Interpretasi Wajah di Kelas Potret

Ketika seorang teman bertanya apakah saya mau menjadi model lukis potret di sebuah sanggar seni dekat kampus, saya langsung mengangguk. Bahkan sebelum bertanya berapa bayarannya.

Alasannya sederhana: saya selalu mencintai lukisan. Mungkin karena ayah saya juga melukis. Saya rindu wangi cat minyaknya. Dan obrolan kami ketika ia sedang melukis di teras belakang.

Selain itu, menurut saya, melukis objek adalah membangun interpretasi. Seorang pelukis tidak pernah benar-benar melukis objek di depannya. Ia membangun interpretasinya akan objek tersebut, lalu menuangkannya dalam goresan warna.

Dan saya penasaran bagaimana wajah saya akan diinterpretasikan.

Jadi hari ini, datanglah saya ke ARS. Walau harus mengorbankan tradisi bangun siang. Menjadi objek lukis potret.

Tak lama, saya dipersilakan masuk ke ruang kursus di lantai dua. Sebuah atelier besar yang membuat senyum saya mengembang. Lantai kayunya. Cipratan cat di mana-mana. Kertas dan kanvas, serta material lukis yang berantakan. Rak yang dipenuhi buku panduan melukis dan kuas-kuas berbagai ukuran. Saya merasa pulang ke rumah.

Dan di sanalah saya. Duduk tenang. Tak bergerak selama para peserta kursus sibuk menangkap wajah saya dengan pandangan menerka-nerka, mencari sudut terbaik. Suara goresan conté di atas kertas. Ceceran cat air yang kadang salah kombinasi. Sungutan kesal ketika salah menarik garis. Pertanyaan kecil tentang membentuk bayangan. Semua saya nikmati. Tanpa terusik.

Saya merasa kembali ke rumah. Di sebelah ayah saya yang melukis dengan hening.

Dan sembilan puluh menit — yang dibagi ke dalam dua sesi —berlalu begitu saja. Bersama kenangan yang saya ajak bersenang-senang di kursi objek.

*****

 Catatan Panjang:

* Setelah kurang lebih sembilan puluh menit diam mematung, bergerak rasanya jadi indaaahh sekali. Mungkin itu juga yang perlu kita lakukan dengan hidup: sembilan puluh menit berdiam diri. Hanya mengamati. Mengenang. Menikmati ketidakbergerakan. Lalu kembali melaju. Melanjutkan perjalanan.

** Ketika sesi berakhir, beberapa orang menghadiahkan hasil lukisannya kepada saya. Satu langsung saya boyong. Sisanya masih basah. Dan masih tergantung di atelier itu sampai sesi selanjutnya. Sungguh, kado yang sangat indah di Sabtu pagi yang tergesa.

 

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>