Ebtanas Jurusan Apa?

Siapa bilang cuma orangtua yang suka pusing ngadepin anak. Tingkah orangtua juga sering bikin pening.

Setidaknya, hal ini berlaku untuk orangtua saya. Hari ini, bangun (terlalu) pagi gara-gara timbunan wekker si kembar menjerit-jerit, saya langsung sarapan dan menelepon ke rumah. Agak heran karena suara Ibu yang menyambut saya di seberang sana.

“Lah, Ibu nggak sekolah?”

(Pengulangan info: Ibu saya guru SD)

“Nggak. Cuman ngawas ujian sebentar. Udah pulang. Kan hari ini EBTANAS SD.”

Kami lalu mengobrol. Yang nyebelin, tiap kali Ibu bertanya sesuatu dan saya sedang berusaha memberikan jawaban memuaskan atas pertanyaannya, ia sudah memberi saya pertanyaan baru. Begini, nih, kira-kira:

“Sakit tenggorokan kamu udah sembuh, Kak?”

“Udah. Tapi sekarang malah agak pi…”

“Udah minum Vitamin C, kan? Minum susu juga?”

“Iya. Udah sembuh, kok. Kemaren cuman dua ha…”

“Eh, kamu tau nggak, si M temen kamu SMP itu mau nikah? Undangannya baru dateng, tuh.”

“Hah? M yang ibunya temen Ibu itu? Nikah ama sia..”

“Kamu kemaren jadi masak kangkung-nya? Katanya mau nelepon kalo masak, nanyain bumbu. Kok nggak nelepon-nelepon?”

Menghadapi Ibu yang ajaib, saya lama-lama jadi sesak napas.

“IBUUUUU.. SATU-SATU, DONG! MASAK NANYA SATU BELON DIJAWAB UDAH NANYA LAIN LAGI. IIHHHH.. GIMANA SIIHHH???”

Dan reaksi supercanggih Ibu yang dilontarkannya dengan kalem adalah:

“Ah, kamu. Baru gitu aja udah ngomel-ngomel. Anak SD aja tadi EBTANAS langsung dikasih 75 pertanyaan sekaligus, nggak protes.

*pening berkepanjangan*

Dari Ibu, telepon berpindah ke Bapak. Dan harapan saya untuk mendapatkan penyejukan rohani — setelah cobaan dari Ibu tadi — terpaksa hancur berantakan, karena Bapak Sukmana yang keren itu langsung melontarkan PERTANYAAN ABAD INI:

“Kak?”

“Apaan? Bapak kangen, ya?”

“Ih, orang mau nanya: kamu tuh di sana sebenernya KULIAH JURUSAN APA, sih? Bapak nggak tau!”

Saya naik pitam.

Duhh, Gustiii..

Dosa apa sayaa? Padahal selama ini saya merasa disayang dan diperhatikan loh, oleh orangtua saya. Namun mengapaaa.. oh, mengapa pertanyaan macam ini bisa muncuull?

Dan setelah tiga kali menarik napas panjang, saya langsung menjawab dalam keadaan darah tinggi hampir stroke:

“Jurusan Kampung Rambutan-Depok. Turun di KOBER, jalan ke kosan Rika trus nongkrong di WARNET ampe pagi.”

Anehnya, ayah saya seakan tidak terganggu dengan jawaban ini. Dengan suara bass-nya yang datar, ia cuma bilang, “Norak lo, serius juga nanyanya.”

*hampir berniat bunuh diri*

Ya, Tuhan..

Ampunilah dosa kedua orangtuaku dan sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku ketika aku masih kecil. Amiiiin.

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>