Poligami Episode II: Insiden Angkot 112

Pffhhh, two posts in a rowand they’re all talking about poligami. Begitu mungkin Anda berpikir. Tenang, yang ini beda, kok. Kenapa beda? Karena tokoh utama blog ini—Rika Sang Diva—akan muncul. :p

Alkisah, pukul sembilan malam, kami ‘terjebak’ di angkot 112—setelah berenang dan makan besar di sekitaran Margonjreng. Berniat pulang. Rika ke kos-nya. Saya ke rumah orangtua tercinta saya. Dengan perut kenyang, kami mengobrol. Teringat e-mail Tasha di milis, saya bertanya pada Rika, sudahkah ia membacanya. Belum, jawabnya. (Ia memang suka malas membaca e-mail dengan judul ‘aneh’). Jadilah saya semangat dan mulai menceritakan tabloid dodol di e-mail Tasha.

Percakapan kami lakukan dengan suara rendah, dan sebagian besar dalam bahasa Belanda. (Sumpah, deh, nggak kayak ibu-ibu yang ditemuin Iwied di angkot itu.) Berbekal cerita Iwied dan sedikit rasa tahu diri, kami tak mau mengganggu penumpang lain dengan pembicaraan kami. Lagian, angkot yang kami naiki juga sepi. Hanya ada seorang ibu berjilbab, berusia sekitar lima puluhan, di sebelah Rika.

Saya mulai bercerita dengan kalimat, “Lo tau nggak, Ka? Ada Tabloid Poligami loohh. Isinya macem-macem. Pro-poligami gitu, deh…. En ‘k vind ‘t verschrikkelijk. blablabla.…”

Terus saja saya ngoceh, dan Rika menanggapi. Di tengah percakapan, saya mengeluarkan makian, “Menjijikkan, ya!?” Maksud saya—seperti yang saya katakan sebelumnya—tabloid itu yang menjijikkan, bukan poligami.

Namun, Sodara-sodaraku tercintah, si ibu berjilbab di sebelah Rika—yang ternyata mendengarkan kami dari tadi—langsung mengeluarkan hantaman bernada tinggi, “Eh, sekarang Ibu tanya, deh…. Mendingan mana kamu dipoligami, atau jadi istri satu-satunya di rumah, tapi ‘jajanan’ suami di mana-mana? Mana yang lebih menjijikkan?”

 “Laki-lakinya yang menjijikkan,” mulut besar Rika spontan bereaksi tanpa bisa di-rem. (Ia memang pedas. Dan terlalu jujur. Dulu, di zaman kuliah, kami biasa menjulukinya Si Mulut Bodoh karena sering mengeluarkan ucapan ‘salah’ pada situasi dan waktu yang ‘salah’—tampaknya, kali ini mulut bodohnya kembali unjuk gigi.)

 Si ibu tambah melotot.

 Ah, Ibu… kalau begitu sudut pandangnya—harus memilih antara diselingkuhi atau dipoligami—apa bedanya poligami dengan legalisasi perzinahan? Apa bedanya laki-laki dengan binatang? Ah, Ibu… sudut pandang Anda melecehkan laki-laki.

 Begitu yang ada di kepala saya.

Tapi, saya diam saja. Saya tahu, tak ada gunanya menyahuti si ibu. Sudut pandang kami jelas jauh berbeda.

Ah, entah… saya lelah berpendapat. Mungkin otak saya yang benar-benar harus ‘direparasi.’

Begitulah.
Saya diam.
Rika juga.

Tapi, si ibu belum selesai menyerang, “Kalo suami poligami, pasti karena istrinya kenapa-kenapa. Jangan salahin laki-laki. Itu juga salah perempuan.”

Kami tetap diam. Bertukar pandang. Sekarang, si ibu sudah mulai mempertanyakan kredibilitas perempuan. Atas dasar apa? Dalam lini kehidupan sebelah mana? Komitmen?—Seks?—Partnership?—Seks?—Peran Domestik?—Seks?—Karakter?—Seks?— Kesabaran?—Seks? APA? Sayang, si ibu tidak rinci.

Kami memutuskan tak menggubrisnya lagi. Dan kembali melanjutkan perbincangan. Dengan tema sama. Dalam bahasa Belanda. (Aih.., aih… senangnya jadi anak Belanda. Hahaha….). :p

Curangnya, tak lama setelah insiden itu, Rika turun. Kober, daerah kos-nya, memang tak jauh dari tempat kami naik angkot. Si ibu beringsut menjauh ketika Rika melewatinya, seolah tak ingin menyentuh teman saya itu. Jijik, mungkin. (Rika, kau menjijikkan! Hehehe….).

Selepas Rika turun, hanya tersisa kami berdua di angkot biru itu. Si ibu beberapa kali melemparkan mata pisaunya ke arah saya. Saya cuma membalasnya dengan senyum tipis.

(Syukurlah, ia tak melanjutkan ‘pertikaian poligami’ kami).

Pun ketika turun, ia sempat memandang saya tajam.

Seolah saya musuh bebuyutannya.

Mungkin, ia akan menceritakan—pada siapa pun yang dikenalnya—bahwa ia pernah se-angkot dengan dua gadis bodoh, yang lebih memilih jadi perawan tua ketimbang dipoligami.

Ah, Ibu… benarkah poligami adalah keadaan terberi yang harus diterima begitu saja?

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>