Unbreak My Heart

Ingat sahabat saya Ipul?
Untuk Anda yang mempertanyakan kabarnya, saya punya jawaban singkat, jelas, padat, dan tepat: kabar buruk!

Ipul patah hati.
Lagi.
Ini sudah kali ketiga…, dan penyebabnya adalah orang yang sama.
Keterlaluan?
Memang.
Keterlaluan gobloknya.

Beberapa hari yang lalu, ponsel saya berdering.
Pagi buta.
Masih jam lima lewat seperempat.
Saya yang baru berniat tidur, karena memang baru selesai nonton tiga film semalaman—sampai DVD player-nya Rika mengancam mau meledakkan diri—mengangkatnya dengan ragu.
Pasti ada apa-apanya nih, pikir saya waktu itu.
Benar saja.
Kalimat pembuka, “Kenape, Pul?” langsung disambut dengan suara ragu Ipul, gaya khas-nya kalau mau curhat.

“Mmm, nggak papa. Lagi ngapain lo? Udah bangun?”
“Halaah, udah buruan, ada apaan?! Gak usah segala nanya-nanya sok basa-basi nggak guna gitu!”
“Hmmm…, boleh curhat nggak, Ba?”
Tuh, kan.
“Soal apa, Ksatria Gadungan?”
“Hmm…,” jeda sepersekian detik. “Tapi jangan marah, ya!?”

Cuma ada satu hal yang bisa bikin saya marah besar sama Ipul.

“Jangan bilang, lo kontak lagi sama perempuan itu, trus kalian jalan bareng dan sekarang dia ninggalin lo lagi…, untuk kesekian kalinya,” saya merasa perlu menekankan tiga kata terakhir.

Ada hening yang tercipta selepas kalimat itu meluncur.

Duuhh, semoga bukan itu. Semoga saya salah, doa saya dalam hati.
“Yaahh, gimana lagi, Ba? Cinta….”
“IPUUUUUULLLLLLLLLL!!!!”

Pagi buta.
Di kamar Rika.
Volume suara saya tiba-tiba tak bisa dikendalikan.
Histeris.

Pagi itu, saya tiba-tiba menjelma jadi Drama Queen.
Dan Rika terbangun dari mimpi indahnya.

Setelah serangkaian caci-maki yang cuma berputar di kalimat, “Aduuh, Ipuuull…. Goblok banget sih loooo…,” Ipul mulai menceritakan kronologis patah hatinya.

Baru saja Ipul mulai cerita, saya langsung merasa pusing. Saya pikir, ini efek samping curhatan Ipul. Ternyata tidak. Rika melempar bantal besar ke kepala saya. Protes karena saya mengganggu tidurnya.

Patah hati akibat kelakuan perempuan yang itu-itu juga. Dalam rentang tujuh tahun, sudah dua kali perempuan ini berpacaran dengan Ipul, dan keduanya berakhir dengan cerita yang tak jauh berbeda:
ia meninggalkan Ipul.

For her main boyfriend(s)’ sake.
Iya, jadi Ipul itu cuma selingan. Cuma ‘pelipur sepi’ kalau pacar dan lelaki-lelaki lain dalam hidupnya sedang unavailable.
Ipul tahu hal itu.
Toh, Ipul tetap mau dijadikan selingan walau saya sudah memperingatkannya.
Berulang kali.
Sejak tujuh tahun lalu.

Parahnya, Ipul mati-matian mencintai perempuan sialan ini.
Si perempuan tahu hal itu.
Toh, perempuan itu tetap saja tak berhenti mempermainkan dan memanfaatkan Ipul.

Mereka berdua tahu, mereka sedang berkompetisi.
Kompetisi kebohongan.
Si perempuan membohongi Ipul. Dan Ipul membohongi dirinya sendiri.
Idiot. Goblok. Bodoh.
Dan sudah dua kali, kebodohan itu mengiris hidup Ipul.

Sekarang, bertambah sekali lagi.
Sejak akhir tahun lalu, perempuan itu kembali datang ke kehidupan Ipul. Mencoba memperbaiki keadaan, begitu katanya. Ketika Ipul menyinggung kisah mereka di masa lalu, dengan manisnya ia menjawab, “Ipuul, people change. Gue udah berubah, Pul. Gue tahu, gue dulu salah. Tapi sekarang gue udah dewasa. Udah bisa ngebedain mana yang bener, mana yang salah.”

Sungguh, ketika mendengar Ipul menceritakan dalih perempuan itu, saya ingin muntah.

Yang lebih goblok dari itu, Ipul tahu, si perempuan itu (sedang) punya pacar (lagi). Entah sudah berapa lama. Waktu ditanya soal pacarnya, ia menjawab, “Iya, gue emang punya cowok. Tapi hubungan gue udah nggak sehat. Nggak bisa dipertahanin lagi. Lo sabar aja, Pul. Pasti gue putusin kok cowok gue. Tinggal tunggu waktu yang tepat aja.”

Dan Ipul, yang jatuh cinta sampai ke ubun-ubun, mempercayainya.

Rasanya saya ingin membunuh perempuan itu.

“Gooobbbloooooooookkkkkkkkk. Lo punya otak apa enggak sih, Pul?? Kalo semua orang Indonesia segoblok elo, gue yakin orang Indonesia bakal punah lima puluh tahun lagi. Begoooo…. Lo tuh, emang ya, terus aja ulangin. Keledai aja, Puull…, cuma dua kali jatoh ke lobang yang sama. Nah elo….”

Pagi itu, saya tiba-tiba menjelma jadi pengomel terpiawai sejagat raya.
Dan Rika kembali melemparkan bantal ke kepala saya.

And I haven’t even told you about the worst part.
(Gile, kalau lagi kesel, kok saya jadi suka pakai bahasa Inggris ya!? Hehehe….).

Yaahh, jadi sejak akhir tahun lalu, Ipul resmi kembali menjadi korban si perempuan.
Dan kisah itu berakhir tragis dengan (sangat) sukses.

Suatu hari, Ipul pergi bersama perempuan itu. Di tengah perjalanan, ponsel si perempuan berdering. Pacarnya. Ipul tahu betul.
“Hmmm—-lagi di jalan—–nggak ama siapa-siapa—–sama temen doang—-bukan siapa-siapa, rame-rame kok, perginya—-ya udah—daaaggg.”
Berdasarkan cerita Ipul, yang doyan banget menceritakan detil per kata tiap kali bercerita, begitu cara si perempuan menjawab telepon.

“Sakiitt deh, Ba, rasanya…, ngedenger dia bilang, gue bukan siapa-siapa. Mana bilangnya pergi rame-rame lagi.”

Hmm, membunuh yang paling gampang itu pakai apa, ya?! Pisau? Peluru? Bambu Runcing?!

“Trus?”
“Trus…, malamnya cowoknya —Ipulmenyebutnamasiperempuan— telepon gue. Dia nanya, ‘Lo tadi abis jalan ya, ama cewek gue?’ gue jawab, ‘Iya.’ Gue udah beneran speechless, Ba. Nggak bisa ngomong apa-apa lagi. Gue dieeemmm aja.”
“Trus?”
“Gitu deh, cowoknya nutup telepon. Besoknya —namasiperempuandisebutlagi— telepon gue.”

So, here we come…. This is the worst part.

Ipul : Halo….
Perempuan : Halo, Ipul? Gue mau ngomong, Pul.
Ipul (yang katanya sudah tahu arah pembicaraan) : Nggak usah. Lupain aja. Gue udah tahu. Salam ya, buat cowok lo.

Ipul menutup telepon, yang tak sampai sedetik sudah berdering lagi.

Perempuan : Hmmm, Ipuul…, gue minta maaf banget ya, tapi kayaknya kita harus putus.
Ipul (yang katanya hampir pingsan) : Udah? Cuman itu aja kan, yang mau lo omongin??? Udahlah, nggak usah dibahas lagi. Gue nggak mau ketemu lo lagi. Titik.

Ipul kembali memutuskan sambungan telepon.
Belum sempat ia mematikan ponsel, dering kembali terdengar.

Ipul (yang katanya langsung menyambut dengan nada tinggi) : Apa lagi? Lo udah puas kan? Lo mau nyakitin gue kayak gimana lagi, sih?
Perempuan : Ipuuul….
Tiba-tiba terdengar suara telepon direbut, suara bas lalu terdengar, “Ipul, maafin cewek gue ya, kalo dia nyakitin lo lagi….”

Belum lagi suara itu menyelesaikan kalimatnya, Ipul sudah memutuskan pembicaraan.
Tanpa berkata sepatah pun pada pacar si perempuan.
Dimatikannya ponsel.

“Coba, Ba…. Bayangin, harga diri gue mau ditaro di mana?”

Pagi itu, mendengar cerita Ipul, saya ingin menangis.
Dan Rika sudah kembali tertidur lelap.

 

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>