Bittersweet. Indeed.

Menengok kembali ke belakang, mengingat malam itu, senyum saya mengembang. Leiden sedang berpesta. Entah dalam rangka apa. Mungkin merayakan suhu 30 derajat yang jarang sekali mampir ke negeri ini.

Susah payah kami mencari tempat tenang tanpa tumpahan bir, teriakan DJ, dan kerumunan manusia. Akhirnya, di sebuah gang kecil, di tepi Breestraat, kami menemukan kafe kecil tanpa manusia mabuk.

Duduklah kami di sana. Di teras gang kecil yang kadang dilalui sepeda dan gerombolan pejalan kaki. Mengelilingi meja kecil. Merayakan kelulusan Ettore dan Jacklyn. Sekaligus melepas kepergian Jacklyn kembali ke tanah kelahirannya. Keberhasilan dan perpisahan. Itu yang kami rayakan. Bittersweet. Seperti hidup. Ah, mungkin malam itu, kami hanya merayakan hidup.

It’s not fair,” saya mulai merengek. “Kamu yang mengajak saya menetap di sini. Menyodorkan formulir imigrasi untuk izin tinggal high-skilled migrant. Sekarang, malah kamu yang pulang!”

Jacklyn hanya menatap saya dengan mata kecilnya. Mengedikkan bahu. “It’s just the way it is,” katanya. “Begitulah hidup.”

Mr. Dutchie mempererat rengkuhannya di bahu saya. Dan saya tiba-tiba merasa tidak adil terhadap Jacklyn. Ajakannya tentu saja bukan alasan satu-satunya yang membuat saya masih berada di sini. Dan saya tidak berhak menyalahkannya karena ia akhirnya memutuskan pulang. Atas permintaan kekasih dan orangtuanya.

Dan di sanalah kami. Tiga pasang kekasih yang mengelilingi meja. Alma dan Ettore. Jacklyn dan Jiang. Mr. Dutchie dan saya. Meja kecil itu dipenuhi gelas, kamera, dan hadiah-hadiah kecil. Suhu yang makin menurun kontras dengan perayaan kami yang makin hangat.

Too bad I hadn’t been born when Pope got shot, otherwise I would’ve done it myself,” tegas Ettore sembari meletakkan gelasnya di atas meja. Malam itu ia sibuk mengkritik Paus. Vatikan. Italia. Kami bersahut-sahutan menanggapi. “You are dangerous, Young man,” saya tidak bisa menahan tawa ketika Ettore kembali mengajukan gagasan ekstrim.

Topik meloncat ke sana-sini. Jacklyn dan Jiang menceritakan liburan mereka keliling Eropa. Alma menceritakan beberapa mitos Italia. Selain sibuk memaki Geert Wilders, saya penasaran dengan kasus Tibet-Cina. (Dan berusaha memahami jawaban Jiang dalam Inggris-British beraksen Cina kental. Sungguh, ketika ia bilang ‘government’ saya pikir ia bilang ‘garment’.). Mr.Dutchie mengaku tidak mengerti dengan tuntutan ‘identitas budaya’ suku Frisian di Belanda Utara. Ettore kembali mengomentari berlian-berlian Paus. Kami berpikir-pikir untuk membentuk agama baru. Dan mereka terbelalak ketika saya bilang Indonesia punya 17.000 pulau.

Denting gelas yang beradu ditingkahi gelak tawa. Kami menikmati kebersamaan malam itu. Menggoda satu-sama lain. Memimpikan liburan bersama di Indonesia (Mereka ingin ke Bali, saya ngotot bilang kalau kami juga harus ke Lombok). Mengomentari segalanya. Mengkritik banyak hal. Dan mempertanyakan lebih banyak hal lagi.

Sudah lewat tengah malam ketika akhirnya kami beranjak pergi. Dan benar-benar mengucap perpisahan pada Jacklyn dan Jiang. “Kabari kami kalau kalian menikah. Mungkin kami bisa datang,” saya dan Alma sepakat.

Really?” Mata Jacklyn berbinar. “It might be next year.” Jiang mengangguk.

Dengan mata basah, kami berpelukan.

Jika saya menengok kembali malam itu, yang saya temukan adalah enam orang twenty-something yang bermimpi mengubah dunia. Yang percaya semua harusnya bisa lebih baik. Duduk mengelilingi meja kecil, di sudut kota Leiden. Menikmati keberhasilan dan perpisahan. Merayakan hidup.

Bittersweet. Indeed.

 

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>