Be My Valentine

Saya tidak pernah merayakan Valentine’s day. Bukan karena sadar bahwa hari kasih sayang ini kadang terasa berlebihan. Atau karena perayaan Valentine identik dengan taktik kapitalisme: mencuci otak peradaban, menancapkan ilusi – kalau tidak bisa dibilang tradisi – baru, dan menghalalkan bendera konsumerisme.

Saya setuju, seperti perayaan-perayaan lain, Valentine’s day adalah ajang kapitalisme beraksi (untuk hati-hati tidak menyebut tiap perayaan adalah ciptaan para kapitalis).

Walau kadang sinis, rasanya bukan itu alasan saya tak merayakan hari Valentine.

Sungguh, saya juga tidak tahu lagi mengapa. Seingat saya, saya hanya cenderung acuh tak acuh. Menikmati dekorasi merah jambu di pertokoan kala Februari tiba (dan pura-pura menganggap mereka sedang menyambut ulang tahun saya) – tanpa benar-benar ambil pusing untuk serius menilik etalase. Ikut bersenandung lagu cinta yang diputar di sana-sini (dan pura-pura menganggap mereka mempersembahkannya untuk ulang tahun saya) – tanpa benar-benar menyimak halo-halo penuh rasa di balik liriknya.

Belanda, tempat saya bermukim, termasuk negara yang tidak terlalu heboh menyambut Valentine’s day. Jelas kalah telak kalau disandingkan dengan Indonesia tercinta. Penduduk Belanda juga tidak bisa dibilang romantis. Sisa-sisa kalvinisme masih melekat erat dalam keseharian mereka: sederhana, seadanya, seperlunya.

Awal Valentine’s day dirayakan di sini pun bukan karena alasan dramatis. Akhir tahun 40-an bisnis bunga anjlok. Dicarilah strategi pemasaran yang tepat. Dan lagi-lagi, budaya Amerika diimpor. Valentine’s day diperkenalkan untuk menyehatkan jual-beli bunga.

Dan tibalah perayaan itu. 14 Februari. Valentine’s day yang tak pernah saya anggap serius.
Nyatanya hari itu, mau tidak mau ketidakmautahuan saya luluh juga. Manusia-manusia depresif, yang itu-itu saja, yang biasa saya temui di bangku-bangku kereta, terlihat lebih cerah. Seolah semesta baru saja menyuntikkan energi ratusan watt ke wajah mereka. Matahari jadi seolah muncul lebih dini. Dan pemandangan muram sepanjang perjalanan ke kantor mendadak terasa lebih ringan.

Sejak pagi, semua orang berbinar-binar. Mereka yang biasa terlihat serius dan tak peduli, kini menyempatkan diri senyum kanan-kiri. Penjaga kios kopi tempat saya kadang memesan cappuccino memuji anting-anting peri yang bergelantungan di telinga saya. Padahal biasanya, bibir manyunnya tak bergerak ketika saya menodai jarak pandangnya.

Belanda yang dingin dan kaku tiba-tiba terasa lebih hangat.

Seharian, di depan saya, puluhan – ratusan? – orang lalu-lalang membawa bunga. Sekuntum mawar. Buket kombinasi krisan-tulip. Atau seikat bunga warna-warni yang entah apa namanya.

Keacuhan saya meleleh. Saya melihat banyak cinta. Sinisme yang mulai menepuk bahu, berhasil saya tepis hari itu. Lihatlah mereka, kata saya dalam hati, bersedia mempermalukan diri dengan menenteng-nenteng sekuntum mawar di depan umum. Berdesak-desakkan di kereta sembari hati-hati menjaga agar rangkaian bunga tetap sempurna. Sebagian rela dianggap gila, memandang-mandangi kartu di genggaman tanpa mampu menahan senyum. Apa lagi namanya kalau bukan cinta? saya bertanya-tanya.

Sungguh, hari itu hati saya menghangat. Begitu saja. Tanpa perlu membagi kisah dengan saya, manusia-manusia itu menunjukkan pada saya bahwa Valentine’s day - ternyata – masih berguna. Masih punya makna. Bahwa sudahlah jangan melulu menilai dengan takaran hitam atau putih. Bahwa sudahlah jangan terlalu sibuk dengan teori komplot dan menganggap modernitas membunuh nurani. Bahwa selalu ada sisi lain dari sebuah perayaan yang sekapitalis apa pun. Sekonyol apa pun.

Dan ketika malamnya terdengar ketukan di pintu, tahulah saya bahwa hari itu akan berakhir sempurna.

R menyambut saya di balik pintu. Melihat bunga di genggamannya, tahulah saya, ia telah menenteng-nentengnya dari satu halte ke halte lain. Dengan hati-hati. Agar kuntumnya tak rusak. Tahulah saya bahwa ia rela terlihat konyol. Dengan bodohnya memilih-milih tangkai yang paling sempurna di tukang bunga. Ia mungkin senyum-senyum sendiri sepanjang perjalanan. Tahulah saya bahwa ia tak keberatan dunia tahu: ia melakukannya untuk saya.

Dengan senyum lebar, R menyerahkan sekuntum mawar dan kartu (bertuliskan kata-kata) manis.  Saya tersipu. Pipi saya menghangat. Macam gadis 17 tahun yang baru mencecap cinta pertama.

Adegan murahan. Klise, saya tahu.
Yang saya belum tahu, yang klise dan picisan ternyata tidak selalu berarti kehilangan makna. Dan malam itu, saya biarkan diri saya larut dalam klisenya cinta. Sepenuh hati.

Valentine’s day mungkin memang ciptaan kapitalis. Memang berlebihan. Memang menghalalkan konsumerisme. Namun bagaimana pun juga, akhirnya saya menyerah. Manusia tetap butuh momentum untuk segalanya. Juga untuk menyatakan perasaan. Menuangkan cinta. Merayakan hidup.

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>