Being Veiled

Di Amsterdam, ada seorang gadis Turki menanggalkan jilbab. Hal biasa, mungkin. Yang beda, belum lama ini ia membuat page di Facebook untuk rekan-rekan muslimah yang juga telah atau berencana melepaskan jilbab: I took off my Hijab.

Si cantik Semra membuka jilbab selepas meninggalkan desa Barneveld dan komunitas muslim yang mengelilinginya. Ia keluar dari comfort zone-nya. Dan saya paham sepaham-pahamnya kalau ia lalu mulai ‘mencari’: mempertanyakan segala yang diyakininya. Menganalisis apa yang selama ini dipelajarinya, diamininya. Dan membanding-bandingkannya dengan dunia luar.

Terjadilah. Relativitas menunjukkan wajah. Si cantik melepas jilbab karena “tidak sesuai lagi dengan bagaimana ia ingin menjalani islam.” Pun – katanya – tidak perlu pakai jilbab untuk jadi muslimah yang baik.

Mau tidak mau, saya tergelitik untuk bertanya-tanya. Mengambil keputusan besar macam itu, tidakkah Semra sedikit saja – setidaknya di alam bawahsadarnya – merasa ‘bersalah’? Islam dan jilbab sudah terimplantasi sangat jauh dalam dirinya. Jilbab – dulu, tentu saja – adalah bagian dari identitasnya. Dan islam, bisa jadi, adalah satu-satunya kebenaran yang ia kenal.

Tidakkah ia sekarang merasa seperti murid yang bolos sekolah? Antusias karena bisa mengisi hari sesukanya sekaligus resah karena ‘harusnya’ ia duduk di bangku kelas?

Tidakkah ia merasa ‘telanjang’ dan butuh pelindung?

Lalu dibuatnyalah page I took off my Hijab.
Jujur saja, saya sempat berpikir kalau page ini cuma ‘jilbab’ baru si cantik. Pengganti bangku kelas yang ditinggalkannya. Tempatnya mencari pembenaran kebenaran baru dan dukungan atas keputusannya. Diam-diam, Semra mungkin masih membutuhkan ‘kebenaran kolektif.’

(Ah, jangan mengerutkan kening begitu. Jangan dianggap serius. Saya cuma tertarik bertanya-tanya, berandai-andai dan sok menganalisis keadaan psikologisnya saja. Habis dia cantik, sih! *loh?*) :D

Katanya lagi, page ini ditujukan untuk perempuan yang “stepped out of their traditional social environment and chose to live their own lives.”

Ini juga menggelitik saya. Sama seperti kebanyakan orang, Semra mengidentikkan jilbab dengan lingkungan sosial yang konservatif. Seolah jilbab selalu berbanding terbalik dengan keberdayaan (empowerment) perempuan. Semra kembali menyematkan label ‘terbelakang’ pada jilbab.

Bagi Semra, menanggalkan jilbab mungkin jadi simbol keberdayaan, cermin bahwa ia mampu (dan mau) memerdekakan diri. Berani membuat pilihan untuk diri sendiri. Namun bagi perempuan lain, mengenakan jilbab bisa saja malah jadi simbol emansipasi, pilihan pribadi yang melegakan dan membahagiakan.

Saya tahu, page ini tidak bertujuan menyuruh para muslimah melepas jilbab. “Saya mau memberi dukungan pada perempuan yang juga mengambil keputusan serupa,” kata Semra. Baiklah, saling mendukung. Mungkin dengan begitu, ‘rasa bersalah’ mereka (yang saya reka-reka tadi) jadi berkurang. Mungkin komunitas ini bisa jadi comfort zone baru buat mereka. Tapi, lalu apa? Secara politis, saya tidak menemukan tujuan jangka panjang kelompok ini.

Tapi setelah berpikir-pikir lagi, walau menyayangkan sudut pandangnya soal jilbab, saya tak bisa menghakiminya begitu. Mungkin di komunitas muslim tertutup dari mana Semra berasal, gerakan kolektif macam ini dibutuhkan.

Di kalangan muslim konservatif di Belanda, tiap tahunnya sekitar 14 perempuan dibunuh dan lebih dari 450 jadi korban kekerasan karena dianggap menodai kehormatan keluarga. Dan semua orang tahu, melepas jilbab adalah noda besar.

Mungkin dengan page ini, muslimah-muslimah (malang) bisa menengok kemungkinan lain. Mengetahui, banyak rekan senasib di luar sana.

Lagipula, jika menengok diri sendiri, saya harus mengakui kalau page ini lebih berguna ketimbang page haha-hihi KBBI (Keluarga Bulu Bahagia Indonesia) yang saya buat bersama teman-teman kuliah. :)

Bookmark the permalink.

One Comment

  1. Menarik… jadi penasaran juga dengan Semra! :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>