Maka, Berbahagialah Saja

Berbahagialah.

Karena pada akhirnya, semua toh akan baik-baik saja.

Awal semester lalu, saya terlambat datang. Saya baru sampai di Leiden lima minggu setelah perkuliahan dimulai. Jangan tanya alasannya, yang pasti itu bukan salah saya. Hari kedua di Leiden, Pembimbing Akademik saya menyambut dengan setumpuk fotokopi artikel, notulen kuliah, silabus detail minggu per minggu, plus daftar paper dan tugas yang harus saya kejar.

Belum sempat menarik napas dan memeriksa tumpukan itu, beban mata kuliah lain pun menjerat erat. Ah, susah payah saya mengejarnya. Hampir tanpa semangat. Setengah hati. Kelelahan. Dan penuh keyakinan bahwa saya-lah siswa terbodoh di kelas. Yang selalu tertinggal belasan langkah di belakang.

Dan bahasa adalah hambatan terberat saya.

Sungguh, saya benci yang satu ini.

Seumur hidup, bahasa-lah yang biasanya menyelamatkan saya. Rangkaian kata-kata indahlah yang jadi teman pertama saya: pelarian, ketertarikan, hasrat, cinta.

Lalu tiba-tiba, ia berbalik menyerang.

Dan saya marah: paper berbahasa Indonesia yang biasanya bisa dua kali lipat tebalnya dari tuntutan tugas, berganti tinta merah para dosen di atas bahasa Belanda saya yang dinilai belum cukup akademis. Argumen-argumen yang biasanya muncul sukarela dan hampir bebas hambatan di antrian kalimat tak-terlalu-panjang, berubah wujud menjadi kode-kode editing yang menandakan bahwa saya harus memilih diksi dan konstruksi kalimat lain.

Bahasa tiba-tiba jadi musuh saya.

Ia tak lagi menjembatani. Cenderung membendung. Melarang ide menemukan bentuk di atas kertas.

Ujian tertulis juga bukan kabar baik. Kekuatan terbesar saya pun turut raib: ngecap. Ah, teman-teman sekelas saya dulu pasti tahu, kemampuan (yang menurut mereka) menyebalkan inilah yang membuat saya bertahan: persahabatan dengan ide-ide sederhana yang terbungkus kalimat indah nan mempesona-lah yang berhasil mengelabui para dosen dan menyelamatkan saya dari IPK di-bawah-garis-kemiskinan.

Dan lihatlah saya semester kemarin.

Terseok-seok mengejar ketertinggalan. Dengan kebiasaan buruk yang belum juga hilang: tergopoh-gopoh bangun kesiangan, baru tidur di atas pukul tiga dini hari. Dan, yang paling penting untuk dicatat, tanpa melakukan apa pun yang seharusnya dilakukan. Sayangnya, saya masih si mahasiswa Sastra UI yang ceroboh, malas, pelupa, dan deadliner. Segalanya masih dieksekusi di menit terakhir. Masih berjaga di garis finish untuk semua hal yang berkaitan dengan tenggat.

Hasilnya?

Tentu saja ketidakjelasan nasib dan satu ujian her. (Ya, bersenanghatilah, Tasha… saya tahu kamu terbahak di sana). Dan saya cuma bisa tersenyum miris waktu itu. Tak cukup ujian her, salah satu dosen lain meminta saya melakukan presentasi pada musim liburan—tepat pada hari ulang tahun saya—karena jam kuliah normal tak cukup menampung presentasi mahasiswa susulan yang baru nongol pada bulan kedua perkuliahan. Cuma bisa memonyongkan bibir ketika memandang barisan kolom nilai yang kosong karena paper-paper dan tugas akhir saya belum selesai dikoreksi. Memandang angka lima, satu-satunya hasil ujian yang memamerkan diri di samping kode hertentamen.

Dan saya cuma bisa meyakinkan diri, kalau semua akan baik-baik saja. Walau rasanya, saya sendiri tak bisa percaya. Baik-baik saja adalah frase yang hampir mustahil. Cenderung ajaib.

Syukurlah, hari ini akhirnya semua terjawab.

Nilai-nilai bermunculan. Aman terkendali. Saya menarik napas lega.

Lalu pertemuan dengan Pembimbing Akademik, yang terbelalak ketika saya bertanya apakah saya yang terbodoh di kelas. “Natuurlijk niet–tentu saja tidak,” jawaban itu lalu dilanjutkan dengan penjelasan panjang lebar yang sungguh membuat saya bahagia.

Ah, saya benar-benar lega.

Satu e-mail lagi saya terima sore ini. Hasil ujian her. Hati-hati saya baca surat pendek itu. Dan tersenyum bahagia melihat angka yang menggantikan nilai sebelumnya.
Akhirnya, sekali lagi saya membuktikan. Bahwa toh pada akhirnya, semua akan baik-baik saja. Dengan caranya masing-masing.

Jadi, berbahagia sajalah.

Toh semuanya pasti akan baik-baik saja.

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>