Day One

Ini memang bukan hari pertama di tahun baru. Tapi ini hari pertama rutinitas dimulai. Setelah dua minggu libur natal dan tahun baru, hari ini saya kembali dipaksa menghadapi dunia: kehidupan orang dewasa, lengkap dengan ini-itunya. *sigh*

Ketika sedang bersepeda ke Volksuniversiteit untuk ngajar hari ini, saya berkeluh-kesah kepada diri sendiri. Tentang betapa padatnya jadwal saya, betapa banyaknya yang harus saya lakukan. Dan betapa cepatnya waktu bergulir sementara napas saya makin ngos-ngosan mengejar detak-detiknya.

Lalu, sebuah suara tiba-tiba berbisik: “Siapa suruh!”

Saya termangu.

Iya, siapa suruh. Saya lalu menghitung-hitung, menimbang-nimbang. Pikiran saya menyusuri lembaran agenda yang tersimpan di tas. Menapaki jajaran aktivitas yang tertera di dalamnya: kuliah dan internship, les nyetir, ngajar, deadline tulisan dan terjemahan, bermacam janji yang harus ditepati.

Iya, siapa suruh. Tak ada yang mengharuskan saya kuliah lagi. Toh sudah lima tahun lalu saya tinggalkan bangku universitas dengan ijazah di tangan. Apa lagi yang saya cari? Apa lagi yang saya ingin? Lalu, tak ada yang memaksa saya les nyetir. Toh urusan menyetir mobil bisa saya bereskan nanti-nanti. Masalah ujian SIM – yang terkenal horornya itu – bisa saya kejar beberapa tahun lagi. Cari penyakit saja.

Ingatan saya lalu terlempar satu dekade ke belakang.

Kala itu, saya hampir meninggakan masa remaja – hampir menginjak usia dua puluhan. Entah bagaimana awalnya, saya tidak ingat, yang pasti, saya tiba-tiba menyadari satu hal: betapa singkatnya hidup seorang perempuan. Saya mereka-reka: selesai kuliah, pasti harus pengin kerja, belum lama kerja tiba-tiba sudah menginjak paruh kedua usia dua puluhan, dan (kalau saya punya pacar) pasti disuruh kawin. Terus habis kawin, kalau punya anak, harus ngurus anak. Lalu, hidup saya gimana? Kapan saya punya waktu untuk diri sendiri, untuk mimpi-mimpi pribadi?

Dan, waktu itu, saya pun panik. Lalu bersumpah akan selama mungkin hidup untuk diri sendiri. Tidak mau kawin buru-buru, kalau perlu tidak usah kawin sekalian.

Nyatanya, di sinilah saya. :)
Hampir meninggalkan usia dua puluhan. Menikah. Dan punya anak. Kadang saya berpikir sambil cengar-cengir: ironisnya hidup, ia memberikan segalanya yang saya takutkan dulu. Tapi toh, setelah dijalani, hidup saya tetap baik-baik saja. Saya tetap bisa melakukan hal-hal yang saya inginkan – iya, hal-hal yang lebih mirip cari penyakit seperti di atas itu tadi. :D

Hanya saja, satu hal masih saya yakini: hidup sangat singkat bagi seorang perempuan. Mungkin karena itulah saya seolah ingin melakukan segalanya sekaligus – karena saya tidak ingin hidup saya berakhir tanpa melakukan apa pun.

Sekali lagi, hidup, bagi seorang perempuan, amatlah singkat. Dan saya menolak mengalah kepada waktu.

Bookmark the permalink.

3 Comments

  1. Dan aku sekarang di usia dua puluhan, beberapa tahun lagi memasuki kepala 3, mulai merasakan kegalauan. Ehm. Hidup bagi perempuan memang terasa singkat ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>