Being Single

Tak sengaja, saya mendapati seorang teman ngomel-ngomel di Facebook. Ia stress menghadapi kekurangajaran orang-orang yang mempermasalahkan status lajangnya.

Saya mengerti sekali perasaannya.

Makin jauh menginjak paruh kedua usia duapuluhan, tentu saya sudah kenyang diteror pertanyaan tidak sopan: kapan menikah?

Untungnya, saya tinggal jauh dari manusia-manusia menyebalkan itu. Sungguh, kalau saya jadi teman saya itu, mungkin sudah lama saya bunuh diri karena harus terus-terusan menghadapi kenyinyiran sekitar.

Continue reading

Being Random

Pagi tadi, antara stasiun kereta dan kantor, seorang rekan kerja menyejajari langkah saya.

Percakapan kami tentu saja berkisar di angka basa-basi. Lalu saya tergelitik bertanya, mengapa dulu ia memutuskan mengambil jurusan kuliah yang ‘tidak biasa.’ Ia tergelak. “Karena seseorang yang saya temui di tengah jalan,” katanya. Perkenalan tak disengaja menggiringnya ke dunia yang sama sekali baru.

Ia balik bertanya, apa yang menyebabkan saya terdampar di sini. Entah, jawab saya.

Continue reading

Regrets on Sale

Desember 2008.

Saya memekik tertahan ketika boots di kaki kiri saya menganga. Sol-nya lepas. Entah karena bosan dipakai setiap hari. Entah karena kualitasnya memang terbatas. Saya langsung membelokkan sepeda ke pusat kota, berniat langsung membeli boot baru. Musim dingin 2008 tidak main-main. Dan saya pasti tidak bisa bertahan hanya dengan sepatu biasa. Saya butuh boots hangat yang bisa membungkus betis. Continue reading

Bittersweet. Indeed.

Menengok kembali ke belakang, mengingat malam itu, senyum saya mengembang. Leiden sedang berpesta. Entah dalam rangka apa. Mungkin merayakan suhu 30 derajat yang jarang sekali mampir ke negeri ini.

Susah payah kami mencari tempat tenang tanpa tumpahan bir, teriakan DJ, dan kerumunan manusia. Akhirnya, di sebuah gang kecil, di tepi Breestraat, kami menemukan kafe kecil tanpa manusia mabuk. Continue reading

Rontgen TBC: Latihan Buat Suami?

Coba tanya saya soal hal-hal aneh di Belanda. Pasti saya bisa kasih banyak contoh. :-? Mulai dari cara nyuci piring orang Belanda yang bikin saya mengerutkan alis, sampai gaya supir bus Connexxion yang hobi banting stir di tikungan — mirip abang-abang Patas 82.

Tapi, dari semua keanehan di negeri berangin ini, cuma satu yang bisa bikin saya kembang-kempis-muka-merah: Tes rutin TBC. : Continue reading

Belajar Bahasa Dangdut

Mr. Dutchie lagi semangat belajar Bahasa Indonesia, nih.

Dan akhirnya, setelah mengobral janji-janji palsu bahwa saya bersedia jadi guru pribadi, kami sepakat untuk benar-benar memulai les privat Bahasa Indonesia akhir pekan ini. Cihuy-nya — mungkin karena bosen denger saya mengobral janji tanpa bukti — Mr. Dutchie sudah aktif memulai sendiri kegiatan belajarnya sejak beberapa minggu lalu: mulai dari BELI BUKU TULIS BARU macam anak SD di awal tahun ajaran, sampai rajin browsing dan membaca teori gramatika. Dan, tentu saja, siapa lagi yang jadi guru kalau bukan website-website e-learning. Pokoknya CBSA* banget, deh! Continue reading

A Little Bit More of Happiness

Dan suatu hari pertanyaan itu sampai juga ke telinga Mr. Dutchie.

Give me a reason why we are so busy finding someone,” kata-kata itu meluncur begitu saja di sela brunch kami, di pojok Bagels & Beans yang selalu sibuk di Minggu pagi.

Mr. Dutchie baru saja selesai bercerita tentang rekan kerjanya. Kisah klise tentang perempuan yang masih mengharapkan sang kekasih, sementara si tumpuan harapan sudah sibuk dengan ‘orang baru’. Continue reading