Mr. P

Teman Cina saya, Jacklyn, memang pintar-pintar bodoh.

Kemarin, bodohnya yang merajalela ke permukaan.

Saya sedang asyik mojok di kantin Lipsy dengan artikel hybridity-nya Korsten dan sebotol Aquarius yang rasanya mirip Pocari Sweat ketika ia tiba-tiba muncul.

Mukanya bersemangat. Ia menyapa dari jarak lima meter, lalu menghampiri saya.

“Heyy, Feba.. ‘K heb iets voor jou,” belum lagi duduk, ia sudah antusias memberitahu bahwa ia punya sesuatu untuk saya.

“Apa?”

“Ituuuu.. yang waktu itu kamu tanya ke saya. P*n*s!!”

Watte?

Saya tersentak mendengar Jacklyn menyebut alat kelamin laki-laki dengan ketukan 4/4 bernada dasar Y (= yakin). Jantung saya berdegup keras. Apa iya, saya pernah nanya sama Jacklyn soal benda milik kaum lelaki itu? Masak, sih?

“Iyaaa.. yang waktu itu kamu tanya pas kita lagi kuliah TCI di Eyckhof! P*N*S!!! Masak lupa, sih?”

Suara Jacklyn makin keras.

Beberapa orang menengok dan menatap aneh.

Saya makin menganga.

Aaahh, kayaknya saya nggak pernah ngomongin yang bokep-bokep begitu sama Jacklyn. Lagian juga, buat apa dia ngasih-ngasih saya p*n*s? Kapan saya minta dikadoin d*ld*? Gawat ini!

“Jacklyn, rustig! Even zitten! EN NIET TE HARD PRATEN.” Saya menenangkannya, menyuruhnya duduk, dan membungkam mulutnya.

“Maksud kamu apa, sih? Sejak kapan kita ngomongin p*n*s? Kapan saya nanya soal p*n*s ke kamu?”

My Goodness, vergeet je het al? Kamu beneran udah lupa? Itu loh, waktu itu kamu liat ada cewek pake p*n*s, kamu bilang p*n*s-nya mooi, trus kamu tanya ke saya, belinya di mana. Nah, kebetulan kemarin saya lihat di HEMA. Sekalian aja saya beliin buat kamu. Murah, kok.”

Jacklyn nyerocos sambil merogoh tas-nya, berusaha mencari benda yang ia maksud.

Saya deg-degan. Dan merasa amnesia. Sejak kapan ada perempuan memakai p*n*s berkeliaran di kampus? Sebebas-bebasnya Belandaa yaa.. tetep aja belon ada orang mengobral p*n*s di muka umum.

“Nih,” dengan senyum lebar, Jacklyn menyodorkan benda yang disebutnya p*n*s.

GODALLEMACHTIG!! STOMME Jacklyn!” teriak saya. “Ini maksud kamu?”

“Iya, memang kamu pikir apa?” gantian, mukanya yang terlihat bingung.

Saya menarik napas panjang, mengambil stocking berbahan nilon yang disodorkannya, lalu berceramah panjang lebar. “Jacklyn, dit is geen p*n*s. Ini namanya PANTY’S! Bukan P*N*S! Ya Tuhaann, bedanya panty’s ama p*n*s jauh, Jacklyn!”

Dan setelah saya jabarkan bedanya panty’s dengan p*n*s, gantian Jacklyn yang membelalakan mata. Sembari memegang dada, ia berkata, “Lieve Hemel — Oh, my God!”

Nou, gelukkig zeg je nu ‘Lieve Hemel’ — untung sekarang kamu masih inget untuk bilang ‘Lieve Hemel’, saya pikir kamu mau bilang ‘Lieve Pi*mel’,” * goda saya.

Wajah Jacklyn makin memerah.

—–

* Pi*mel: bahasa Belanda informal yang artinya p*n*s.

 

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>