Tidurlah, Bidadari Kecilku

…Akhirnya, gadis itu datang. Lagi-lagi bersimpuh di tempat yang sama. Memejamkan mata, lalu menyapa di sela doa…

Selamat Pagi, Adik sayang….

Bagaimana kabarmu?

Maafkan, aku sudah lama sekali tak berkunjung.

Walau sesekali masih juga merindukanmu….

Masih ingatkah kau, terakhir kali aku mengunjungimu? Rasanya sudah lama sekali. Tidak, aku sama sekali tak melupakanmu. Hanya saja, bergelut dengan realitas kadang terasa lebih ringan ketimbang memelihara kenangan—walau sama pedihnya. Toh, aku tahu, kau pasti baik-baik saja.

Banyak hal telah berubah sejak terakhir kali aku mengunjungimu, Dik. Banyak sekali. Ternyata, hidup memang benar-benar menawarkan probabilitas (hampir) tanpa batas. Ah, aku merindukanmu….

Jika saja kau masih di sini, kita pasti akan jadi teman baik.

Aku mungkin akan berbagi kamar—dan berbagi ranjang—denganmu. Kau akan tertidur saat aku masih mendongeng tentang si Kancil yang tak jera mencuri ketimun. Dan esok paginya, kau pasti akan mengganggu tidurku, memaksaku membuka mata, seperti yang selalu kau lakukan sejak kau baru lahir. (iya, dulu Ibu pasti akan membiarkanmu berbaring di sisiku setiap pagi. Dan kau akan berceloteh sendiri. Atau berusaha menggapai wajahku dengan jemari mungilmu, dan mencakarnya. Mengusir mimpi yang belum sempat kuusaikan.)

Pun, sampai sekarang, aku masih sering memimpikanmu. Kadang samar, kadang sejelas sapaan pelangi: indah, namun tetap saja tak tersentuh. Kau bertambah besar. Dan cantik. Kau selalu tersenyum kala menemuiku di sela tidur. Aku benar-benar merindukanmu, Sayang….

Terkadang kami masih membicarakanmu, Dik: tentang pipimu yang memerah, matamu yang bulat dan bersinar, rambutmu yang tebal dan hitam, dan kebiasaanmu bangun jam tiga pagi. Tentang keenggananmu menerima ciuman (kau selalu menjerit tiap kali aku mengecupmu), juga tentang kecerdikanmu membunuh semut yang mampir ke wajahmu, padahal waktu itu kau belum genap dua bulan.

Kau selalu tertidur tiap kali selesai mandi. Kebiasaan yang aneh. Kami juga kerap membincangkan kegemaranmu melahap bubur Nestlé rasa cokelat. (Kau menghabiskan dua mangkuk kala aku menyuapimu pagi itu!). Dan kau tak suka digendong tanpa bergerak. Menyebalkan. Padahal, waktu itu, berat badanmu di atas rata-rata. Kau pasti ingat, betapa aku selalu mengomel jika harus menimangmu.

Kalau saja kau masih bersama kami, kau pasti akan jadi kesayangan. Bapak dan Ibu pasti akan membelamu jika kita bertengkar. Aa akan melindungimu jika kau berkelahi (iya, kami yakin, kau pasti akan jadi ‘preman’ ^_^). Dan aku… aku akan membiarkan rambutmu memanjang, lalu mengepang atau menguncirnya dengan pita warna-warni. Kau pasti akan suka kepang kelabang. (Bapak yang mengajariku membuat jalinannya.) Lalu, aku akan mengantarmu ke sekolah, menggenggam tanganmu, menghujanimu dengan ciuman, dan membantumu mengerjakan PR. Jika hari pengambilan raport tiba, aku yang akan datang ke sekolahmu. Karena Ibu pasti akan sibuk di sekolahnya, dan kita tak mau mengganggu Bapak yang sedang melukis, bukan? Dan kalau aku sedang tak ada kuliah, kau juga boleh ikut ke kampusku. Teman-temanku pasti akan menyukaimu. Karena kau menggemaskan. Lincah. Dan cerdas.

Aku yakin, andai saja kau beranjak besar, kau akan menjelma jadi matahari pagi. Bersinar, namun tak menyengat. Hangat, namun tak membakar. Semua orang akan menyukaimu. Atau minimal, mereka tak akan punya alasan untuk membencimu.

Ah, mimpi memang bisa jadi sangat menyakitkan. Aku terperosok ke perut bumi saat mengetahui bahwa kau memutuskan untuk pergi lebih dulu. Entah karena kehilanganmu, atau karena kehilangan mimpi. Mungkin keduanya.

Selamat Ulangtahun, Bidadariku sayang….
Percayalah, kau selalu terselip di antara doa kami.

…Gadis itu lalu bangkit, membersihkan tanah yang menempel di celananya. Airmata yang disembunyikannya mulai luruh. Rasa kehilangan itu masih ada. Walau tak lagi mendera. Tempat ini mulai tak terurus, pikirnya. Rerumputan liar mulai tumbuh. Ia lalu memutuskan untuk kembali minggu depan. Janji yang entah bisa terpenuhi atau tidak…

(Sometimes it’s harder to be the one who survives).

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>