Rontgen TBC: Latihan Buat Suami?

Coba tanya saya soal hal-hal aneh di Belanda. Pasti saya bisa kasih banyak contoh. :-? Mulai dari cara nyuci piring orang Belanda yang bikin saya mengerutkan alis, sampai gaya supir bus Connexxion yang hobi banting stir di tikungan — mirip abang-abang Patas 82.

Tapi, dari semua keanehan di negeri berangin ini, cuma satu yang bisa bikin saya kembang-kempis-muka-merah: Tes rutin TBC. :

Jadi ceritanya, semua imigran dari luar Eropa yang baru datang ke Belanda wajib ikut tes TBC. Tes rutin ini dilakukan tiap enam bulan sekali selama satu setengah tahun pertama. Jadi, total jendral, ada tiga rontgen TBC yang harus dilalui.

Dan, sumpah, saya sebeeel banget kalo jadwal rontgen sudah di depan mata. Bukan apa-apa, sebenarnya di-rontgen seminggu sekali juga saya rela, cumaaa masalahnyaaaa… tiap kali rontgen TBC, saya harus TELANJANG DADA! Iyaaa!!! SERIUSAN!! TELANJANG DADA!!! :-SS


General Check-up di Jakarta.
Jangan harap ‘kostum’ macam ini bisa Anda dapatkan di Belanda. [-X

Satu setengah tahun lalu, pertama kali menginjakkan kaki di GGD (Gemeentelijk gezondheidsdienst, semacam puskesmas) Leiden untuk tes TBC, saya digiring ke ‘ruang buka baju’ yang terletak di sebelah ruang foto rontgen. Di sana, sama sekali tak saya temukan kain biru penutup dada yang biasanya dipakai pasien di Rumah Sakit. :-/ Bingung, saya lalu bertanya pada ibu petugas, “Bu, kok nggak ada kain penutup, ya?!”

Jawaban si ibu: “Memang apa yang harus ditutupi?”

:-O *langsungpucatpasi*Akhirnya, dua sesi tes TBC saya lewati sambil memamerkan dada di depan ibu petugas foto rontgen di GGD Leiden. #:-S

*****

Minggu lalu, surat terkutuk dari GGD datang lagi. Memberitakan jadwal foto rontgen selanjutnya: hari ini. Dan, pagi ini, sepanjang jalan menuju GGD, saya sudah ‘sorak-sorak bergembira’. :D/ Ini tes TBC terakhir saya! Yeah! Setelah hari ini, saya tak perlu lagi memamerkan buah dada setiap enam bulan sekali di depan ibu petugas berwajah asem (Mungkin gara-gara kebanyakan liat dada sesama perempuan kali, ya!?). @-)

Nyatanya, malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Telanjang-telanjang dahulu, tetap telanjang kemudian. *apa, sih!?* Saya ulang: nyatanya, wahai saudaraku!! Ibu petugas yang hobi cemberut itu hari ini absen. Sedang sakit (keracunan akibat terlalu banyak mengkonsumsi dada perempuan, mungkin!?). Dan, yang menggantikannya adalaaaahhhh… lelaki klimis berusia tiga puluhan. :((

Aaahhhh, Ayam Kecap!!! X(
Saya tiba-tiba merindukan si ibu foto rontgen. Sumpah, saya mendingan disuruh pulang ke Jakarta, trus makan nasi padang pake ikan kakap sampe kenyang, daripada disuruh telanjang dada di depan lelaki muda yang lumayan ganteng itu. Aaaarrrggghhh!!!

Namun, apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Saya sudah terlanjur duduk di ruang tunggu GGD, dan nggak mungkin tiba-tiba ngebatalin foto rontgen dengan alasan, “Hmmm, bisa ditunda nggak, Mas? Saya mau operasi payudara dulu.” ;;)

Dengan dada berdebar, lutut lemas, dan wajah pucat pasi, saya melucuti diri. Lalu keluar dari ruang ganti, berjalan ke arah mesin foto rontgen. Telanjang dada. Di depan lelaki muda yang sama sekali asing.

Lima menit kemudian, saya sudah berada di jalan pulang. Tentu saja tak lagi telanjang dada — jangan ngarep, deh. [-X Hehehe…. Masih dalam keadaan ‘shock’, saya menelepon Ibu. Menceritakan semuanya.

Di seberang sana, Ibu tenang-tenang saja. “Ahh, nggak papa. Tuh laki-laki dokter, kan?”
“Duuh, tapi kan tetep ajaa… malu,” kilah saya.
Dan ibu saya yang metal itu kembali beraksi, “Ah, kamu! Gitu aja ribut! Nggak papa, itung-itung latian. Ntar juga kalo udah punya suami, kamu telanjang-telanjang juga.”

Saya histeris.
Permisi, saya mau pingsan dulu.

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>