Being Random

Pagi tadi, antara stasiun kereta dan kantor, seorang rekan kerja menyejajari langkah saya.

Percakapan kami tentu saja berkisar di angka basa-basi. Lalu saya tergelitik bertanya, mengapa dulu ia memutuskan mengambil jurusan kuliah yang ‘tidak biasa.’ Ia tergelak. “Karena seseorang yang saya temui di tengah jalan,” katanya. Perkenalan tak disengaja menggiringnya ke dunia yang sama sekali baru.

Ia balik bertanya, apa yang menyebabkan saya terdampar di sini. Entah, jawab saya.

 Kadang, ketika memilih sesuatu, kita sama sekali tak punya alasan jelas. Tak ada yang logis. (saya mulai meracau.) Namun ketika orang lain mempertanyakannya, kita jadi mencari-cari alasan. Mereka-reka latar belakang. Mengorek-ngorek pembenaran.

“Ya, kadang hal-hal kecil menggiring kita ke keputusan besar,” tambahnya. Saya mengiyakan. Kalau dipikir-pikir, romantis juga konsepnya, imbuh saya lagi. Kami tertawa.

So, now you know how random my life is,” kata saya di akhir kebersamaan kami.

Oh, don’t worry, so is everyone’s life.”

Ia benar.
Hidup mungkin penuh detail acak. Seperti mozaik. Mirip puzzle. Dan pilihan kita cuma satu: menyusun kepingan-kepingannya agar saling menggenapi. :)

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>