Untung Pake E(h)SIA(pa, nih?)

Suatu sore yang membosankan. Di kantor. Saya melirik ponsel. Masih jam empat sore. Baru sejam lagi saya bisa pulang. Dan baru dua jam lagi saya bisa memeluk guling (yang sudah gepeng karena beban hidupnya terlalu berat) di singgasana saya.

Iseng-iseng, saya ambil ponsel. SMS pacar. Tadinya mau telepon, tapi pasti ia juga sedang sibuk bekerja. Saya tidak mau (terlalu) mengganggunya. ^_^ Setelah mengirim SMS, berkeluh-kesah dari mulai bosan sampai lapar, saya kembali melanjutkan pekerjaan.

Tak lama, ponsel saya bergetar. SMS. Ah, pasti balasan sang pacar. Dengan keantusiasan tingkat tinggi, saya menyambar ponsel. Membaca baris pertamanya saja, saya sudah kecewa. Huh, kenapa sih, provider ponsel CDMA ini tak bosan-bosannya ngirim SMS iklan? Nggak kreatif lagi! Semua pasti berawalan, “Untung pake ESIA!” Padahal saya belum ngecek, si Untung tetangga saya beneran pake Esia ato nggak.

Sembari mengomel dalam hati, jemari saya refleks memencet tombol option untuk kemudian lanjut dengan menu delete. Eits, tapi… tunggu dulu! Apa itu di baris selanjutnya? Bung Jempol lalu menekan back. Inilah yang terbaca:

Untung pake ESIA!
Bisa makan pake ikan cuwe*
& minum teh manis gratis
hanya dengan menunjukkan SMS ini
di Jalan Raya xxxx No. xx**

Ikan Cuwe? Ikan terenak sejagat itu? Jalan Raya xxxx No. xx? Itu kan alamat rumah saya!? Siapa sih, yang ngirim SMS ini? Bukan provider Esia, pastinya. Om Ical Bakri dan kroninya mana tau kalo hobi saya makan ikan Cuwe?!

Saya scroll lagi ke bawah. Baru ketahuan, ternyata ayah saya yang mengirim SMS iseng ini. Mau tak mau, saya cekikikan. Beberapa orang mengangkat wajah dari monitor komputer, dan bertanya ada apa. Saya cuma menggeleng. Dan bersumpah, bukan mereka yang saya tertawakan.

Saya tahu benar, ayah saya pasti juga keki terus-menerus menerima SMS dari Esia. Akibatnya, ia menyalurkan sedikit kreativitasnya: dieditnya SMS iklan itu dan dikirimkannya hasil ubahannya ke saya—putri tercintanya. Ah, saya terharu. Ada yang punya tisu? ^.^

Hampir dua menit saya cekikikan sendiri. Pipi saya sampai pegal. Tapi, kalau Anda pikir saya mau mengalah dan mengaku kalah, Anda salah. Saya kirim balasan yang tak kalah sadis:

Untung pakai ESIA!
Bisa punya anak cantik dan berbudi luhur
yang bisa ditemui hanya dengan
menunjukkan SMS ini
dua jam lagi di Jalan Raya xxxx No. xx

Ayah saya, yang sepertinya jadi esmosi jiwa karena balasan tak bermutu anaknya ini, langsung ikutan nggak mutu:

ih, ge-er banget sih?
gimana anaknya bisa cantik
kalau the parents are not handsome
and beautiful.
ih, garing deh!!!!!

Hahh?? Handsome and beautiful? Ternyata kenarsisan saya memang sudah mendarah-daging. It’s in the genes! Keturunan abadi! Kutukan semesta! Oh, saya bingung. Harus bersyukur, atau bertobat dengan kenyataan ini?!

Dibantai dengan banyak tanda seru, saya juga tak mau kalah set:

kalo anaknya aja garing,
gimana orangtuanya?
hehehehe….

Ayah saya tak membalas lagi. Mungkin kehabisan kata-kata. Mungkin juga ia sudah ketiduran di depan kanvasnya. Yang jelas posisi kami kali ini 2:2. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. (Walau tinggi ayah saya 173 dan saya tak sampai 163). Hehehe….

 

(Dan saya jadi benar-benar ngebet, pengen pulang. Mau nagih gratisan ikan Cuwe dan es teh manis!).

Apa? Nggak penting?? Well, welcome to my life! Hehehe….

****

* Semacam ikan pindang, biasa ditemui di tukang sayur. Entah siapa nama asli ikan ini. Di rumah saya, ia ngetop dengan julukan ikan Cuwe. Ikan ini kegemaran saya sejak kecil.
** Sengaja disamarkan, supaya tak makin banyak yang datang untuk minta gratisan es teh manis dan ikan Cuwe.

 

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>