Sepotong Fragmen Yang Mampir Pagi Itu: Tak Lelahkah Ia?

Pagi itu sang gadis terbangun dan menemukan setumpuk surat di samping ranjang. Tersenyum-senyum ia membaca semuanya. Terkikik-kikik menghayati kisah kawan-kawannya. Baru saja hendak beranjak, jendela menguak. Angin utara kembali mengantarkan sepotong surat. Mendarat dengan manis di pangkuannya. Alisnya bertaut.

Nama itu. Benarkah ia?

Sampul suratnya yang muram memperkuat dugaan. Pasti. Pasti ia.

 Gadis itu menghela napas. Menghitung-hitung. Tujuh tahun. Tidak, delapan. Atau tujuh? Ah, entahlah.

Tak lelahkah ia? Continue reading

Cokelat, Sehat, dan Identitas

Hari ini kami masih membahas poskolonialisme dan aplikasinya dalam karya sastra dan hasil budaya. Dari teori Orientalisme-nya Edward Said, diskusi lalu melebar ke politisasi warna kulit. Dan terkejutlah saya karena teman-teman sekelas tak tahu bahwa Indonesia—dan Asia—terkena demam kulit putih.

Waarom willen jullie blank worden?” tanya seorang teman sekelas.

Dan, tentu saja, saya yang harus menjawabnya. Saya satu-satunya orang Asia di situ. Mengapa orang Asia ingin berkulit putih? Hmm… satu, dua detik saya terdiam. Kenapa, ya? Continue reading