Regrets on Sale

Desember 2008.

Saya memekik tertahan ketika boots di kaki kiri saya menganga. Sol-nya lepas. Entah karena bosan dipakai setiap hari. Entah karena kualitasnya memang terbatas. Saya langsung membelokkan sepeda ke pusat kota, berniat langsung membeli boot baru. Musim dingin 2008 tidak main-main. Dan saya pasti tidak bisa bertahan hanya dengan sepatu biasa. Saya butuh boots hangat yang bisa membungkus betis.

Di Breestraat saya berhenti. Di depan toko sepatu yang menawarkan diskon besar-besaran. Toko itu kecil, tidak menjual sepatu bermerk. Cuma sepatu biasa yang kisaran harganya bersahabat di kantong. Ah, saya juga tidak perlu boots mahal yang super indah dan modis, pikir saya. Cukup sepatu biasa yang bisa menolong saya melewati lima derajat sampai bulan Januari atau Februari.

Saya masuk ke dalam. Seorang lelaki menyambut saya dengan senyum. Bukan orang Belanda. Tipe wajahnya Timur-Tengah. Dengan Bahasa Belanda terbata, ia bertanya apa yang saya cari. Tak lama, kami pun terlibat percakapan.

Asalnya dari Iran. Ia terpaksa melarikan diri dari negerinya karena perang. Tiga belas tahun lalu ia masuk ke Belanda lewat Rotterdam. Naik kapal. Ilegal. Di sini ia mencoba membangun hidup baru. Belajar bahasa Belanda. Bekerja dari satu tempat ke tempat lain. Dan akhirnya, ia berhasil mendapat izin tinggal resmi dan membuka toko sepatu. Ia menikmati hidupnya di negara dingin ini. “Tapi saya masih punya adik perempuan di Iran,” katanya dengan mata menerawang. “Ia sudah menikah sekarang. Saya merindukannya.”

Saya menarik napas panjang. Saya mengerti rasanya, tukas saya. Dan cerita pun beralih ke kisah saya. Ia bertanya dari mana saya berasal, di mana keluarga saya, dan mengapa saya terdampar di negara ini sendirian. Saya jawab pertanyaan sebisanya.

“Jadi sekarang kamu kerja?” tanyanya.

Deeltijd,” jawab saya. Part-time. “Di sana-sini.”

Ia penasaran.

“Dua hari saya ngajar bahasa Indonesia. Dua hari jadi babysitter. Sisanya saya tidur,” jawab saya setengah serius.

“Memang duitnya cukup?”

Nou, moet genoeg zijn,” kata saya sambil nyengir. Harus cukup.

Ia menerawang. Saya melanjutkan perburuan boots.

Tak lama, saya temukan boot yang saya perlukan. Lelaki itu sudah berdiri di meja kasir.

“Pilihan yang bagus,” sambil tersenyum ia meraih boot itu dari tangan saya. “Kebetulan ini didiskon 70%.”

Nee, je hebt het mis,” kata saya bingung. “Coba lihat stikernya. Yang ini cuma didiskon 35%.”

“Ah, saya salah nempelin stiker,” ia tak mau kalah. “Ini harusnya 70%.”

Saya masih belum bisa mencerna maksudnya ketika ia tiba-tiba berseru, “Ukuran kaki kamu 37 ya? Kebetulan!” Ia pergi dari hadapan saya, lalu kembali dengan sepasang sepatu sneaker. “Ini. Gratis buat kamu.”

Saya terbelalak. Berbagai ‘mungkin’ langsung pecah di otak saya.

Ia kasihan terhadap saya. Mungkin saya mengingatkannya akan adik perempuan semata wayangnya di Iran. Mungkin saya mengingatkannya akan dirinya sendiri tiga belas tahun lalu. Ketika ia baru tiba di negeri asing. Tanpa keluarga. Tanpa teman. Tanpa uang. Sendirian. Atau mungkin ia cuma kasihan melihat een klein meisje yang tiba-tiba muncul di tokonya dengan boot mangap sebelah.

Saya ingin menangis. Untuk pertama kalinya dalam hidup, seseorang mengasihani saya. Saya dikasihani. Rasanya aneh. Sungguh, waktu saya ingin sekali bilang kalau saya baik-baik saja. Saya tidak perlu dikasihani. Tapi lidah saya tak mampu meluncurkan sepotong kata pun.

“Jadi semuanya 15 euro,” katanya dari balik meja.

Saya terkejut. Mana bisa saya cuma bayar lima belas euro untuk boots dan sneaker itu?

Kami lalu terlibat ‘diskusi.’ Saya kekeuh bilang kalau boot itu hanya didiskon 35%. Ia ngotot 70% – sekaligus sneaker gratis. Akhirnya kami sampai pada titik tengah: saya tetap bayar 15 euro, tapi tanpa sneaker.

“Sering-sering datang ke sini. Kalau kamu butuh sepatu, kamu harus datang ke sini,” paksanya. Saya mengangguk. “Kalau kamu butuh uang, kamu juga bisa pinjam dari saya,” katanya lagi.

Saya cuma tersenyum. Sungguh, rasanya aneh. Dikasihani adalah perasaan paling menyedihkan yang pernah saya rasakan.

Zeg,” ia masih melanjutkan obrolan ketika saya selesai membayar dan beranjak pergi. “Kamu ngajar bahasa Indonesia, metodenya gimana? Gampang nggak bahasa Indonesia?”

Saya menjawab sekenanya, lalu menambahkan. “Besok-besok saya akan main lagi ke sini, walaupun nggak butuh sepatu.”

Ia mengangguk senang.

Dan saya langsung ambil langkah seribu sebelum ia tiba-tiba berminat belajar bahasa Indonesia dan ingin jadi murid saya.

*****

Musim dingin pergi. Salju digantikan bunga-bunga yang bermekaran. Lalu matahari mulai sering muncul. Dan suhu menanjak sampai hampir tiga puluh derajat.

Boots lima belas euro itu menyelamatkan saya. Musim dingin berhasil saya lewati tanpa banyak keluhan. Jemari dan telapak kaki saya hangat. Angin kencang pun tak mampu menembus boots yang erat memeluk betis saya.

Dan sampai musim panas tiba, saya belum juga memenuhi janji. Sungguh, saya ingin kembali singgah ke toko itu. Sekadar bertanya apa kabar. Dan menceritakan kalau saya mulai bekerja full-time, dua bulan setelah pertemuan kami. Dan saya juga akan liburan ke Jakarta bulan September mendatang. Ia tidak perlu lagi mengasihani saya. Saya baik-baik saja.

Tapi tiap kali melewati toko itu, saya selalu urung berhenti. Banyak hal saya jadikan alasan. Mulai dari ‘sedang terburu-buru,’ ‘tokonya ramai. Ia pasti sibuk,’ sampai ‘baru selesai belanja dan daging yang saya beli harus segera masuk kulkas.’

Pagi ini, keputusan saya bulat sudah. Saya akan mengunjunginya. Bukan hanya demi janji yang terlontar, tapi juga karena saya ingin tahu kabarnya.

Saya keluarkan sepeda. Melaju menuju Breestraat. Sudah sekitar dua minggu saya tidak melewati jalan itu. Kemalasan membuat Hoogvliet – supermarket tempat saya biasa belanja – di Breestraat tergantikan oleh Spar – supermarket kecil yang letaknya cuma 200 meter dari tempat tinggal saya.

Tepat di depan toko itu, saya berhenti. Beberapa menit saya cuma mematung.

Sekarang saya tahu, dikasihani bukan perasaan paling menyedihkan di dunia. Ada yang lebih buruk: penyesalan.

Saya masih mematung di depan toko. Etalase-nya bersih. Tak sepasang sepatu pun tampak. Di dalam gelap. Pintunya tergembok. Di kaca etalase sebuah stiker tertempel. Kali ini bukan angka diskon. Tapi logo dan nomor telepon makelar.

“Sudah sepuluh hari toko itu ditutup,” kata pelayan toko sebelah ketika saya bertanya. “Kalau tidak salah, pindah ke Rotterdam.”

Saya menggigit bibir. Dan sekali lagi mencatat dalam-dalam: ‘menyesal’ adalah perasaan paling menyedihkan.

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>