Potret yang Indah, Ulangnya Sekali Lagi

Mereka berjalan beriringan melintasi setapak kecil. Cuaca sangat cerah. Ia bisa merasakan hangatnya matahari di bulu mata. Di sebelahnya, seseorang berusaha berjalan perlahan. Mengikuti ritme langkahnya yang tak secepat miliknya.

Musim dingin berlalu sudah, katanya. Ya, walau tanpa salju, jawabnya muram. Ia tertawa. Memandangnya. Lalu berbisik, kamu cantik. Sekarang, pipinya yang menghangat. Dan ia tahu, bukan karena matahari.

Dari kejauhan sepasang kakek-nenek melangkah ke arah mereka. Berdua. Bergandengan tangan. Erat sekali. Ia tersenyum. Mooi beeld, gumamnya. Potret yang indah. Di sebelahnya, seseorang menyetujuinya. Ya, potret yang indah. Mereka melambat, memberi jalan pada kakek-nenek. Sang kakek tersenyum. Lalu berseru sembari menepuk bahunya. Laat haar maar nooit los, jongen!

Ia mendongak. Mendapati senyum tersipu di sana. Menggemaskan. Ia menggigit bibir. Menunduk. Ikut tersipu mendengar kalimat itu.

Laat haar maar nooit los. Never let her go.

Ia kembali menatapnya. Ia pura-pura tak menyadari. Terus menunduk. Tak ada yang bisa dikatakan. Kata-kata tak akan pernah cukup membungkus kupu-kupu di dadanya.

Mereka terus berjalan. Melintasi setapak kecil di sebelah danau. Lalu kembali menoleh. Menatap pasangan kakek-nenek yang baru lewat.

Ya, potret yang indah, ulangnya sekali lagi.

 

 

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>