Yang Terjadi Setahun Terakhir

Bayangkan, tiba-tiba setahun berlalu begitu saja.

Untungnya, ‘kewajiban’ yang harus saya tunaikan (halaahh, bahasanya) telah terselesaikan: bangku kuliah saya tinggalkan dengan resmi — alias lulus dengan baik dan benar.

Banyak yang nanya soal topik tesis saya. Ah, nggak susah, kok: soal ciri-ciri poskolonialisme yang muncul dalam karya sastra dan pencitraan perempuan. Intinya, saya cuma mendeskripsikan konsep poskolonialisme, lalu menyortir ciri-cirinya dalam karya sastra dan menerapkan analisisnya di tiga karya Lin Scholte — salah seorang penulis sastra Hindia-Belanda generasi kedua. Pencitraan perempuan juga saya angkat, karena dua hal mendasar (selain karena awalnya saya memang NGOTOT mau nulis soal perempuan): poskolonialisme punya benang merah yang jelas dengan konsep gender dan feminisme. Alasan kedua: penokohan para perempuan dalam karya-karya Scholte sangat kuat, dan walaupun ceritanya ber-setting di zaman kolonial, pencitraan yang dibentuk Scholte sangat poskolonial. Jadilah semuanya seperti potongan puzzle yang saling melengkapi.

Yang saya bangga, judul tesis saya keren, deh — Een postkoloniale analyse van het werk van Lin Scholte:de hybride wereld van de tangsi en de sterke Indonesische vrouwen. Haha.. padahal mah, untuk ukuran tesis, isinya sederhana banget. Oh, well… Yang penting gaya. Iya, nggak?! Hahaha..

Yang nyebelin, di sini nggak ada wisuda gede-gedean ala Balairung UI. Nggak ada paduan suara yang dikomandani Pak D-boy (iyaa, Pak Dibyo! Boleh dong, punya panggilan sayang buat beliau?!). Nggak ada rusuh-rusuh pake kebaya dan konde-an jam enam pagi. Nggak seru! Di sini, sidang dan wisuda diadakan per individu. Tanpa seremoni besar-besaran. Tanpa toga dan euforia bersama teman-teman seangkatan.

Sidang dan wisuda saya berlalu dengan sangat sederhana. Walau tetap menyenangkan. Saya boleh mengundang maksimal dua puluh orang — karena ruang wisuda yang saya dapat relatif kecil. Setengah jam awal dihabiskan untuk pembabatan intelektual (halaahh, najis abiss) alias sidang tesis. Menegangkan, tapi nggak susah, kok. Syukurlah. Kedua penguji saya baik hati sekali. Mereka cuma mempertanyakan hal-hal kecil — ehm, maksud saya, hal-hal hiperbolis — di tesis saya. Setengah jam berikutnya, para undangan boleh masuk ke ruangan. Profesor Praamstra — Pembimbing Akademis sekaligus Pembimbing Tesis saya yang baik hati — lalu memberikan semacam pidato pelepasan yang isinya kesan-pesan beliau tentang saya, baik secara akademis maupun pribadi. Dan sungguh, itu pidato terindah yang pernah saya dengar seumur hidup. Ia, dengan lugas, melabeli saya dengan predikat yang membuat saya tersanjung. Dengan sederhana ia membuat pipi saya merah dengan pujian dan memberikan saya kepercayaan dan keyakinan diri yang kadang saya butuhkan. Saya masih menyimpan video pidatonya. Saya yakin, akan ada saat-saat ketika saya perlu mendengarnya kembali. Hanya untuk menyakinkan diri bahwa saya nggak bego-bego amat.  :p

Oh iya, yang khas dari Universitas Leiden adalah tradisi membubuhkan tandatangan di Zweetkamertje bagi alumni. Jadi, aturan mainnya: setelah menyelesaikan studi di Universitas Leiden, Anda berhak membubuhkan tandatangan atau nama di dinding sebuah ruangan yang namanya Zweetkamertje (terjemahan etimologis: ruangan keringat). Dinding ruangan ini, tentu saja, dipenuhi tandatangan alumni Leiden yang berjubel dan tumpang tindih. Biasanya, alumni berlomba-lomba buat nulis nama sedekat mungkin dengan Beatrix dan beberapa anggota kerajaan lain yang juga alumni Leiden. (Curangnya, mentang-mentang keluarga kerajaan, tandatangan mereka dibingkai, Bo!). Saya mah, bodo amat. Nggak penting, ah, Beatrix, yang penting saya dapet tempat yang lumayan lega buat nulis nama saya. Haha.. Akhirnya, saya milih tempat di atas pemanas ruangan. Dan berdoa, semoga ‘Feba Sukmana’ yang saya tulis di situ nggak ke mana-mana.

Selain kuliah, tesis dan kelulusan, tak banyak yang terjadi dalam setahun ini. Walaupun memang banyak yang berubah. (Nah, loh… pikir sendiri, deh! Haha..). Saya masih tinggal di Cruquiuslaan bareng si kembar yang kecanduan game dan tergila-gila dengan apa pun yang baunya Asia. Saya masih sesekali berkumpul dengan teman-teman sebangsa dan setanah air, juga dengan tiga teman seangkatan: Alma, si seksi Italiano, Jacklyn, si Cina yang membenci segala hal tentang negerinya, dan Sarah, perempuan berkebangsaan Inggris yang anehnya nggak angkuh (haha.. stereotipe). Well, Sarah sekarang pindah ke London, jadi tinggal Alma dan Jacklyn yang tersisa.

Kalau harus jujur, perubahan terbesar yang terjadi dalam hidup saya bisa dirangkum dalam satu kata: Mr.Dutchie.

Okay, next topic.

Hahaha…

Terakhir, saya jerawatan. Banyak banget.

Nggak ngerti kenapa dan gimana cara nyembuhinnya (karena seumur idup, saya nggak pernah punya jerawat sebanyak ini). Ada yang punya saran, nggak?

Nah..nah, leganya sudah memuntahkan isi kepala di posting panjang ini.

Misi dulu, ah.

Mau browsing obat jerawat.

Hahahaha..

 

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>