Belajar Bahasa Dangdut

Mr. Dutchie lagi semangat belajar Bahasa Indonesia, nih.

Dan akhirnya, setelah mengobral janji-janji palsu bahwa saya bersedia jadi guru pribadi, kami sepakat untuk benar-benar memulai les privat Bahasa Indonesia akhir pekan ini. Cihuy-nya — mungkin karena bosen denger saya mengobral janji tanpa bukti — Mr. Dutchie sudah aktif memulai sendiri kegiatan belajarnya sejak beberapa minggu lalu: mulai dari BELI BUKU TULIS BARU macam anak SD di awal tahun ajaran, sampai rajin browsing dan membaca teori gramatika. Dan, tentu saja, siapa lagi yang jadi guru kalau bukan website-website e-learning. Pokoknya CBSA* banget, deh!

Malam ini, di tengah percakapan telepon Leiden-Rotterdam, ia tiba-tiba bertanya, “Babe… bedanya me- dan ber- apa, sih?” Nah, lo! Dan persis seperti dugaan saya, di seberang sana Mr. Dutchie sedang sibuk multitasking: mendengarkan ocehan saya sembari memelototi pelajaran Bahasa Indonesia di layar komputernya.

Dan terjadilah. Mimpi tinggal mimpi. Bulan madu di awan biru. Bagai petir di siang hari. (Apa sihh inii!? ) Percakapan berubah jadi les bahasa jarak jauh. Imbuhan, kata sifat, ejaan, pengucapan, semua pertanyaannya saya coba jawab sesederhana mungkin. Dan, percaya atau tidak, dengan kosakata Mr. Dutchie yang masih terbatas dan sederhana, kami bahkan mencoba memulai percakapan kecil tanpa makna yang sama sekali tak bermutu:

Mr. Dutchie: Saya bukan orang Indonesia.

Saya: Saya bukan orang Belanda.

Mr. Dutchie: Kamu orang gila.

Saya: KAWRAAANGGG AJJYAAAARRRRRR!!

dan

Mr. Dutchie: Apa kamu guru?

Saya: Iya, saya guru. Kamu murid.

Mr. Dutchie: Bukan, saya maha guru.**

Saya: #&$^**##^)^&%$

lalu

Mr. Dutchie: saya datang dari Belanda

Saya: saya datang dari Indonesia

Mr. Dutchie: Oh, that’s why kamu seperti rendang.

Saya: IKAN ASIN, NANTANGIN BERANTEM LO???

Belum cukup, Sodarah! Keadaan makin memburuk ketika Mr. Dutchie — dengan suara rendah super menggoda — tiba-tiba bilang, “Haiiii, ceweeek!”

Dan, percayalah, wahai manusia! Mendengar suara keju melafalkan cewek dengan nada mesum penuh gauwdaan syaiton adalah alasan kuat untuk menyemburkan tawa membahana. Ternyata, oh, ternyata.. Mr. Dutchie nyasar ke website bahasa gaul. Hebatnya, tanpa mempedulikan tawa ngakak saya, ia maju pantang mundur. Dengan semangat ’45 dilafalkannya contoh demi contoh kalimat berbahasa gaul, macam:

Cewek-cewek di sini oke punya.

Makanya gue cari cewek di Bali.

Elo katro.

sampai:

Kok belum nikah sudah kawin?

Saya di seberang sini cuma bisa lemas ngakak sambil dalam hati memaki-maki yang punya website: Ayam Kecap!!! Gimana gue nerangin kalimat begituaaannn!!???

Tak lama, dengan nada celamitan Mr. Dutchie beraksi lagi:

Sayang, aku naksir kamu. Apa kamu mau jadi pacarku?

*guling-guling sampai kebelet kencing*

Beberapa puluh menit berikutnya, setelah percakapan berubah jadi agak normal, kami sepakat mengakhiri sesi bercinta-lewat-telepon malam ini.

Dan setelah serangkaian kata-kata manis yang hampir tanpa akhir, Mr. Dutchie tiba-tiba berbisik dari seberang sana, “Sayang, kamu milikku.

Aaaaauuuwwwwwwwwww!!!!!

Sungguh, demi yang satu ini, dangdut sedikit tak mengapa. Akyu rela. :p

 

———-

* CBSA: Cara Belajar Siswa Aktif. Metode ini ngetop abis di awal taon 90-an. Jadi inget zaman SD. Hahahaha..

** Setelah diselidiki lebih lanjut, ternyata Mr. Dutchie kenal kosakata Maha Guru dari website Pencak Silat, bow!!

 

 

 

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>