Apa Ada Pariasi Photo Yang Disewa Di Sini? (sic!)

Traalaaaa… I’m back with a new one!!! Hehehe….

(yayaya…, despite all the critics I throw, saya sedang ikut-ikutan tren sok Inggris akhir-akhir ini! Look who’s talking, huh?! Hehehe….).

Sejak orang-orang terdekat saya tahu bahwa saya suka mengumpulkan kesalahan-kesalahan bahasa tulis yang di-launching di tempat-tempat umum, mereka jadi ketularan sibuk nyari ‘tangkapan’. ^_^ Rika, misalnya. Waktu kami ‘menggantung di luar’—baca: hang out—beberapa minggu lalu di sebuah mal kecil, di seberang MargoCity (ya, DeTos… apa lagi?! ^_^), ia menunjuk selembar kertas yang ditempel di etalase sebuah outlet yang masih kosong.

DISEWA

Begitu tulisan di etalase tersebut. Rika memandangnya sekilas. Lalu sembari menujuk kertas itu, ia bertanya, “Ngebingungin, nggak?”

Saya, yang nggak ‘ngeh, cuma menggeleng.

“Ih, gimana sih, lo? Liat… tulisannya: DISEWA. Kan ngebingungin. Apa coba, maksudnya? Outlet ini udah disewa orang, apa mau disewain? Cuma ada ‘disewa’, nggak ada keterangan apa-apa lagi,” terangnya panjang lebar.

Whoouuww…, you’ve got a point there, girl! Tak disangka, tak dinyana, sahabat saya ini sudah sampai pada tataran Semantik. Kritiknya ‘dahsyat’. Dan jeli. Ah, Mbak Andrea—dosen Semantik kami dulu—pasti bangga padanya. ^_^

Itu Rika. Sayangnya, tangkapannya waktu itu tak sempat saya abadikan. Kamera saya sudah keburu mati. Kehabisan baterai.

****

Yang akan saya pajang di bawah ini, sebenarnya tangkapan pacar saya.

Ceritanya, suatu sore yang gerimis, kami menuju rumah saya. Pulang, entah dari mana—saya lupa. Di tengah perjalanan, kira-kira satu kilo (meter, bukan gram. ^_^) dari rumah saya, ia tiba-tiba menunjuk spanduk ini:

 pariasi

“Liat, deh…. Pariasi. Hehehe…. Lucu ya?” begitu kata-kata yang mengiringi telunjuknya beraksi.

Saya menoleh. Mengikuti arah telunjuknya. Mata saya membesar. Bibir saya melebar.

Bisa ditebak, saya langsung minta berhenti. Ingin mengabadikan si spanduk.

Sang pacar menolak. “Ujan,” alasannya. Saya tak peduli. Tetap kekeuh mau motret. Bisa ditebak juga, pacar saya akhirnya mengalah. Mengantar saya ke depan spanduk yang didakwa bersalah itu. Hujan-hujan. Dingin-dingin.

Ah, cinta kadang memang membuat orang bodoh.

Bukan pacar saya yang bodoh. Tapi saya. Karena ketika kami tiba di depan spanduk, saya baru sadar: kamera saya tertinggal di rumah. Jadilah saya harus pasrah menerima jitakan beruntun. Di depan spanduk. Hujan-hujan. Dingin-dingin.

Ah, bodohnya…. -_-

****

Keesokan harinya, saya balik lagi ke TKP. Lengkap dengan kamera berbaterai penuh.

Ketika saya sedang asyik mengabadikan pose si spanduk, seorang laki-laki separuh baya tiba-tiba muncul.

“Buat apa, Mbak?” tanyanya.

“Apanya, Pak?” saya menatapnya heran. Bingung. Kok tiba-tiba ada makhluk asing di samping saya. Ditilik dari penampilannya, kayaknya si Bapak pegawai negeri. Mungkin guru, mengingat warna seragamnya serupa dengan milik ibu saya. Mungkin lagi, ia guru Bahasa Indonesia. Makanya tertarik buat ikutan nongkrong di depan spanduk.

“Fotonya.”

“Oh, nggak. Iseng aja,” saya nggak tau harus jawab apa.

“Pariasi, ya? Yang nulis pasti orang Sunda, tuh!” lanjutnya lagi, sembari menatap objek foto saya.

Mata saya spontan menajam. Alis saya bertautan. Bibir saya merengut.

Tersinggung.

Darah saya setengah Sunda.

“Bapak mau ke warnet?” tanya saya. Spanduk itu memang digantung di depan Bravonet, warnet yang gosipnya milik SBY (Sumpah, ini gosip nggak bermutu banget! Ngapain SBY buka warnet di desa terpencil begini?!).

“Iya,” jawabnya.

“Oh, saya duluan, Pak,” saya langsung ngeloyor pergi. Pulang.

Ia juga kemudian masuk ke warnet.

Huh, ada apa dengan orang Sunda dan huruf P, sih?!

(Katanya, orang Sunda memang sulit membedakan huruf labial-dental* (macam F dan V) dengan bilabial* (kayak P)—entah kenapa, saya lupa alasannya.)

* Tolong dibenarkan kalau salah, saya tak begitu hafal istilah-istilah ini. Maklum, Fonologi saya cuma dapet C! :p

****

Di rumah, saya pandangi terus foto itu (soalnya, sebenarnya, di sebelah kiri foto itu ada cowok cute yang gambarnya lalu saya cut. Hehehe…. Nggak! Cuma becanda. Kok langsung ngarep gitu sih, mukanya?! Hehehe….).

Pikiran saya melayang-layang.

Kenapa, ya, kadang kita—baik Sunda maupun non-Sunda—masih sulit membedakan penggunaan huruf P, F, dan V?

Nama saya aja, sering banget salah tulis. Kalo nggak Peba, jadinya Veba. Padahal, aslinya Feba. Pernah, saya mencetak foto. Ketika akan menulis bon, si Mbak Fuji nanya, “Namanya siapa?”

“Feba, Mbak,” saya langsung menambahkan frase, “Pake ‘F’ [ef] ya, Mbak.”

“Iya,” jawabnya sembari menorehkan nama saya di atas bon: Veba.

*gubraakkkk*

Setelah dipikir-pikir, memang cukup sulit mengobatinya. Hanya latihan solusinya. Latihan membuka kamus—melihat entri: mencontoh penulisan yang benar—dan menghafalnya. Untuk kata-kata umum (kayak variasi), sepertinya cuma itu yang bisa dilakukan. (Ada ide yang lebih brilian?)

Sedangkan untuk kata-kata berimbuhan, mungkin begini rumusnya:

Aktif = Aktivitas

Efektif = Efektivitas

Untuk kata sifat berakhiran F yang ditambah sufiks itas (biar jadi kata benda), F-nya lenyap dan digantikan V. Biasanya sih, gitu. Si F hampir nggak pernah dibiarin ada di tengah kata, si V juga nggak pernah dipajang di akhir kata.

Lalu, awalan Ph yang ada pada kata photo juga mengganggu saya. Kata itu masih bergaya bule. Padahal bisa diganti foto, jadi gayanya berubah jadi pakle—(baca: paklik, bahasa Jawa, arti: paman/om. Sedangkan bule = bulik, arti: bibi/tante, red)—hehehe….

*lawakan garing yang masih laku sampai sekarang*

Seperti huruf Y yang sering berubah jadi I di akhir kata, kayaknya kata-kata asing berawalan Ph biasanya berubah jadi F, deh.

Kayak ini:

Phosphor = Fosfor

Pharmacy = Farmasi

Phase = Fase

de-el-el….

Nah… nah…, sebetulnya, saya masih ingin mencari contoh-contoh lain, namun tak satu pun melintas di depan muka saya. Jadi, saya akhiri saja dulu. Jika Anda bisa menemukan contoh lain, tolong bagi di sini. Biar semua tambah yakin kalau kita nggak boleh sembarangan nuker-nuker F dengan V atau P.

Sekian dari saya, wassalamualaikum wr. wb.

*halaahh*

Hehehe….

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>