Be My Valentine

Saya tidak pernah merayakan Valentine’s day. Bukan karena sadar bahwa hari kasih sayang ini kadang terasa berlebihan. Atau karena perayaan Valentine identik dengan taktik kapitalisme: mencuci otak peradaban, menancapkan ilusi – kalau tidak bisa dibilang tradisi – baru, dan menghalalkan bendera konsumerisme.

Saya setuju, seperti perayaan-perayaan lain, Valentine’s day adalah ajang kapitalisme beraksi (untuk hati-hati tidak menyebut tiap perayaan adalah ciptaan para kapitalis).

Walau kadang sinis, rasanya bukan itu alasan saya tak merayakan hari Valentine. Continue reading