Arrrgghh!

Arrgghhhhh!!!!

Kenapa sih, SEMUA ORANG di buku-buku sialan ini bilang kalo Indonesia merdeka tahun 1949??? Itu juga di bawah istilah soevereiniteitsoverdracht, alias penyerahan kekuasaan.
Ih, benci, deh! Begini nih, kalo nulis sejarah dari sudut pandang Eropa (baca: penjajah).
*kesel sendiri di tengah deadline tesis*

Tapi, tapi… di mana-mana, penulisan sejarah emang nggak pernah objektif, ya? Pasti bertujuan membangun nasionalisme dan membentuk pencitraan superior dari negara yang bersangkutan.

(Dan untuk menutup jumpa kita kali ini, sebagai seorang nasionalis, saya mau teriak kenceng-kenceng: TAON 49 DARI HONGKOOONGGGGG!!!?? Satu lagi: PENYERAHAN KEKUASAAN NENEK MOYANG LOOOO????)

Hujan (dan) Celana Dalam

Dasar negara aneh, ganti cuaca kok lebih sering dari saya ganti celana dalem!

Bayangin aja, kemarin pagi cuaca cerah ceria cenderung hangat. Jadilah saya keluar rumah dengan jaket denim kebangsaan yang tebelnya sama kayak kertas A4 80 gram. Siangan dikit, dengan harap-harap cemas saya mengintip langit kelabu dari balik perpustakaan (maksudnya, perpustakaan makanan alias kantin Lipsius. Hehehe..). Gerimis mengundang. Sorean dikit, matahari berkunjung lagi. Lega. Tragisnya, baru aja nemplok di atas sepeda, berniat melaju ke lokasi permodelan, hujan deras menyambar. Pakai petir segala. Monyong! Sampai di ARS, penampakan saya udah kayak tikus kebayakan pake gel: basah kuyup. Malamnya, ketika akhirnya kembali menjejakkan kaki di lantai tujuh Cruqland, pakaian telah kering di badan, tertiup angin sotoy-sotoy (baca: lebih kenceng dari sepoi-sepoi) sepanjang jalan. Continue reading

Dari Seorang Pemimpi Kepada Sahabatnya Yang Juga Pemimpi

Teman,

Aku baru selesai mandi.

Kamu tahu nggak, tadi di kamar mandi, ketika berdiam diri di bawah kucuran air, tiba-tiba aku teringat kisah Alkemis.

Lalu terpikir,

Mengapa ya, kita selalu didukung untuk jadi pemimpi?

Maksudku, film, novel, sampai buku-buku self-help, semua mendukung kita untuk membangun mimpi.

Padahal, pernahkah kamu menyadari, Teman: manusia tanpa mimpi menjalani hidup dengan lebih merdeka. Dan lebih sederhana.

Karena kita, para pemimpi, selalu terikat dengan impian kita. Dan terbelenggu oleh keinginan untuk menjadikannya nyata.

Ah, malangnya.

Bocah Kecil di Kereta Seberang

Minggu siang, 13 April 2008.

Intercity.

Leiden-Utrecht.

Kami duduk bertiga. Menuju Hogezand, rumah Oma Lammers yang hari ini ulangtahun. Saya kebosanan. Buku acuan sejarah Indische Nederlanders yang harus saya baca demi tesis tak lagi bisa diolah otak mungil saya. Di depan saya, Niels asyik membaca novel Lulu Wang. Sedangkan Erik sibuk dengan kameranya.

Saya lalu memandang ke luar jendela. Sebuah kereta menjajari kami. Dan saya menemukannya: sepotong wajah mungil nan polos, dengan tatapan mata yang sangat menggemaskan. Seorang bocah laki-laki berumur lima-enam tahunan duduk di sana. Di sebelah ibunya yang tertidur pulas. Pandangan kami bertemu. Dan saya langsung jatuh cinta pada jernih matanya. Continue reading