Cokelat, Sehat, dan Identitas

Hari ini kami masih membahas poskolonialisme dan aplikasinya dalam karya sastra dan hasil budaya. Dari teori Orientalisme-nya Edward Said, diskusi lalu melebar ke politisasi warna kulit. Dan terkejutlah saya karena teman-teman sekelas tak tahu bahwa Indonesia—dan Asia—terkena demam kulit putih.

Waarom willen jullie blank worden?” tanya seorang teman sekelas.

Dan, tentu saja, saya yang harus menjawabnya. Saya satu-satunya orang Asia di situ. Mengapa orang Asia ingin berkulit putih? Hmm… satu, dua detik saya terdiam. Kenapa, ya?

Dan mengecaplah saya. Bahwa—dihubungkan dengan teori Orientalisme—orang Asia mungkin ingin berkulit putih karena mereka ingin lepas dari label the other. Mereka ingin menyerupai pihak dominan. Mungkin ini masalah identitas. Masalah cara orang Asia melihat diri sendiri dan eksistensi mereka.**

Atau bisa juga, putih jadi tujuan karena ia adalah representasi kenyamanan. Ia mencerminkan tingkat sosial dan ekonomi kelas atas yang “jarang kena matahari”. Perempuan—atau laki-laki—berkulit putih (hampir) selalu dianggap lebih terawat dan lebih mriyayi ketimbang mereka yang berkulit cokelat. Sekali lagi, ini masalah identitas. Masalah bagaimana kita melihat diri sendiri. Selanjutnya, kapitalisme yang mengambil alih. Memanfaatkan celah. Mempersenjatai diri dengan media. Mengkampanyekan peluang dagang. Dan meletuslah demam produk pemutih. Dari TjeFuk sampai SK II.

Dan saya tak mau kalah. Saya mengakhiri jawaban dengan pertanyaan balasan. Mengapa mereka ingin berkulit cokelat?

Jawaban mereka kira-kira begini:

“Yahh, karena kulit cokelat terlihat lebih sehat. Kalo lo putih dan pucat, orang-orang bakal nyangka lo sakit.”

Mengecewakan.

Menurut saya, pasti ada alasan yang lebih mendasar ketimbang hanya karena takut dianggap pesakitan.

Baru saja saya ingin menyanggah. Bel berbunyi. Kelas bersiap bubar. Saya mangkel.

Dan dosen saya menutup diskusi itu dengan pertanyaan, “Wil je blank worden, Feba?”

Saya menatapnya, lalu memandang sekeliling.

Menggeleng.

“Nee. Ik ben tevreden met mijn kleur en ik ben er trots op.”

Saya puas dengan warna saya. Dan saya bangga berkulit cokelat.

****

**Ceritanya catatan kaki, nih (hehehe..):

Saya selalu berpikir bahwa kita—orang Asia, atau orang Indonesia, deh—menganggap diri kita lebih rendah dari orang ‘barat’. Entah, mungkin kita terlalu lama dijajah, sampai kepercayaan dan kebanggaan diri pun hanya tinggal tipis tersisa. Dan ketika bicara masalah kecantikan, melongoklah kita yang menderita krisis identitas ini ke belahan bumi bagian ‘sana’: tinggi, putih, dengan mata warna-warni.

Mungkin itulah sebabnya, (beberapa) kriteria semacam itu turut larut dalam pembentukan konsep kecantikan yang, menurut saya, sangat tidak masuk akal dan digeneralisasi habis-habisan. Mungkin itu sebabnya beberapa dari kita rela suntik putih, padahal sumpah-deh-si-dokter-yang-nyuntik-juga-nggak-tau- cairan-apa-yang-disuntikkan.

(Ini serius dan nyata. Saya sempat bertanya kepada seorang dokter kecantikan ketika sedang menemani seorang teman yang rela bokongnya pegal-pegal terkena jarum suntik demi resepsi pernikahan dengan kulit kinclong. Dan jawaban si dokter cuma, “Ya… obat putih.” Jawaban yang sungguh sangat aduhai!)

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>