A Little Bit More of Happiness

Dan suatu hari pertanyaan itu sampai juga ke telinga Mr. Dutchie.

Give me a reason why we are so busy finding someone,” kata-kata itu meluncur begitu saja di sela brunch kami, di pojok Bagels & Beans yang selalu sibuk di Minggu pagi.

Mr. Dutchie baru saja selesai bercerita tentang rekan kerjanya. Kisah klise tentang perempuan yang masih mengharapkan sang kekasih, sementara si tumpuan harapan sudah sibuk dengan ‘orang baru’.

Mendengar pertanyaan saya, ia mengerutkan kening, “Maksud kamu?”

You know, I wonder why human beings are obsessed with this romance-thing. Love. Relationship. Can’t we just live life by ourselves? Are we so weak that we always need someone by our side?

Woohoo, I never knew you’re a cynic.”

Because I’m not. And nothing’s personal, I sometimes just wonder. Rasanya, pencarian ini — romance, non-platonic relationship, whatever you may call it — adalah salah satu pencarian terbesar manusia dalam hidup. Salah satu pencarian paling memusingkan dan menguras energi. But why? All those attempts, what for?”

Because the need to love and being loved is human nature.

Diskusi kami kemudian jadi tak terkendali. Saya protes tentang betapa sederhananya jawaban Mr. Dutchie. Lalu bertanya-tanya seberapa besar akibat yang bisa ditimbulkan human nature yang satu ini: apakah kebutuhan mencintai dan dicintai adalah hal yang akhirnya membentuk konstruksi sosial tentang romance dan pernikahan? Semacam alasan dasar di balik konsep untuk melegitimasikan cinta? Atau justru sebaliknya, konstruksi sosial-lah yang melahirkan kebutuhan akan romance? Membuat kita merasa bahwa yang normal adalah ‘mencintai’ dan ‘dicintai’? Semacam akibat dari implantasi stempel ‘kelengkapan’ sebagai manusia?

Tidak cukup sampai di situ, diskusi kami makin melebar. Kami mulai menganalisis tentang bagaimana konsep cinta — romance lebih tepatnya — di-idealisasikan, diagung-agungkan. Overrated. Lalu dijual oleh industri. Pun pencitraan yang dibentuk media sama sekali tidak membantu. Cenderung menyesatkan, malah.

Ironis, bisik saya waktu itu, salah satu pencarian hakiki sebagai manusia dimanipulasi atas nama kapitalisme.

Okay.” saya kembali membuka mulut setelah piring saya tandas. “Sekarang, kembali ke pertanyaan awal. Let’s make it simpler, easier and more personal. Take you as an example. Can’t you just live your life alone, without any lovey-dovey thing whatsoever?”

Hey, I’ve been there and I was doing fine.

So, why did you step out? You, a young man born and living in a free society. Nggak ada tekanan sosial, nggak ada konstruksi yang mengharuskan kamu punya steady relationship. So, why a relationship? Why add the complication? What are you looking for?”

Rupanya, ia tak perlu berpikir lama. “Happiness. Just a little bit more of happiness, baby.

Saya termangu. Sesederhana itukah?
A little bit more of happiness.

Saya belum puas. Pertanyaan saya belum sepenuhnya terjawab.
Namun untuk saat ini, I think I can live with that.

So,” lanjut saya beberapa saat kemudian, “just a little bit, dear?”

Mata kami bertemu. Ia tersenyum. Mata cokelatnya berpendar. Manis.

Seketika, kami menyadari: a little bit is an understatement.

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>