365 Days – and still counting

Setahun lalu, saya memiliki segalanya.

Setidaknya, saya memiliki segalanya yang saya butuhkan. Keluarga, teman-teman, pacar, pekerjaan. Hidup saya stabil: kunci ‘keamanan sosial’ ada di genggaman saya — saya datang dari keluarga yang memenuhi kriteria ‘ideal’. Saya tidak akan dituding tidak laku, karena saya punya pacar. Saya tidak akan dianggap asosial, karena saya selalu dikelilingi teman-teman baik. Tak akan ada yang menyebut saya parasit, karena saya punya pekerjaan, punya karier — kalau Anda lebih suka menyebutnya begitu.

Hidup saya nyaman: keluarga, pacar dan teman-teman menyayangi saya. Saya tidak terlalu peduli dengan fakta bahwa saya kadang masih harus berdesakkan di bus kota, atau berjaga-jaga agar tidak dirampok di angkot — bukan itu prioritas kenyamanan versi saya. Hidup saya nyaman, karena saya tahu bahwa dunia kecil saya menyenangkan dan penuh cinta.

Singkat kata, hidup saya sempurna.

Dan saya bahagia.

Saya memiliki semua yang dibutuhkan manusia dalam hidup: cinta, keamanan dan sedikit idealisme.

Dan saya memilih untuk meninggalkan semuanya. Setahun lalu.

Beasiswa ‘komplit lahir-batin’ yang ditawarkan Nuffic bukan alasan utama kepergian saya. Pencarian diri dan traveling. Itu dasarnya. Saya ingin keluar sejenak dari hidup sempurna saya. Mengambil jarak dari keseharian saya. Menganalisis segalanya dari jauh. Dan mencoba merekonstruksi konsep pribadi tentang ‘diri’ dan ‘hidup’.

Saya ingin bepergian ke tempat-tempat yang belum pernah saya datangi. Tempat di mana segalanya asing, tempat di mana saya harus kembali belajar untuk mengerti, untuk memahami: budaya, nilai, perspektif, sistem. Lalu merangkum semuanya, membandingkannya dengan konsep yang telah tertanam di kepala saya selama dua puluh tiga tahun.

Waktu itu, saya kadang merasa seolah saya adalah tokoh naif dan idealis — baca: BODOH BUKAN MAIN — dalam novel atau film picisan. Meninggalkan segalanya. Untuk alasan-alasan yang sangat abstrak. Sungguh tidak rasional.

Toh, saya pergi.

Saya masih ingat benar perpisahan di bandara Soekarno Hatta. Perjalanan 17 jam yang saya lewati sendiri. Dan Schiphol yang menyambut saya dengan suhu dua puluh derajat lebih rendah ketimbang Jakarta.

Setahun lalu, saya memiliki segalanya.

Dan seperti janji saya pada diri sendiri, perlahan saya mencoba menganalisis semuanya dari jauh. Satu per satu. Lalu melihat hidup sempurna saya perlahan runtuh. Seperti atom yang memisahkan diri dari kesatuan molekul yang mengikatnya.

Dengan teliti saya amati segalanya. Pola-pola teratur yang membentuk identitas saya selama ini, motif-motif yang terbentuk di alam bawah sadar, pilihan-pilihan yang sebenarnya sama sekali tidak random.

Beberapa hal tiba-tiba jadi terlihat jelas.

 Dan sisanya, masih saya pertanyakan.

Setahun penuh. Dan pencarian saya belum juga usai.

Alasan-alasan sederhana yang saya miliki ketika memutuskan untuk pergi, kini berubah menjadi debat panjang yang makin rumit.

Mungkin mereka benar: be careful of what you wish for!

Namun saya sama sekali tidak menyesal.

365 days, and still counting, Baby…

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>