Sadako yang Pemalu

Punya pacar bule?
Saya tidak.
Alasan pertama, memang tak pernah terpikir buat cari pacar bule.
Alasan kedua, saya sudah terlanjur kecantol sama sang pacar yang peranakan lokal.

Teman-teman saya banyak yang punya pacar dan menikah dengan bule. Maklumlah, cinta kan bisa menyambar di mana pun, pada siapa pun, dan dengan media apa pun. Persis Rexona. Satu hal yang saya amati dari pasangan-pasangan antarbenua ini, ada sebuah kesulitan yang sebenarnya gampang-gampang susah untuk disiasati: relativitas budaya.

Aih-aiihh…, bahasanya! Maksud saya nggak seberat itu, kok. Tenang saja, saya belum sepintar itu. ^_^ (I will, I promise you! Hehehe….). Maksud saya, karena mereka (pasangan silang-budaya) dibesarkan pada lingkup berbeda, bukan hanya perspektif hidup dan prinsip-prinsip besar yang (kadang) berbeda, hal-hal kecil juga bisa jadi nggak nyambung.

Hal-hal kecil yang kadang bisa jadi lucu.
Bisa juga jadi nyebelin.

Beberapa hari yang lalu, misalnya, seorang sahabat baik, yang minta ditulis anonim, sedang berkencan di dunia maya dengan kekasih kaukasian-nya. Mereka sedang asyik masyuk (halaahhh) ber-web cam-ria.

Sang sahabat yang sejak tiga puluh menit sebelumnya senyum-senyum sendiri di depan layar komputer, mirip kuda makan Mentos, tiba-tiba menoleh ke arah saya.
“Mau kenalan, nggak?” tanyanya.
“Mau…, mau,” saya sregep nanggepin.
(sregep = antusias, diambil dari Kamus Bahasa Jawa lokal milik keluarga kecil saya nan bahagia). :D

Ia lalu mengetik beberapa kalimat, lalu mengundang saya masuk ke area yang tertangkap kamera. Biar pacarnya bisa sekalian liat tampang saya.

Saya—yang sedang berhasrat (iseng)—langsung melepas ikat rambut, menjatuhkan sebagian rambut ke depan, mengambil seprai putih (buat kostum), lalu masuk ke area-kamera dengan gaya Suster Ngesot campur Sadako.

Terseok-seok.
Menggapai-gapai kamera.
Seolah-olah bernafsu menyeberangi layar komputer, keluar di seberang sana, dan mencekik pacar teman saya itu.

Tak sampai dua menit saya berakting, kami berdua—saya dan si sahabat berinisial X—tak bisa menahan tawa. Kami langsung ngakak, setelah menjauhi area-kamera. Sengaja. Kami tak mau pacar si X tahu kalau kami ngakak sejadi-jadinya. Biar aktingnya meyakinkan gituh.

Kami sudah membayangkan, di seberang benua, pacar si X juga sama terbahaknya.
Membayangkan pacarnya berteman dengan Sadako.
Mengkhayalkan apa jadinya kalau pacarnya ternyata juga setan gentayangan.

Puas ngakak, sang teman kembali ke depan komputer dengan mata basah. Untung dia nggak sampai ngompol.

Dan, bayangkan, ketika ia bertanya pendapat pacarnya tentang saya, pacarnya cuma menjawab: “Teman kamu pemalu sekali, ya, sampai nggak mau nunjukkin mukanya ke aku?”

*gubraaak-pangkat-tiga*

Booo…, percuma banget dong, gue akting jadi Sadako.

Duuuhh, coba kalau pacar teman saya itu produk lokal—atau minimal, orang Asia yang kenal Sadako—pasti ia sudah menganggap saya orang terlucu sedunia.
Payaaahhhh…, misi ngibulin bule kali ini gagal total!


Sadako Makan Conello
Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>