Skor Terakhir di Cruqland: 3-0

Si kembar Erik dan Niels termasuk mudah panik. Dan saya suka sekali memanfaatkan kepanikan mereka. Yang biasanya jadi korban adalah Erik. Soalnya ia lebih gampang panik daripada Niels. Jadi lebih seru. Hehehe…

Kali pertama saya iseng adalah beberapa bulan yang lalu. Hari itu kami jalan-jalan bertiga. Beredar di sekitaran Harlemmer- dan Breestraat. (Agenda mereka: hunting DVD dan beli tong sampah besar untuk di dapur. Agenda saya: hunting selimut dan seprai. Agenda kami: belanja bahan makanan. Lengkap!)

Pemberhentian pertama waktu itu adalah Blokker: beli tong sampah. Sembari menenteng-nenteng tong sampah yang ukurannya hampir sama dengan tubuh saya, kami beranjak ke Van Leest. Mulailah mereka hunting film Asia. Bosan menunggu (Booo, pelem Asia gitu.. di Glodok juga banyak pelem Cina yang gocengan), saya tiba-tiba menemukan ide cemerlang. Saya perhatikan tampang mereka: busyet, lebih serius dari Aktivis Perdamaian Dunia yang mikirin krisis di Kenya. Baguslah. Perlahan, tong sampah besar yang tadinya berdiri gagah di samping Erik, saya pindahkan ke pojok. Di balik tiang besar. Tersembunyi. Saya lalu sok ikutan sibuk lihat-lihat DVD. Beberapa menit kemudian Erik baru menyadari bahwa tong sampah raksasanya menghilang. Saya menunduk makin dalam. Mencoba menyembunyikan senyum. Walau mata saya tak bisa lepas dari pemandangan mahaindah: PANIK, Chuy! Hahahaha…

Dan inilah yang dilakukan Meneer Erik: tengok kanan-kiri, nggak ada. Berjalan tiga meter ke kanan dan ke kiri, nihil. Melongok ke rak DVD sebelah, nada. Mengedarkan pandangan ke penjuru Van Leest, niets! Wajahnya mulai panik: alisnya berkerut, pipinya memerah, matanya serius. Ia tengok kanan-kiri, berniat mencari petugas toko. Kayaknya dia pikir, si tong sampah ‘diamankan’ petugas.

Wat is er–ada apa?” tanya saya sok peduli.

“Tong sampah!”

Saya memasang tampang polos. Ia makin panik. Lama-lama saya tak tahan. Saya mulai cekikikan.

Waarom lach je–kenapa ketawa-ketawa?”

Die is daar,” kata saya, menunjuk ke ‘pojok rahasia’, di sela cekikikan yang makin mengerikan.

YOU, MEAN GIRL!!!”

Dan tawa saya makin menggelegar.

*****

Kali kedua adalah hari Minggu kemarin.

Jeroen, abang mereka, dan Carla, calon istrinya, datang mengunjungi kami. Setelah beberapa jam ngobrol dan makan, mereka pamit. Niels mengantarkan mereka ke parkiran. Sedangkan saya dan Erik berdiri di balkon. Menunggu kesempatan melambai-lambaikan tangan dari lantai tujuh, bagai penumpang Titanic yang mau berlayar. Tiba-tiba, triiingggg. Kira-kira apa yang bakal dilakukan Erik kalau ia pikir kami terkunci di luar dan nggak bisa masuk rumah? Itu yang ada di pikiran saya. Setelah meyakinkan diri kalau saya mengantungi kunci rumah, saya tutup pintu pelan-pelan. Erik masih nggak sadar, dia masih asyik ngeliatin Jeroen, Carla, dan Niels di parkiran. Setelah puas melambai-lambaikan tangan, ia berbalik. Mukanya langsung pucat melihat pintu yang tertutup. Artinya, kami nggak bisa masuk, karena pintu cuma bisa dibuka dari dalam. Kecuali kalau ada kunci. Ia merogoh kantungnya. Tentu saja, barang berharga yang dicarinya nggak ada. Ia menoleh. Saya mengangkat alis.

Heb je wel sleutels bij jou?” Ia bertanya apa saya bawa kunci.

Saya cuma membelalakkan mata dan ‘melempar bola’, “Bij Niels misschien?”

Nee. Niels nggak bawa kunci rumah ke bawah. Dia cuma bawa kunci pintu gedung. Kuncinya ada di atas meja,” jawabnya panik. “Dan kita juga nggak bisa minta tolong petugas gedung. Soal beginian cuma bisa diurus pas hari kerja. En het is weekend.”

Wajahnya memerah. Tanda-tanda alam bahwa ia panik beneran. Ia lalu melongok ke jendela dapur. Melongok ke jendela kamar saya. Seolah mengharapkan ide McGyver datang. Saya lihat Niels membuka pintu balkon, dari lift. Saya tak sanggup lagi. Cekikikan mengerikan saya mulai menampakkan diri.

Erik menoleh tak percaya.

Niels memandang kebingungan.

Wat is er?” tanya Niels.

“FEBAAAA. YOU, MEAN GIRL!!!” nada suara Erik meninggi.

Sembari ngakak dan memamerkan kunci rumah, saya berlari menjauh.

Sampai sekarang, Tragedi Kunci Rumah itu masih jadi aksi terbaik saya. Bahkan beberapa belas menit kemudian, ketika kami sudah kembali hangat di ruang duduk, menyesap teh masing-masing, Erik bilang, “Weet je, je bent gemeen! Masih deg-degan, nih.” Hahaha.. Yes, my friend.. indeed, I AM mean!

*****

Dan malam ini, si Gadis Kejam kembali beraksi.

Pukul setengah satu. Tengah malam. Saya baru selesai mandi (hihihi… lagi ketagihan mandi tengah malam, nih). Si kembar masih sibuk di depan komputer: main game. Di kamar, pandangan saya tiba-tiba menumbuk salah satu benda yang harus-dibawa-karena-paksaan-Ibu: masker wajah. (Salah satu benda serupa lain adalah bumbu-ikan-racikan-Mbah yang langsung ‘diimpor’ dari Banjarnegara dan sukses membuat saya dianggap pintar masak. Haha..)

Si triinggg tiba-tiba muncul lagi. Saya pakai masker itu. Cekikikan sendiri selama beberapa menit. Mematikan lampu kamar. Menyalakan lampu meja yang remang-remang. Menyiapkan pose terbaik. Lalu berteriak: “SOMEBODY HELP MEEEEE!!!”

Saya mendengar gedubrak-gedubruk di ruang kerja. Langkah-langkah kaki tergesa. Pintu kamar saya dibuka paksa.

“Feba, wat is er? Kenapa?” tanya mereka hampir berbarengan.

“FEBA?”

Saya diam saja. Menunduk. Membelakangi mereka. Rambut panjang saya terurai tak karuan. (Sayang, jubah saya merah jambu. Coba kalau putih. Pasti lebih ciamik.).

“Feba?” Erik memegang bahu saya, lalu memutar tubuh saya.

“HUAAAAAAAAAAAAAAA!!!!” Saya pasang wajah seseram mungkin. Beraksi seolah hendak mencekik. Mereka terhenyak. Erik melepas tangannya cepat. Niels mundur selangkah. SAYA LANGSUNG NGAKAK.

“FEBAAAA!!!!!! NOT AGAAIIINNNN, YOU MEANY!!!!”

Saya ingat, mereka tak suka hantu Asia. Apalagi Indonesia. Minggu lalu, saya pernah memperkenalkan beberapa pada mereka, lewat situs-situs hantu Indonesia yang bertebaran di jagat maya. Dan waktu itu, mereka bergidik ngeri memandang Sundel Bolong: perempuan berambut panjang dan berwajah putih. Dua ciri-ciri yang malam ini saya perlihatkan.

Jadi, silakan bayangkan sendiri betapa kagetnya mereka menemukan makhluk semacam itu di sini, di rumah mereka sendiri! Jangan lupa, bayangkan juga betapa bahagianya saya melihat reaksi mereka yang sungguhlah amat dahsyat.

Nah, skor Cruquius-Land sampai saat ini: 3-0. Saya masih di atas angin. Laporan selesai. Cihuuuyyyyy.

hantuhantu1

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>