365 Days – and still counting

Setahun lalu, saya memiliki segalanya.

Setidaknya, saya memiliki segalanya yang saya butuhkan. Keluarga, teman-teman, pacar, pekerjaan. Hidup saya stabil: kunci ‘keamanan sosial’ ada di genggaman saya — saya datang dari keluarga yang memenuhi kriteria ‘ideal’. Saya tidak akan dituding tidak laku, karena saya punya pacar. Saya tidak akan dianggap asosial, karena saya selalu dikelilingi teman-teman baik. Tak akan ada yang menyebut saya parasit, karena saya punya pekerjaan, punya karier — kalau Anda lebih suka menyebutnya begitu. Continue reading

Mr. P

Teman Cina saya, Jacklyn, memang pintar-pintar bodoh.

Kemarin, bodohnya yang merajalela ke permukaan.

Saya sedang asyik mojok di kantin Lipsy dengan artikel hybridity-nya Korsten dan sebotol Aquarius yang rasanya mirip Pocari Sweat ketika ia tiba-tiba muncul.

Mukanya bersemangat. Ia menyapa dari jarak lima meter, lalu menghampiri saya. Continue reading

Arrrgghh!

Arrgghhhhh!!!!

Kenapa sih, SEMUA ORANG di buku-buku sialan ini bilang kalo Indonesia merdeka tahun 1949??? Itu juga di bawah istilah soevereiniteitsoverdracht, alias penyerahan kekuasaan.
Ih, benci, deh! Begini nih, kalo nulis sejarah dari sudut pandang Eropa (baca: penjajah).
*kesel sendiri di tengah deadline tesis*

Tapi, tapi… di mana-mana, penulisan sejarah emang nggak pernah objektif, ya? Pasti bertujuan membangun nasionalisme dan membentuk pencitraan superior dari negara yang bersangkutan.

(Dan untuk menutup jumpa kita kali ini, sebagai seorang nasionalis, saya mau teriak kenceng-kenceng: TAON 49 DARI HONGKOOONGGGGG!!!?? Satu lagi: PENYERAHAN KEKUASAAN NENEK MOYANG LOOOO????)

Hujan (dan) Celana Dalam

Dasar negara aneh, ganti cuaca kok lebih sering dari saya ganti celana dalem!

Bayangin aja, kemarin pagi cuaca cerah ceria cenderung hangat. Jadilah saya keluar rumah dengan jaket denim kebangsaan yang tebelnya sama kayak kertas A4 80 gram. Siangan dikit, dengan harap-harap cemas saya mengintip langit kelabu dari balik perpustakaan (maksudnya, perpustakaan makanan alias kantin Lipsius. Hehehe..). Gerimis mengundang. Sorean dikit, matahari berkunjung lagi. Lega. Tragisnya, baru aja nemplok di atas sepeda, berniat melaju ke lokasi permodelan, hujan deras menyambar. Pakai petir segala. Monyong! Sampai di ARS, penampakan saya udah kayak tikus kebayakan pake gel: basah kuyup. Malamnya, ketika akhirnya kembali menjejakkan kaki di lantai tujuh Cruqland, pakaian telah kering di badan, tertiup angin sotoy-sotoy (baca: lebih kenceng dari sepoi-sepoi) sepanjang jalan. Continue reading

Dari Seorang Pemimpi Kepada Sahabatnya Yang Juga Pemimpi

Teman,

Aku baru selesai mandi.

Kamu tahu nggak, tadi di kamar mandi, ketika berdiam diri di bawah kucuran air, tiba-tiba aku teringat kisah Alkemis.

Lalu terpikir,

Mengapa ya, kita selalu didukung untuk jadi pemimpi?

Maksudku, film, novel, sampai buku-buku self-help, semua mendukung kita untuk membangun mimpi.

Padahal, pernahkah kamu menyadari, Teman: manusia tanpa mimpi menjalani hidup dengan lebih merdeka. Dan lebih sederhana.

Karena kita, para pemimpi, selalu terikat dengan impian kita. Dan terbelenggu oleh keinginan untuk menjadikannya nyata.

Ah, malangnya.