Soal Microwave

Hubungan saya sama microwave bisa dibilang semacam love-and-hate relationship yang penuh ketidakmengertian. Tunggu, sebelum Anda ikut-ikutan nggak ngerti, saya ceritain dari awal pertemuan kami deh, ya.

Pertama kali saya berurusan sama microwave, ya, di Belanda ini. Sebelumnya, saya belon pernah nyentuh benda ajaib ini. Di rumah orangtua saya, kami nggak punya microwave. Kalo mau manasin makanan ya, pake panci di atas kompor. Pokoknya, waktu saya meninggalkan kampung Setu taon 2007, belon ada satu pun penduduknya yang punya microwave. *suudzon*

Continue reading

Resolusi (Basi)

Coba-coba, udah berapa tahun lalu saya mencanangkan mau ngeblog lagi?
Yak, tepat. Dua tahun lalu.
Terus berapa postingan yang saya bikin dalam waktu dua tahun terakhir?
Yak, benar sekali. NOL BESAR.

Tahun baru kemarin, diam-diam saya berharap tahun ini bisa kembali menulis rutin. Salah satu teman saya nantangin buat ngeblog rutin, sehari satu tulisan. Aduh, Boy, maap gue nggak ikutan kalo sehari satu tulisan, berat, men. :P

Resolusi sebulan satu tulisan aja hasilnya nihil, apalagi yang tiap hari. Continue reading

Day One

Ini memang bukan hari pertama di tahun baru. Tapi ini hari pertama rutinitas dimulai. Setelah dua minggu libur natal dan tahun baru, hari ini saya kembali dipaksa menghadapi dunia: kehidupan orang dewasa, lengkap dengan ini-itunya. *sigh*

Ketika sedang bersepeda ke Volksuniversiteit untuk ngajar hari ini, saya berkeluh-kesah kepada diri sendiri. Tentang betapa padatnya jadwal saya, betapa banyaknya yang harus saya lakukan. Dan betapa cepatnya waktu bergulir sementara napas saya makin ngos-ngosan mengejar detak-detiknya.

Lalu, sebuah suara tiba-tiba berbisik: “Siapa suruh!” Continue reading

Res/volusi 2014

Yay, ngeblog lagih! *jingkrakjingkrak* *padahal yang mau ditulis juga kagak penting* :D

Udah mau tahun 2014 nih. Berasa nggak sih, makin lama kayaknya waktu makin terbirit-birit? Dulu waktu masih kecil, setahun kayaknya lamaaaa banget. Udah main di sawah, main di kali, main gundu, main petak umpet, main benteng, main bete tujuh, main gambaran, main orang-orangan, main pacar-pacaran *eh* tahunnya belum juga ganti. Giliran sekarang, kayaknya baru kemaren nonton kembang api di jembatan Erasmus, eh sekarang udah ada yang main petasan lagi. Continue reading

(A Little too) Early Birthday Gift

Beberapa bulan lagi saya ulangtahun. Dan sejak beberapa minggu lalu, saya berpikir-pikir, kado apa yang akan saya hadiahkan pada diri sendiri. Akhirnya, keputusan saya bulatlah sudah: going dot com. Itu yang saya berikan kepada diri sendiri. ;)

Akhir-akhir ini saya rindu sekali ngeblog. Blog-blog jaman dahulu (yang sebagian saya import ke sini) pun minta ampun berdebunya. Bayangkan, Juni 2011 terakhir kali saya posting! :( Continue reading

Be My Valentine

Saya tidak pernah merayakan Valentine’s day. Bukan karena sadar bahwa hari kasih sayang ini kadang terasa berlebihan. Atau karena perayaan Valentine identik dengan taktik kapitalisme: mencuci otak peradaban, menancapkan ilusi – kalau tidak bisa dibilang tradisi – baru, dan menghalalkan bendera konsumerisme.

Saya setuju, seperti perayaan-perayaan lain, Valentine’s day adalah ajang kapitalisme beraksi (untuk hati-hati tidak menyebut tiap perayaan adalah ciptaan para kapitalis).

Walau kadang sinis, rasanya bukan itu alasan saya tak merayakan hari Valentine. Continue reading

Being Veiled

Di Amsterdam, ada seorang gadis Turki menanggalkan jilbab. Hal biasa, mungkin. Yang beda, belum lama ini ia membuat page di Facebook untuk rekan-rekan muslimah yang juga telah atau berencana melepaskan jilbab: I took off my Hijab.

Si cantik Semra membuka jilbab selepas meninggalkan desa Barneveld dan komunitas muslim yang mengelilinginya. Ia keluar dari comfort zone-nya. Dan saya paham sepaham-pahamnya kalau ia lalu mulai ‘mencari’: mempertanyakan segala yang diyakininya. Menganalisis apa yang selama ini dipelajarinya, diamininya. Dan membanding-bandingkannya dengan dunia luar. Continue reading

Being Single

Tak sengaja, saya mendapati seorang teman ngomel-ngomel di Facebook. Ia stress menghadapi kekurangajaran orang-orang yang mempermasalahkan status lajangnya.

Saya mengerti sekali perasaannya.

Makin jauh menginjak paruh kedua usia duapuluhan, tentu saya sudah kenyang diteror pertanyaan tidak sopan: kapan menikah?

Untungnya, saya tinggal jauh dari manusia-manusia menyebalkan itu. Sungguh, kalau saya jadi teman saya itu, mungkin sudah lama saya bunuh diri karena harus terus-terusan menghadapi kenyinyiran sekitar.

Continue reading

Being Random

Pagi tadi, antara stasiun kereta dan kantor, seorang rekan kerja menyejajari langkah saya.

Percakapan kami tentu saja berkisar di angka basa-basi. Lalu saya tergelitik bertanya, mengapa dulu ia memutuskan mengambil jurusan kuliah yang ‘tidak biasa.’ Ia tergelak. “Karena seseorang yang saya temui di tengah jalan,” katanya. Perkenalan tak disengaja menggiringnya ke dunia yang sama sekali baru.

Ia balik bertanya, apa yang menyebabkan saya terdampar di sini. Entah, jawab saya.

Continue reading

Regrets on Sale

Desember 2008.

Saya memekik tertahan ketika boots di kaki kiri saya menganga. Sol-nya lepas. Entah karena bosan dipakai setiap hari. Entah karena kualitasnya memang terbatas. Saya langsung membelokkan sepeda ke pusat kota, berniat langsung membeli boot baru. Musim dingin 2008 tidak main-main. Dan saya pasti tidak bisa bertahan hanya dengan sepatu biasa. Saya butuh boots hangat yang bisa membungkus betis. Continue reading