Label Kartini

Bulan-bulan April begini, biasanya isu jender merajai media. Mengejar momen, mumpung Ibu Kartini ulang tahun. Yang dibahas pun itu-itu saja. Budaya patriarkal, emansipasi, kesetaraan jender, penindasan perempuan, kodrat versus konstruksi budaya. Isu yang makin lama makin usang, walau masih jadi polemik. Dan saya terjebak di tengah-tengahnya.

Ah, sayangnya….
Harusnya kita sudah terbebas dari label. Dan berjuang untuk kepentingan bersama. Tak lagi terpecah-belah. Tak lagi mengusung predikat: perempuan, laki-laki, anak-anak.

Saya penentang patriarki. Dan bukan feminis. Saya tak percaya jenis kelamin dan jender: saya tak percaya label. Bagi saya, tak ada laki-laki dan tak ada perempuan. Yang ada hanya individu. (Mungkin itu sebabnya saya sangat mencintai bus kota, karena tak ada jender di sana, yang ada hanya individu: individu yang dapat tempat duduk, individu yang harus berdiri, individu yang berdesakkan, individu yang dicopet dan dilecehkan. Tak harus laki-laki. Tidak juga harus perempuan. Semua bisa kebagian.).

Kalau boleh berandai-andai, saya memimpikan dunia yang damai. Dan penuh cinta. Saya ingin segala bentuk penindasan musnah. Tak seorang pun mendominasi. Tak seorang pun berada di atas yang lain. Tiap individu (se)harus(nya) mampu menentukan hidupnya, titik. Saya hanya menginginkan dunia yang egaliter. Tak ada laki-laki. Tak ada perempuan. Tak ada label. Yang ada hanyalah individu.

Saya ingin dunia ini melepaskan predikat. Melupakan label. Dan mulai memperlakukan semua orang sebagai individu. Sama rata. Adil. Bukan karena yang satu A dan yang lain B. Lagi pula, hidup adalah sebuah pencarian diri. Pencarian jiwa. Dan jiwa tidak punya kelamin.

Ngomong-ngomong,
Selamat Hari Kartini!

 

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>