Label Kartini

Bulan-bulan April begini, biasanya isu jender merajai media. Mengejar momen, mumpung Ibu Kartini ulang tahun. Yang dibahas pun itu-itu saja. Budaya patriarkal, emansipasi, kesetaraan jender, penindasan perempuan, kodrat versus konstruksi budaya. Isu yang makin lama makin usang, walau masih jadi polemik. Dan saya terjebak di tengah-tengahnya.

Ah, sayangnya….
Harusnya kita sudah terbebas dari label. Dan berjuang untuk kepentingan bersama. Tak lagi terpecah-belah. Tak lagi mengusung predikat: perempuan, laki-laki, anak-anak. Continue reading

Tak Boleh Ada APAPUN (sic!) di FIB-UI

Di sela pemotretan kemarin (hihihi…, gaya bicara saya udah mirip model Playboy belon?), saya sempat menangkap basah papan di pinggir danau FIB-UI.

[DSCF0437.JPG]

Begitu membaca papan itu, rasanya saya ingin ikut basah dan langsung nyemplung ke danau berair keruh di belakangnya. Bukan apa-apa, saya depresi ngeliat kata apapun (sic!) yang ada di papan itu. Kata apa pun yang seharusnya dipisah, malah digabung dengan seenaknya di papan pemberitahuan itu. Continue reading

Ada Conser Ection (sic!) di Glodok

Beberapa waktu yang lalu, saya jalan-jalan ke Glodok. Belum lengkap rasanya ke Glodok kalau tak bertandang ke ‘markas’ DVD bajakan yang tersebar dari Pinangsia sampai Harco Glodok. Sampai di salah satu markas DVD, saya malah lebih tertarik dengan papan-papan petunjuk yang disediakan si penjual di tokonya.

Lihatlah, betapa tak konsistennya si penulis. Ketimbang menulis dalam bahasa Inggris atau Indonesia, ia memilih mengkolaborasikan keduanya. Hasilnya? Ya, macam Conser (sic!) Barat yang kurang huruf ‘t’—di kata consert—itulah! ^_^ Continue reading