Poligami Episode I: Haruskah Dipolitisasi?

Minggu lalu, milis angkatan kami—Sastra Belanda UI 2001—diramaikan oleh e-mail dari Tasha. Sebenarnya ini e-mail berantai, yang mungkin sudah pernah Anda terima. Tapi, saya belum pernah. Belum pula dengar isunya. Penasaranlah saya membaca e-mail singkat itu. Saya scroll e-mail itu ke bawah, ada beberapa gambar di-attach di sana:


Melihat attachment ini sekilas, saya harus tarik napas panjang. Sekali—dua kali—tiga kali…. Lalu mulai menghitung dari satu sampai lima belas. Membayangkan yang indah-indah (seperti gelato yang dijanjikan seorang teman, cowok ganteng yang saya lihat di angkot, sungai Seine kala senja).
Belum cukup.
Saya putar lagu Cat Stevens, Morning Has Broken, keras-keras.
Tiga kali.
Baik, mari kita mulai….

Haaaahhhhh??? Sampah beginian bisa beredar????? (Teteeuuup, histeris!! Apa gunanya menenangkan diri kalo gini?! Hehehe….). Hmm, mari—sekali lagi—saya coba merunutkan segala yang berkeliaran di otak saya. Satu per satu. Perlahan. Sistematis. Penuh pertimbangan. Dengan cara yang beradab.
Baiklah, kita mulai dengan konsep poligami. Saya tahu, poligami diperbolehkan dalam Islam—dengan syarat yang bla-bla-bla (entah apa saja, saya sudah terlalu lemas untuk bertanya pada ibu saya yang guru agama Islam itu). Saya tidak menentang poligami, selama hal itu dilakukan sesuai syarat dan ketentuan. Namun, tetap saja, secara pribadi saya tak mau jadi ‘korban’ poligami. Bagi saya, pernikahan adalah komitmen. Dan orang ketiga—atau keempat, kelima, kedua puluh tujuh—tidak termasuk di dalamnya. Pernikahan adalah untuk dua orang yang bersedia mengambil risiko hidup terikat.
Berdua saja.
Titik.

Di sisi lain, saya tak pernah menyalahkan laki-laki poligami atau merendahkan perempuan yang dipoligami. Ah…, (semoga) mereka lebih mengerti tindakan mereka ketimbang saya. Pun ketika Indonesia dihebohkan dengan pernikahan kedua Aa Gym—dan hati saya diiris berita poligami Sapardi—saya tak juga protes.

Sekali lagi, beberapa keputusan adalah sesuatu yang sangat personal. Dan poligami termasuk di dalamnya.

Poligami adalah sesuatu yang harus dilihat secara kontekstual. Kasus per kasus. Tak bisa dipukul rata.

However, menurut saya, poligami cuma masalah interpretasi, kepentingan, dan kehendak bebas. Hanya kombinasi ketiganya. Tak lebih.

Itu poin pertama.
Sekarang, mari melangkah ke poin selanjutnya: tabloid bodoh ini.
*mengambil napas panjang dalam-dalam*

Bodoh. Murahan. Picisan. Menjijikkan.

Itu pendapat saya.

Saya tidak menentang poligami, tapi saya seratus tujuh puluh delapan persen menentang tabloid ini. Menurut saya, ini pembodohan. Pendangkalan masalah. Politisasi kepercayaan. Pembenaran sepihak. Pelecehan terhadap kemanusiaan.

Saya ‘mengizinkan’ mereka yang ingin berpoligami dan bersedia dipoligami. Silakan. Monggo. Tapi, melihat betapa keputusan yang sangat personal kemudian digembar-gemborkan menjadi sesuatu yang disebut ‘jihad’—saya benar-benar muak.

Sedih.

Lagi-lagi, kita tak bisa memisahkan sesuatu yang personal dan yang publik. Lagi-lagi kita lupa: kebenaran dan pembenaran adalah dua hal yang sangat berbeda. Dan, haruskah agama dipakai sebagai landasan untuk membenarkan sebuah pembenaran?

(Agama mengizinkan poligami, itu benar. Tapi, menyatakan bahwa semua laki-laki boleh berpoligami dan semua perempuan harus mau dipoligami, itu jelas hanya sebuah pembenaran.).

Jujur saja, saya ingin menangis. Saya marah besar. Lagi-lagi Tuhan dijual. Dijadikan tameng. Dipolitisasi.

Poligami mungkin— entah menurut siapa—manusiawi. Tapi, membuat tabloid poligami, jelas sebuah dehumanisasi. Apalagi melihat tagline dan judul-judul artikel yang sangat tendensius. Hak dan Kebutuhan Perempuan, misalnya, bisakah digeneralisasi?
Lalu, coba baca pengantar ini:

“Konflik, bencana alam, dan perawan tua adalah masalah serius yang menimpa perempuan di negeri ini. Karena itu, negeri ini membutuhkan banyak relawan poligami untuk mengatasi masalah nasional perempuan ini.”
Sebuah pelecehan terang-terangan pada kemanusiaan…, dan perempuan.
Ditambah lagi, saya tidak berpikir bahwa premis yang ditawarkan matching dengan kesimpulan yang ditarik.
Konflik + Bencana Alam + Perawan Tua = Relawan Poligami
Konyol. Karena, menurut saya, tak satu pun masalah akan selesai di tangan poligami. Konflik dan bencana alam jelas-jelas lewat. Sedang masalah perawan tua, saya jamin, tak akan berkurang karena poligami. Bukannya biasanya laki-laki poligami cari daun muda?? Hehehe…. Jadi, apanya yang bakal selesai???
*depresi-mode: on*
(Catatan Selip: Lagian, apa perawan tua bisa disebut masalah nasional? Saya bahkan tidak menganggap perawan tua itu masalah.)

Belum lagi pemandangan Kupon Poligami dan kata jihad yang bertebaran di halaman tabloid ini. KONYOL pangkat tiga!

Ah, saya lelah.
Saya letih memaki di sini.
(Sekarang, izinkan saya menghela napas sekali lagi, dan menghapus airmata yang hampir menitik ini. Iya, saya masih mudah menangis seperti dulu.)
Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>