Bittersweet. Indeed.

Menengok kembali ke belakang, mengingat malam itu, senyum saya mengembang. Leiden sedang berpesta. Entah dalam rangka apa. Mungkin merayakan suhu 30 derajat yang jarang sekali mampir ke negeri ini.

Susah payah kami mencari tempat tenang tanpa tumpahan bir, teriakan DJ, dan kerumunan manusia. Akhirnya, di sebuah gang kecil, di tepi Breestraat, kami menemukan kafe kecil tanpa manusia mabuk. Continue reading

Rontgen TBC: Latihan Buat Suami?

Coba tanya saya soal hal-hal aneh di Belanda. Pasti saya bisa kasih banyak contoh. :-? Mulai dari cara nyuci piring orang Belanda yang bikin saya mengerutkan alis, sampai gaya supir bus Connexxion yang hobi banting stir di tikungan — mirip abang-abang Patas 82.

Tapi, dari semua keanehan di negeri berangin ini, cuma satu yang bisa bikin saya kembang-kempis-muka-merah: Tes rutin TBC. : Continue reading

Belajar Bahasa Dangdut

Mr. Dutchie lagi semangat belajar Bahasa Indonesia, nih.

Dan akhirnya, setelah mengobral janji-janji palsu bahwa saya bersedia jadi guru pribadi, kami sepakat untuk benar-benar memulai les privat Bahasa Indonesia akhir pekan ini. Cihuy-nya — mungkin karena bosen denger saya mengobral janji tanpa bukti — Mr. Dutchie sudah aktif memulai sendiri kegiatan belajarnya sejak beberapa minggu lalu: mulai dari BELI BUKU TULIS BARU macam anak SD di awal tahun ajaran, sampai rajin browsing dan membaca teori gramatika. Dan, tentu saja, siapa lagi yang jadi guru kalau bukan website-website e-learning. Pokoknya CBSA* banget, deh! Continue reading

A Little Bit More of Happiness

Dan suatu hari pertanyaan itu sampai juga ke telinga Mr. Dutchie.

Give me a reason why we are so busy finding someone,” kata-kata itu meluncur begitu saja di sela brunch kami, di pojok Bagels & Beans yang selalu sibuk di Minggu pagi.

Mr. Dutchie baru saja selesai bercerita tentang rekan kerjanya. Kisah klise tentang perempuan yang masih mengharapkan sang kekasih, sementara si tumpuan harapan sudah sibuk dengan ‘orang baru’. Continue reading

365 Days – and still counting

Setahun lalu, saya memiliki segalanya.

Setidaknya, saya memiliki segalanya yang saya butuhkan. Keluarga, teman-teman, pacar, pekerjaan. Hidup saya stabil: kunci ‘keamanan sosial’ ada di genggaman saya — saya datang dari keluarga yang memenuhi kriteria ‘ideal’. Saya tidak akan dituding tidak laku, karena saya punya pacar. Saya tidak akan dianggap asosial, karena saya selalu dikelilingi teman-teman baik. Tak akan ada yang menyebut saya parasit, karena saya punya pekerjaan, punya karier — kalau Anda lebih suka menyebutnya begitu. Continue reading