Ngapain, ya!?

Banyak yang bertanya, kenapa saya masih nongkrong di Leiden sampai gini hari. Padahal kuliah saya sudah selesai sejak dua bulan lalu.

Ah, ya… setelah menimbang-nimbang dengan cermat, saya akhirnya mengikuti ‘bujuk rayu’ Jacklyn teman kuliah saya untuk memperpanjang izin tinggal setahun lagi. Mencoba mencari pekerjaan di sini. Anehnya, entah kenapa, sampai sekarang saya masih belum juga serius mengirim CV ke sana-sini. Padahal dulu, waktu masih di Jakarta, saya semangat banget nyebar-nyebar CV layaknya calon pengantin nyebar undangan. Sampai sekarang, baru dua kali saya mengirim lamaran pekerjaan (iya, keterlaluan!): yang satu ditolak (tidak mengherankan dan tidak mengejutkan), yang satu diterima (syukurlah!).

Jadi, kalau ditanya apa kegiatan saya sehari-hari, jawabannya bisa dirangkum dalam sebuah kalimat sederhana. Selain TIDUR dan NONTON TV, hidup saya terbagi ke dalam segitiga bersudut ajaib: Karya Tulis, Mengajar, dan Babysitting.

Karya Tulis yang juga belum selesai-selesai ini adalah artikel yang masih juga membahas poskolonialisme. Setelah saya menyelesaikan tesis, Profesor saya meminta saya menulis sebuah artikel: membandingkan karya-karya Lin Scholte dan karya-karya Suparto Brata. Sungguh, ini obyek penelitian menarik. Sayangnya, sampai sekarang, saya masih belum mendapat ilham dari sudut pandang mana saya akan mengangkatnya. (Duh, Profesor Praamstra dan Pak Suparto Brata.. maafkan saya, harap bersabar. Hehehe..).

Nah, lanjuutt…

Sudut yang satu lagi adalah mengajar Bahasa Indonesia. Iya, lamaran pekerjaan yang diterima itu buat ngajar. Jadi ceritanya, sekarang saya tercatat sebagai Tenaga Pengajar Freelance di ICB, pusat bahasa Universitas Leiden. Dan ‘murid-murid’ yang sedang saya tangani sekarang adalah Bapak-bapak dari Oasen, perusahaan air minum yang banyak berkontak dengan PDAM Pontianak. Saya ngajar di Gouda (mendatangi kantor Bapak-bapak itu). Yang seru, jadwal belajarnya adalah pukul DELAPAN pagi (!!!). sengaja dipilih pagi, agar tidak (terlalu) mengganggu jam kerja mereka. Bisa ditebak, pada hari-hari mengajar, pukul setengah tujuh pagi saya sudah harus rapi-jali dan bergegas ke stasiun. Duh, kalo jam setengah tujuh Indonesia, sih, kehidupan sudah dimulai. Setengah tujuh Belanda, apalagi menjelang musim dingin begini, cuma ada gelap dan dingin. *Aku rindu matahari Setu* Hehehe…

Nah, tiap Senin dan Selasa siang, sudut lain sudah menanti: babysitting. Nggak baby-baby banget, sih. Resminya, saya ngejagain tiga bersaudara: Floor (6 th), Rein (4 th), dan Wende (1 th). Tapi Wende dititip di crèche — penitipan bayi — dan kami (saya, Floor, dan Rein) cuma harus menjemputnya, setengah jam sebelum sang ibu (atau ayah) pulang. Mereka ngegemesin banget, deh. Nggak nakal pula. We have a lot of fun together.

Ah, ah.. nanti saya bakal cerita banyak deh, soal mereka.

Sekarang, bobo dulu yaaaa… besok ngajar, nihhh. Hehehe…

 

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>