Pembalasan (Tidak) Selalu Lebih Kejam, Jenderal!

Saya selalu percaya kata-kata The Scorpions: what you give, you’ll get back.
Dan kali ini, Rika yang harus merasakan ampuhnya kata-kata itu.
Ingat kelakuannya ketika sendal jepit tercinta saya putus di KRL?

Akhirnya, saya berhasil (setengah) membalasnya. Tak apalah, walau tidak sepahit ungkapan, “Pembalasan akan selalu lebih kejam, Jenderal!”

Buat saya, yang sama sekali tidak pendendam, kesialan Rika malam ini sudah cukup mengobati luka yang diderita sandal jepit saya di alam kuburnya. Halaahhh….Jadi ceritanya, malam ini saya beredar di Kober lagi. Kami—saya, Rika, dan seorang sahabat yang menolak disebut namanya (karena, mengutip ucapannya, “ogah jadi salah salah satu tokoh bodoh di blog lo.”)—sedang dalam perjalanan mencari makan malam.

Singkat cerita, kami memutuskan untuk makan di dekat DeTos—alias Depok Townsquare. Rika bilang, di situ ada tukang bakso enak. Tentu saja, baksonya yang enak. Bukan tukangnya. Saya, yang nggak suka bakso, kemon-kemon aja. Toh, di situ ada banyak makanan lain yang bisa saya pilih.

Untuk sampai ke DeTos, kami harus naik angkot. Tapi, belum lagi naik angkot, Rika tiba-tiba memekik, “Yaaahhh, sandal gue putus!”

Saya dan si—sebut saja—Bundel (diambil dari tokoh komik favoritnya) cuma pamer gigi tanpa sedikit pun niat membantu.
“Huakakakakakak, putus ya??? Huakakakakak….”

Cuma itu yang kami tawarkan pada Rika.

Tadinya Rika mau beli sandal jepit di sekitar situ, tapi kami larang.
“Udah, beli di DeTos aja. Sekalian cari sandal yang bagusan dikit.”

Saya tahu, Rika memang berencana membeli sandal sejak minggu lalu.
Benar saja, ia akhirnya menyetujui saran kami. Lagian, sandalnya cuma putus sebelah, kok. Tak separah sandal saya dulu.

Setelah memaksakan diri berjalan dengan sandal putusnya, Rika akhirnya bisa duduk damai di angkot menuju DeTos.

Saya celingak-celinguk. Angkot yang kami tumpangi lumayan penuh. Mulut besar saya, tentu saja, tak akan bisa diam.

“Bundel, lo tau nggak, di angkot ini, ada penumpang yang make sandal putus loohh…,” ujar saya sambil melirik kaki Rika.

Beberapa pasang mata mengikuti lirikan saya.

“Iya, beneeerrr…. Nih, putus. Bener, kan, putuss???”

Sambil cekikikan saya mengangkat jeans Rika, biar sandal putusnya makin jelas.
Rika, terang saja, meronta-ronta. Untung, kami nggak sampai gulat di angkot.
“Kasian tuh, temen lo, beliin sandal kek, Pe,” Bundel ikut sumbang suara.
“Dia sebenernya tajir, cuman pelit banget, ampe beli sandal aja ogah.”
“Oooh, orang Padang ya?” kata Bundel lagi.
“Iya, kok lo tau, sih?”
“Kan Padang pelit-pelit, Peee….”

Belum sempat cekikikan, seorang ibu di sebelah Bundel mendelik. Mungkin ia orang Padang juga.

Saya dan Bundel memilih menunduk. Daripada didakwa atas nama SARA. Gantian Rika yang cekikikan.
“Sukuuurrr.”

Turun dari angkot, kami harus menyeberang jalan.
Rika ngomel-ngomel. “Haduuuhh, mobil-motor itu…, nggak tau apa, sendal gue putus!?”

Ya, enggaklaaahhhh….

Sampai di seberang, saya dan Bundel kembali beraksi sambil menunjuk-nunjuk kaki kanan Rika. “Mbak/Mas/Dik, lihat deh, sendalnya putus…. Kasihan yaaa???”

Lumayan banyak orang yang ikutan melirik kakinya. Lebih banyak lagi yang merhatiin tampangnya, soalnya saya sibuk menjeprat-jepret muka menderitanya. Persis paparazi ngintilin Putri Diana.


Emang tampangnya menderita? Kayaknya enggak ya?!

Jadi pusat perhatian begitu, Rika cuma bisa mesem-mesem sembari terus berjalan terseok-seok.
“Sialan lo, Peeeee….”

Hihihi, mission’s accomplished!

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>