Ultah si Bokep

Hohoho… hari ini ada yang ultah lagi. ^_^

Kali ini salah satu teman seperjuangan jaman kuliah, the one and only kribo: Ellisa.

Lidah saya suka gatal ketika memanggilnya Ellisa. Karena, sejak jaman kuliah dulu, kami biasa menyapanya dengan nama kesayangan: Bokep. Kenapa Bokep? Karena dia memang bokep. Hehehe…. Nggak bokep, sih. Cuma, dulu, waktu kami baru masuk kuliah dan masih menyimpan kepolosan belasan tahun, ia-lah yang paling ahli urusan begituan.

*halaahh, begituan lagi!* ^_^

Maksudnya, ilmunya tentang seksualitas (bukan hanya soal hubungan seks dan gaya-gayanya) jauh di atas kami. Otomatis, bisa dibilang Ellisa-lah suhu ‘pendidikan seks’ saya. Hehehe….

Lucunya, di rumah, ia dikenal sebagai anak baik-baik. Sama sekali nggak bokep. Jadi kami suka kerepotan kalau lagi main atau nginep di rumahnya. Pasalnya, di kampus kami bisa seenaknya teriak-teriak manggil dia Bokep. (Contoh: “Bokeeeeppp… buruan, yuk! Lelet banget!!!” atau, “Kep, lo udah ngerjain paper?”). Sedangkan di rumahnya, ia melarang kami melestarikan budaya kampus. Nggak lucu kalau didengar orangtua atau kakak-adiknya. (“Ntar gue disangka bokep beneran. Padahal kan yang gue ajarin pendidikan seks. Itu penting!” kilahnya).

Ketimbang kehilangan guru, kami pun berusaha menurutinya.

Sayang, mulut-mulut bodoh ini suka keceplosan. Berbagai manuver pun diciptakan untuk meningkahi kesalahan itu:

MANUVER VOLUME

Oknum Bermulut Bodoh (OBB): Kep, ntar malem jadi nonton DVD, kan?

Ellisa melotot.

OBB: Ups… Ellisa Sayang, jadi nonton DVD, kan?

(Dengan volume suara dua kali lipat. Seolah penambahan volume akan menghapus kalimat sebelumnya).

MANUVER LANJUT KATA

OBB: Eh, Bok… (bermaksud mengatakan “Bokep”)

Ellisa keburu melotot lagi.

OBB: (Langsung berimprovisasi meneruskan morfem terikat—“Bok”—yang sudah terlanjur terlontar) …Kap lo udah pulang?

(Padahal OBB baru aja cium tangan si Oom).

MANUVER TEBAKAN

OBB: Eh, Bok… (masih bermaksud mengatakan “Bokep”)

Pelototan Ellisa kembali datang.

OBB: Bok… bok apa yang bisa dipake??

Berakhir dengan jawaban: Celana BOKser.
(Emang maksa, sih. Yang penting usaha)
*_*

MANUVER PLESETAN

OBB: Bokep…, blablablabla.

Ellisa terus melotot

OBB: Ih, kurang gaul deh, lo. Bokep itu kan olahraga. Maksud gue tadi, permainan Bola Bokep. (Jangan ngeres dulu, maksudnya Bola Basket, red).

(Yang ini, biasanya disambut paling meriah. Sambung-menyambung mirip lagu wajib jaman SD, berlanjutlah kami memelesetkan kata bokep.)

MANUVER TAK TAHU DIRI

OBB: Bokep…. Lo tau nggak, blablablabla.

Ellisa terus—dan teruuuuusss—melotot.

OBB: Apa sih, Kep? Udah, deh… bokep mah bokep aja. Nggak udah ditutupin. Masak lo tega ngebohongin keluarga lo sendiri? Mendingan juga mereka tau, siapa lo sebenernya.

(Bisa ditebak, ini manuver terburuk. Minimal bantal melayang).

 

Di balik julukan Bokep-nya, Ellisa adalah seorang yang paling sederhana dibanding sahabat-sahabat seangkatan di Sastra Belanda (Kami menyebutnya Sekolah Wanita Sastra Belanda). Sederhana dalam berpikir dan dalam menjalani hidup. Nggak neko-neko. Bukan pemimpi. Realistis. Namun tidak sinis memandang hidup (ehm, Tasha… sounds familiar? Huehehe….). Ia benar-benar anak rumahan. Family Girl. Dengan kecenderungan yang sangat domestik.

Ia suka ngomel-ngomel kalau kami sudah sok-sok mengangkat gender jadi bahasan. Buatnya, feminis identik dengan man-hater dan bitterness.

Gambaran masa depannya pun simpel: Pengen kerja kantoran. Trus berhenti kerja setelah menikah, dan jadi ibu rumah tangga yang berkuasa ngatur ini-itu di rumah.

Pertama kali mendengar statement ini, saya dan Rika melongo. “Nggak pengen S2, Kep? Nggak pengen kantor Ally McBeal?”

(Saya dan Rika memimpikan kantor seperti milik Ally: di pusat kota, penuh kerlip lampu kala malam—jadi betah lembur: ngelamun memandang kota di balik dinding kaca—namun tanpa macet dan tri-in-wan, plus bisa jalan kaki dengan romantis ketika pulang kerja.).

Ellisa menggeleng. Kami cuma bisa ber-oohh panjang.

Menurut saya, Ellisa tahu benar yang diinginkannya (ketimbang kami yang suka keder dan bertanya-tanya: apa yang sebenarnya kami inginkan dalam hidup ini?). Dan benar saja, ia bisa meraihnya.

Tahun ini, di ulangtahun ke-24, ia telah berganti status dan menghuni rumah mungil berinterior hijau dengan suaminya—setelah sebelumnya melewati masa pacaran selama kurang-lebih enam tahun.

Tebak apa pekerjaannya?

Guru TK!

Saya rasa, pekerjaan itu cocok dengannya.

Dan saat rutinitas saya dan Rika masih berputar di siklus cekikikan- potopoto-wisatakuliner-nonton-renang-nongkrong-ngenet- pulangmalem-manjatpagarkosan-begadang-nontonDVDbajakan- tukerannovel, dan hidup kami masih ada di sekitar Gramed-ITC- Bubu-(Warnet)Salak-dan sekitaran Margonda, Ellisa sudah berkutat dengan ngajar-belanjadiCarrefour-ngurusinrumah- nunggusuamipulang, plus muntah-muntah, karena empat bulan terakhir ini ia sedang mengandung.(Yuhuu, kami bakal jadi tante beneran!) ^_^

Saat saya dan Rika masih menyusun kepingan diri, Ellisa sudah hampir memenuhi pundi-pundi mimpinya. Ah, saya turut bahagia untuknya.

Happy birthday, Ellisa Sayang. Wish you all the best. I love you! :-*

 

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>