Batu Nisan dan Film Heartbreakers

Jam tiga pagi buta, ponsel saya tiba-tiba bergetar. SMS. Dari Bapak. Isinya memang bukan hal superpenting, namun cukup membuat saya menarik napas panjang. Bapak cuma memberitahu kalau Ipul baru saja berkunjung ke rumah. Bawa Bika Ambon, tambah Bapak di SMS-nya, hanya untuk menggoda saya yang cepat ngiler kalau dengar nama makanan.

Ya, kedatangan Ipul bukan hal superistimewa. Teman-teman baik saya memang masih sering datang ke rumah, walau — sementara ini — batang hidung saya tidak bisa mereka temukan di sana. Mungkin mereka sengaja mengunjungi orangtua saya, mengingat sebagian besar teman baik saya juga ‘nge-pren’ dengan Bapak dan Ibu. Atau kadang saya pikir, mungkin teman-teman saya menganggap saya mati suri. Hilang sementara dari gegap-gempita persahabatan kami. Dan rumah orangtua saya adalah nisan tempat mereka bisa datang dan mengenang saya. Mengenang tawa ngakak kami di ruang tamu, atau di teras belakang. Mengenang tukang asinan yang biasa saya panggil jika mereka berkunjung dan kebetulan si Abang lewat. Mengenang teriakan dan celaan kurang ajar saya — yang biasanya disusul omelan Ibu tentang betapa mulut saya lancang. Mengenang persahabatan kami yang hampir bisa dibilang stagnan sejenak.

Ah, kedatangan seorang teman baik ke rumah orangtua saya memang bukan hal yang superistimewa. Namun berita kali ini jadi sangat mengena, karena sejak kemarin sore Ipul lalu-lalang di pikiran saya. Saya merindukannya. Bahkan, tiga jam sebelum Bapak meng-SMS, saya sempat mengetik sebuah reminder kecil di ponsel, hal yang esok HARUS saya lakukan: menyewa DVD Heartbreakers-nya Jennifer Love Hewitt. Film yang selamanya akan mengingatkan saya akan Ipul. Dengan alasan tragis dan dramatis: film itu hanya sempat kami tonton sampai menit kelima. Menit keenam saya sudah diseret Ipul keluar bioskop, karena seorang perempuan yang ditaksirnya minta dijemput. Dan esok, saya ingin merayakan kerinduan saya padanya. Mengenangnya. Siapa tahu, saya malah akan terisak-isak di depan akting Love Hewitt, dalam film yang katanya ber-genre komedi itu.

Ipul. Ia salah satu makhluk istimewa dalam hidup saya. Satu-satunya lelaki yang tak malu sesunggukan, layaknya bocah empat tahun, di depan saya. Seseorang yang sama sekali tak jengah membuka semua aib hidupnya kepada saya, hampir tanpa kecuali. Dan hari ini, ia datang ke rumah. Mengobrol panjang lebar dengan Bapak. Katanya, hari Senin minggu depan ia akan mulai bertugas di Rumah Sakit Polri. Ah, ia akan selamanya jadi dokter kesayangan saya.

Ipul mengunjungi nisan saya. Tepat ketika saya merindukannya. Lihatlah betapa kami saling terhubung.

 

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>