Resep: Marah Ketika Lapar, Lapar Ketika Marah

Sedang merasa sangat marah? Kesal karena lift rusak padahal Anda tinggal di lantai tujuh dan harus buru-buru ke kampus saat pagi masih buta? Atau baru saja bertengkar dengan teman serumah Anda cuma gara-gara cucian yang belum sempat dijemur? Kalau begitu, silakan coba resep yang satu ini:

 Ayam Jamur Penghapus Amarah

 Bahan:

  • Segumpal besar rasa kesal yang amat sangat
  • Sisa ayam kemarin yang sebelumnya sudah direbus dengan bumbu seadanya
  • Sisa jamur segar yang baru dibeli dari pasar
  • Bawang Bombay sesukanya
  • Bawang Putih seputih-putihnya

Bumbu:

  • Koleksi kata-kata makian dalam berbagai bahasa
  • Sambal Oelek nan sakti di setiap kesempatan
  • Kecap manis walau merk-nya bukan ABC
  • Garam nggak penting yang sumpah-kagak-asin
  • Bumbu-bumbu nggak signifikan yang ada di lemari dapur, seperti lada hitam dan ketumbar bubuk. Kalau Anda punya yang lain, silakan keluarkan juga.

Lain-lain:

  • Minyak: mau minyak goreng, minyak biji matahari, minyak zaitun, minyak kayu putih, terserah!
  • Margarin atau mentega (sebenernya, apa bedanya sih, margarin ama mentega? Nggak penting banget! Bikin tambah kesel aja, deh!)
  • Wajan atau panci. Suka-suka Anda-lah, saya mah nggak peduli!
  • Sodet, atau telapak tangan jika Anda memang menguasai debus.
  • Pisau dan tatakannya, kalau perlu. Kalau Anda lebih suka mengunyah bawang sebelum digoreng, pastikan Anda sudah sikat gigi. Itu yang penting.

Cara Memasak:

  • Pisahkan rasa kesal yang menggumpal dalam bulatan-bulatan kecil per kasus, seperti LIFT MATI, JEMURAN, ASISTENSI NYEBELIN, BANYAK TUGAS, TESIS YANG NGGAK JALAN-JALAN, dan BULE SIALAN.
  • Panaskan minyak. Tunggu sampai minyaknya sepanas hati Anda.
  • Setelah sama panasnya, goreng bulatan-bulatan kekesalan dan ayam rebusan sembari terus dibolak-balik. Usahakan agar ayam tidak terlalu matang digoreng. Yaah, cukup sampai kenyal-kenyal gimanaa gitu.
  • Sementara menunggu si ayam kenyal, hajar Jamur, Bawang Bombay, dan Bawang Putih sampai bonyok. Jangan lupa tambahkan maki-makian terciamik dalam bahasa Belanda. (Jangan gunakan Godverdomme atau Verschrikkelijk karena sudah usang. Pilihlah kata-kata seperti Kut, Wat een lul, Shit, dan Klootzaak karena jauh lebih trendi. Ingat, dalam keadaan apa pun, kita harus tetap terdengar gaya.).
  • Setelah ayam terlihat setengah matang (atau tiga per empat, sesuai selera), angkatlah potongan ayam tersebut, lalu tiriskan. Jangan lupa cela-cela si ayam. Sepertinya ia tak akan keberatan dikatain Ayam Kampus. Makin lama Anda memaki, makin baik.
  • Panaskan margarin, sesuai suhu hati Anda yang mungkin sudah agak mendingin. Masukkan Bawang Putih, lalu Bawang Bombay. Aduk irisan bawang tersebut dengan makian dari Indonesia. Ingat, pilih yang terkini dan terpercaya. Anda juga bebas menambahkan nama orang di sini. Kalau yang dimaki bule, toh dia juga nggak bakal ngerti. (Kecuali kalo si Bule belajar bahasa Indonesia. Aarrgghh!!).
  • Setelah harum kata-kata makian tercium, tambahkan sesendok atau dua sendok (sesuai selera) Sambal Oelek. Suasana hati yang sudah tenang bisa dipastikan ‘menghangat’ kembali akibat aroma sambal yang membuat mata Anda pedas.
  • Setelah sambal dan bawang tercampur dengan baik, tambahkan kecap manis. Pejamkan mata dan bayangkan bahwa Anda sedang mengucurkan kecap ke wajah orang yang membuat Anda kesal. Lakukan dengan sepenuh hati, sembari berteriak, “Monyeeetttt.”
  • Aduk semua bahan biadab yang telah tercampur di wajan, tambahkan sedikit air, lalu garam, ketumbar, dan lada bubuk. Walau Anda tak tahu fungsi ketiga benda itu, setidaknya sensasi melempar-lempar bumbu ke dalam wajan akan membebaskan Anda dari emosi yang tertahan.
  • Ceburkan para Ayam Kampus dan Jamur Bonyok ke dalam lautan hitam tersebut. Aduk-aduk sembari mengucapkan istighfar untuk menghapus dosa. Terus aduukk, pejamkan mataaa. Tarik napaasss. Tahaaaannn. Hembuskaann lagiii. Hitung sampai sepuluuhh. Dan selesai!

ayam

Tips:

Sekarang, ayo makan! Menu ini sangat ciamik jika dikombinasikan dengan nasi hangat. Ya, begitu. Ayo, nambah lagi. Sepiring, dua piring, tiga piring. Tapi awas! Jangan mengulang kesalahan saya: menghabiskan semuanya untuk makan siang. Karena niscaya, Anda akan terserang virus kesal yang sama seperti sebelum memasak. Panik dan baru nyadar: “Kampreett!!! Ntar malem gue makan apaaa????”

Wassalam.

 

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>