Wise Words From the Wise Mr. Luca

“You, make your life complicated before you turn 30! So that later, you know how things work. You’ll understand more. Really. If you think your life now is complicated, then you’re on the right path.”

luca

 Yeah, sure!

Look at you, You Old Man!

Hahaha….

**Foto diambil ketika Ilmuwan Sinting ini sedang mengunjungi saya di Leiden.

Bersamamu (Sebuah Peninggalan Dangdut Si Petrik Yang Wajib Diabadikan)

Pagi tadi, bangun tidur dan menyalakan laptop, lalu log-in ke Yahoo! Messenger, saya menemukan sesuatu yang membuat saya terbahak sekaligus berkaca-kaca. Seorang sahabat bodoh meninggalkan offline messages yang sangat mengharukan:

RikaRich ricka: Boob, aku merindukan memanjat pagar [kost-an, red] bersamamu..

RikaRich ricka: aku merindukan jalan-jalan bego di ITC bersamamu

RikaRich ricka: aku merindukan beli martabak keju tengah malam denganmu

RikaRich ricka: aku merindukan jam gembira [happy hours, red] sambil godain Pras bersamamu Continue reading

Kepada Petrik di Bikini Batem

Dear Petrik,

Apa kabar engkau?
Ternyata sakit beneran, ya?

Si Bundel sempat mengirimiku imel, bilang kalau kamu sakit. Tapi kupikir, kamu cuma masuk angin biasa. Kebayakan begadang. Pegel-pegel. Terus minta dipasangin koyo kayak lansia. Atau, minta dikerokkin. Mirip tukang ojek yang semaleman cari penumpang. (Oh, aku rindu mereka!). Tapi hari ini, aku sempat chat sama Mr. O. Dia bilang kamu kena typhus. Hah? Beneran? Lalu gimana kelanjutannya? Siapa yang menungguimu di sana? Uhh.. kasihan sekali kamu, Temanku. Continue reading

Tertidur di Minggu Siang

Minggu siang ini saya jatuh tertidur di sofa. Di ruang duduk, di sebelah jendela besar lantai tujuh Cruqland. Ditemani tumpukan buku yang niatnya akan dibaca. Tentu saja sebelum saya jatuh tertidur.

Ketika membuka mata, ponsel saya sudah menunjukkan pukul enam sore lewat sekian menit. Mendongak, langit terlihat muram. Walau belum benar-benar gelap. Sunyi. Dan semuanya membuat saya kembali jatuh rindu. Continue reading

Potret yang Indah, Ulangnya Sekali Lagi

Mereka berjalan beriringan melintasi setapak kecil. Cuaca sangat cerah. Ia bisa merasakan hangatnya matahari di bulu mata. Di sebelahnya, seseorang berusaha berjalan perlahan. Mengikuti ritme langkahnya yang tak secepat miliknya.

Musim dingin berlalu sudah, katanya. Ya, walau tanpa salju, jawabnya muram. Ia tertawa. Memandangnya. Lalu berbisik, kamu cantik. Sekarang, pipinya yang menghangat. Dan ia tahu, bukan karena matahari. Continue reading