. Setelah itu, ia akan melemparkan biji-biji itu ke rambut (hampir) semua orang. Saya, tentu saja, adalah korban utamanya. Sialnya, rambut saya yang ikal dan tebal ini jadi tempat yang sangat tepat untuk mendaratkan biji-biji itu. Sekalinya nempel, susaaahhh diambil. Kadang, baru dua hari kemudian tuh biji ditemukan di sela helaian rambut. =’((

Waktu SD, ia satu-satunya manusia yang menyambut saya di sekolah dengan kalimat, “Gila, Ba…. Ngapain lo bawa-bawa sarang tawon di kepala??” (Dulu, rambut saya memang besar sekali. Mengembang mati-matian. Menonjol. Seakan ingin selalu menunjukkan eksistensinya sebagai bagian tubuh saya.).

Ketika kami main kasti, ia pasti akan selalu mengarahkan bola ke saya. Targetnya waktu itu bukan memenangkan pertandingan, tapi menggebok (ini bahasa khas Cipayung, artinya melemparkan keras-keras. Diucapkan dengan ‘e’ pepet [seperti pada kata enak] dan ‘k’ yang mirip ‘g’) saya dengan bola kasti sesering mungkin.

Di SMP, saya akan dengan senang hati mencoret-coret tempat duduknya dengan kapur warna-warni, dengan harapan kapur itu akan mengotori celananya ketika ia duduk.

Satu sekolah lagi di SMA, kami masih jadi musuh bebuyutan. Saling bertukar ejekan. Lalu saling mengejar tiap kali batang hidung salah satu terlihat. Hanya untuk menitipkan tonjokan di bahu, atau tendangan di selangkangan (yang ini bagian saya).

Sugeng adalah cobaan berat bagi rambut saya. Tak pernah sekali pun ia absen menarik ekor kuda atau kepangan saya. Pernah, ketika rambut saya sudah di tangannya, ia menarik saya keliling sekolah, sambil berteriak, “Dijual…. Dijual…. Dijual murah. Obraalll.” Persis tukang baju yang putus asa di Sogo Jongkok. Saya, mau tak mau mengikutinya, sambil terus berusaha melepaskan diri dan membalasnya.

Pada waktu yang sama, ia rajin nyamperin saya kalau mau berangkat sekolah. Rumah kami memang lumayan dekat. Nunggu angkot bareng (sambil berantem). Kalau sedang tidak berantem, ia biasanya menghapus bedak saya yang celemotan, sambil ngomel-ngomel betapa bodohnya saya sampai-sampai tak bisa pakai bedak.

Kami juga sering pulang bersama. Kadang saya mengajaknya turun satu kilometer dari rumah, dan meneruskan perjalanan dengan jalan kaki. Beli rujak, lalu makan sambil jalan, dan nyela-nyela orang yang bisa dicela.

Ah, ada seribu satu cerita saya dan Sugeng.

Sekarang, akan saya ceritakan kisah terbarunya. Yang lain, biar nanti saya sambung.

*****

Kemarin, Sugeng datang dan mengajak saya ke Tukang Mie Ayam langganan kami.
Di sana, sama sekali di luar dugaan, ia bercerita banyak tentang kehidupan cintanya. Padahal, sumpah mampus, seumur persahabatan kami, tak penah sekali pun ia menyentuh topik itu.

Biasanya, ia hanya menanyakan kehidupan cinta saya. Soal asmaranya sendiri, ia memilih untuk tidak membicarakannya.

Usut punya usut, ternyata sudah dua tahun ini Sugeng punya pacar.
Hebat.
Saya sama sekali tak tahu menahu soal itu.
Boro-boro dikenalin, namanya saja tak pernah disebut.

Saya, yang antusias dan penasaran, langsung memberondongnya dengan pertanyaan.
Mumpung ia mau jawab.

Setelah pertanyaan-pertanyaan standar (kenal di mana, rumahnya di mana, blablabla….), saya terantuk pertanyaan standar yang (menurut saya) dijawab dengan tidak standar.
“Jadi, lo ketemunya cuma wiken doang, dong?”
“Nggak juga.”
“Ooh, jadi hari kerja juga? Bisa gitu, lo kan pulangnya malem?”
“Justru nggak pernah ketemu kalo hari kerja.”
Saya mulai berkerut.
“Laah, gimaneeee…. Jadi, lo ketemu seminggu berapa kali, sih?”
“Ahh, paling sering juga sebulan sekali. Kadang baru ketemu tiga bulan sekali.”

Menurut saya, ini aneh.
Mengingat ia tidak dalam keadaan long distance relationship.
Bahkan, jarak rumah Sugeng dan kontor pacarnya tak sampai satu jam perjalanan.
Jarak kantor Sugeng dengan rumah pacarnya juga dekat.

“Tapi, lo teleponan tiap hari, kan?” selidik saya lagi.
“Nggak. suka-suka aja. Palingan seminggu sekali atau dua kali.”
“SMS?”
“Ya, sama…. Suka-suka aja.”

Saya langsung membayangkan pacaran model Sugeng. Ih, kayaknya saya nggak bakalan tahan deh, ‘dicuekin’ begitu.

“Kok, bisa, siihh???”
“Emang kenapa?”
Saya ternganga.

“Trus kalo wiken, libur, lo ngapain?”
“Ya, ngapain, kek. Ke bengkel. Main ama anak-anak [geng-nya, red]. Ketemu lo. Gue nggak bisa terus-terusan ketemu dia, walo punya banyak waktu kosong. Kan banyak hal laen yang bisa gue kerjain. Masak pacaran mulu. Nggak ganti-ganti suasananya.”
“Pacar lo nggak protes?”
“Nggak tuh. Udah tahu sama tahu aja kali.”
“Halaahh…, dia nggak protes, soalnya dia punya ‘sampingan’ yang lebih bagus dari lo!” saya memprovokasi.
Satu tonjokan mendarat di lengan saya. Sialan.

“Kalo dia pergi ama cowok laen gimana?” telisik saya lagi.
“Yaa, nggak papa. Dia mau pergi ama siapa kek, asal SMS ato telepon, ngasih tau ke gue.”
“Kalo perginya cuma berduaan?”
“Nggak apa-apa. Emang kenapa?”

Beneran, deh. Saya nggak bakal tahan pacaran model Sugeng.

Baik. Saya sampai pada pertanyaan final.
“Lo demen nggak sih, ama pacar lo itu?”
“Ya, demeeen, goblookkk. Kalo nggak, ngapain gue pacaran ama diaa??”

Kesimpulan yang tak kalah final: Dasar, orang aneh!

“Ba, pacaran itu kayak nyetem gitar. Kalo kekencengan, senarnya putus. Kalo kekendoran, nggak ada nadanya. Jadi, buat gue sih, selama pacaran gue masih ‘bernada,’ nggak ada masalah.”

Saya terbelalak.
Sedang kerasukan apa dia, sampai bisa filosofis begitu?
Jangan-jangan ini sisi lain dirinya yang tak pernah saya ketahui.

Walau nggak mungkin tahan pacaran dengan gayanya, saya seratus lima puluh persen setuju dengan ucapannya.

Dan, setelah jeda sepersekian detik, saya cuma bisa membalas kata-katanya dengan, “Gue suka gaya lo….” (sambil menepukkan kepalan tangan kanan ke dada kiri, persis gayanya anak-anak sekarang kalau lagi sok asyik. Hehehe….).

Ah, Sugeng….
Saya mah nggak mau pacaran sama gitar. Hehehe….

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>