Maka, Berbahagialah Saja

Berbahagialah.

Karena pada akhirnya, semua toh akan baik-baik saja.

Awal semester lalu, saya terlambat datang. Saya baru sampai di Leiden lima minggu setelah perkuliahan dimulai. Jangan tanya alasannya, yang pasti itu bukan salah saya. Hari kedua di Leiden, Pembimbing Akademik saya menyambut dengan setumpuk fotokopi artikel, notulen kuliah, silabus detail minggu per minggu, plus daftar paper dan tugas yang harus saya kejar.

Belum sempat menarik napas dan memeriksa tumpukan itu, beban mata kuliah lain pun menjerat erat. Ah, susah payah saya mengejarnya. Hampir tanpa semangat. Setengah hati. Kelelahan. Dan penuh keyakinan bahwa saya-lah siswa terbodoh di kelas. Yang selalu tertinggal belasan langkah di belakang.

Dan bahasa adalah hambatan terberat saya.

Sungguh, saya benci yang satu ini. Continue reading

Hasil Ujian Her si Kupu-kupu Malam

Bahagia-bahagia-bahagia!

Hihihi.. boleh, dong?!

Ceritanya, sebulan lalu saya ujian mata kuliah Didaktik. Bahannya aujubile. Bodohnya, saya terlalu ‘sibuk’ sampai-sampai baru belajar dua puluh empat jam sebelumnya. (Hihihihi, yes, Sir… old habit DOES die hard!). Dan di kelas, ketika mengerjakan soal, saya cuma bisa ngecap seadanya, sambil terus berpikir, “Hmm, ini siapa, ya? Kayaknya kenal, deh,” tiap kali ada nama teoretisi muncul.

Ah, goblok emang. Nggak belajar dari pengalaman. Continue reading